Belajar dengan Denmark: Pengalaman Pertama Menonton Film Dokumenter

0
401

REVIENSMEDIA.COM, DENMARK – Kala itu, di awal November 2012 aku berada di Copenhagen, Denmark. Ini kali pertama bagiku menginjakkan kaki di Eropa. Setiap hari aku selalu bangun siang, yaitu sekitar jam delapan pagi waktu Denmark. Aku bilang siang, karena biasanya, di Indonesia jam segitu matahari sudah mulai meninggi, tapi di sini tidak. Setiap bangun tidur aku selalu melihat jendela. Tentu suasana masih nampak gelap, seperti halnya di Indonesia pada pukul setengah lima pagi.

Aku berangkat dari Indonesia bersama empat orang lainnya yang dapat undangan menghadiri perhelatan Copenhagen International Documentary Film Festival (CPH:DOX). CPH:DOX merupakan festival film dokumenter tahunan yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Aku sendiri tidak menyangka dapat menghadiri event tahunan berkelas internasioanal ini. Ada rasa bangga dapat menghadiri acara tersebut. Tapi sayang aku dan keempat teman dari Indonesia tidak hadir sejak awal, sehingga tidak berkesempatan melihat pembukaan acara tersebut.

Hampir setiap pagi, setelah sarapan kami jalan menuju lokasi-lokasi acara yang diselenggarakan panitia CPH:DOX. Namanya juga menghadiri festival film dokumenter, jadi setiap hari nonton film, ikut seminar, dan program lainnya yang ada dalam festival tersebut meskipun harus berjibaku melawan dingin. Kabarnya pada saat itu suhu udara sangat rendah, hingga dua derajat celcuis rata-rata per harinya.

Awalnya kami kesulitan untuk mengetahui lokasi atau alamat di mana film-film tersebut diputar. Padahal kami punya banyak rencana dan mendaftar nama-nama tempat diselenggaraknyascreening film dokumenter dalam festival ini. Tapi kami tidak kehabisan akal, cukup tanya kepadarecepsionist hotel, dan kami diberi selembar peta Copenhagen sebagai petunjuk jalan menuju lokasi.

Buatku menonton film di Copenhagen memang pengalaman pertama, jadi sangat menarik rasanya telah menghadiri perhelatan filem dokumenter akbar itu meskipun penyelenggaraannya nampak sederhana. Tapi yang paling penting aku mendapat banyak pengetahuan baru dari filem dan seminar yang diselenggarakan. Semuanya memberi inspirasi dan semangat untuk membuat filem dokumenter lagi, setelah sebelumnya aku pernah terlibat dalam produksi filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air dan Lentera Jawa (The Passion of Dolalak).

Dari puluhan filem yang tersajikan sepanjang festival, ada beberapa yang berhasil aku lihat secara penuh, di antaranya filem berjudul The Act of Killing karya sutradara Joshua Oppenheimer,Expedition To The End of The World karya Daniel Dencik, The Last Station karya Cristian Soto dan Catalina Vergara, Tropicalia karya Marcelo Mchado, dan Jurnal De France karya Raymond Depardo dan Clauidine Nougaret.

Dari keseluruhan filem yang kutonton itu, paling menarik bagiku tentu filem karya Joshua Oppenheimer. Filem yang diputar di Grand Theater Denmark itu mengajakku untuk bereksperimen lebih jauh tentang pembingkaian dalam membuat filem dokumenter. Karena sejauh yang aku tahu, dalam filem itu sutradara seolah-olah sedang memfilemkan filem (frame dalam frame) tentang mimpi buruk tokoh utama, yaitu Anwar Kongo. Misalnya, selain terdapat gambar wawancara juga ada banyak scene yang menampilkan gambar Anwar Kongo sedang beradu akting dengan aktor lainnya. Kemudian sesekali terdapat gambar yang menampilkan kru filem serta sutrada berteriakcut.

Lebih menarik lagi, tokoh utama dalam filem berdurasi 159 menit itu merupakan orang yang bisa menceritakan banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di Medan, Sumatera Utara. Hal ini termasuk saat peristiwa pembasmian antek-antek PKI  yang dilakukan kelompok Pemuda Pancasila di Medan. Secara perspektif, filem ini juga memberikan pengetahuan baru untukku dengan sudut pandang yang berbeda. Jika selama ini yang aku tahu bahwa anggota PKI lah yang melakukan pembantaian pada saat itu, ternyata dalam filem ini aku melihatnya terbalik.

Untuk urusan riset dalam filem tersebut, bukan main seriusnya karena pembuatannya memakan waktu hingga tujuh tahun. Sejauh yang aku tahu, persoalan riset dalam produksi filem dokumenter tentu hal yang sangat penting. Sehingga aku beranggapan untuk memproduksi filem dokumenter yang baik tentu membutuhkan riset yang serius, hal ini bisa jadi akan memakan waktu yang panjang.

Kemudian selain filem The Act of Killing, filem lain yang menarik bagiku filem berjudul The Last Station karya Cristian Soto dan Catalina Vergara. Filem dari Chile itu bercerita tentang kehidupan perempuan tua yang tinggal di panti jompo. Dapat kulihat si sutradara seperti sedang merekam rasa rindu berkumpul dengan keluarga yang hinggap di benak perempuan tua itu. Secara pengambilan gambar, filem itu juga mengingatkanku pada karya-karya video akumassa. Misalnya gambar yang di ambil tidak ada zoom in atau zoom out, serta panning left atau panning right.

Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, dalam festival ini kegiatanku bukan hanya menonton filem, tapi juga ada beberapa simposium filem yang kuhadiri. Pada hari kedua di Denmark, siang harinya aku menghadiri simposium yang berjudul Crossing Boundaries. Dalam simposium itu membahas tentang bagaimana cara kerja, etos kerja, dan pencarian dana dalam membuat filem dokumenter eksperimental. Hal-hal itu dijelaskan oleh dua orang sutradara berkelas internasional, yaitu Ben Rivers dan Ben Russell. Tapi sayang tidak banyak hal yang dapat kumerngerti karena keterbatasanku dalam memahami bahasa Inggris. Tapi setidaknya dalam simposium itu aku belajar membiasakan diri mendengarkan bahasa asing.

Berbeda lagi pada sore harinya, aku menghadiri simposium berjudul An Interactive Audience. Simposium kali ini menghadirkan tiga orang pembicara, salah satunya dari Indonesia, yaitu Edwin. Diskusi selama dua setengah jam itu membahas tentang filem produksi dokumenter ekperimental yang interaktif dengan penonton, contohnya filem 17.000 Island karya Edwin, Thomas, dan Paramitha Nath. Kabarnya filem itu seperti memberi gambaran demografi keseluruhan tentang Indonesia dengan menampilkan gambar anjungan-anjungan yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tapi sayang aku belum tahu bagaimana persisnya bentuk interaktif itu karena aku sendiri belum melihat filemnya. Edwin hanya mengatakan, penonton bisa memilihfootage filem mana yang akan dilihat dan bisa dirangkai sendiri oleh penonton. Hal itu dapat kuketahui dalam diskusi yang sesekali menggunakan Bahasa Indonesia.

nampak anak-anak yang di ajak berkunjung ke sinematek
Nampak anak-anak yang di ajak berkunjung ke sinematek

Itulah sepenggal pengalamanku selama lima hari di Copenhagen, Denmark saat menghadiri CPH: DOX Festival. Sebetulnya banyak hal menarik lagi yang aku alami di sana. Misalnya beberapa kali aku melihat rombongan anak TK yang datang bersama gurunya ke studio yang dikelola Cinematek. Aku merasa kagum melihat hal itu, karena yang kusaksikan merupakan aksi pendidikan sinema sejak usia dini. Sambil menahan dingin serta melawan terpaan angin yang selalu muncul setiap sore, anak-anak itu tetap mencari ilmu dengan datang ke festival.

pengunjung membeli tiket-di-grand teater
Pengunjung membeli tiket-di-grand teater

Perlu diketahui, meskipun dalam perhelatan akbar, untuk dapat menonton filem yang ada, penonton tetap diwajibkan membeli tiket seharga 75 Kroner atau sekitar 127.500 Rupiah. Aku termasuk yang beruntung, khusus tamu undangan dipersilahkan menonton tanpa bayar dengan hanya menunjukan tanda pengenal. Tapi sayang, jika aku mengingat situasi di Indonesia, kadang aku menemui acara pemutaran filem dokumenter terlihat sepi pengunjung meskipun gratis. Semoga saja hal-hal positif yang kulihat di Copenhagen, Denmark juga akan berlangsung di Jakarta.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here