Bersama Tokoh: Aku dan Eyang Habibie

0
301
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Oleh: Ilhan

Ini adalah sebuah upaya untuk menuliskan sedikit memori dan sekaligus menularkan kepada para sahabat Reviens se Indonesia bagaimana isi dan kenangan, kesan, serta apa yang wajib diteladani saat kunjungan, sekaligus perpisahan sang Begawan Teknologi Indonesia. Eyang kita semua. Beliau, Prof Dr Ing Bj Habibie.

Sebelumnya Eyang BJ Habibie, selesai mengisi acara di RSU Dr Tjitrowardoyo Purworejo dan Reuni Akbar SMA 1 Purworejo. Sekitar 1 jam an per durasi dari 2 acara tersebut. Ada acara yang dibatalkan yakni ziarah ke Kakek Buyut nya yakni Dr Rng Tjitrowardoyo di Makam Ndokteran, Kampung Baledono-Purworejo, Jawa Tengah.

Jam 12.35 wib an beliau turun dari mobilnya dengan dipandu Pakdhe Ruby sebagai Sekretaris Pribadi sejak tahun 1981- sampai sekarang. Beberapa Paspampres, Kapolda, pejabat Kodam Diponegoro dan perwakilan MG. Beberapa jam setelah makan siang dan bercengkerama dengan pegawai praja di lingkungan pemerintah Purworejo, lalu.

“Mas Sidiq mana ya, silahkan masuk dan dipanggil Eyang Habibie.” Perintah sekaligus sebuah harapan tertinggi untuk bisa bersua langsung dengan Bagawan Teknologi, Presiden ke 3 Indonesia yang kini semakin menua, namun semangat dan gelora, kebeningan hatinya masih sangat besar. Kerinduan dan kebesaran nama Eyang masih sangat besar di masyarakat tentunya.”

Didalam Pringgitan Pendopo Bupati Purworejo, ada sekitar 4 meja bundar, dan sebagian disi famili dari Semarang dan Sulawesi. Sisanya adalah pejabat di lingkup lokal seperti Ibu Kaplres, Dandim, pejabat Makodam. Aku bersama Pakdhe Ruby ada di belakang Eyang, menunggu giliran berbicara dan duduk. Setelah usai Bupati Purworejo usai berdiskusi tentunya.

Baca Juga  Kegigihan Seorang Pemuda dalam Meraih Mimpi

“Silahkan Mas Sidiq…” perintah dari Sekretaris Pribadi Eyang Habibie terdengar sangat mantap, seperti sebuah terompet militer yang berkumandang. Tegas. Lembut. Segera dilaksanakan!

“Terimakasih waktunya Eyang Habibie yang saya cintai, Bapak Bupati Purworejo, Pak Agus ( Prof Dr R Agus Sartono) dan Pak Imam ( Mayjend TNI Imam Edy M/Komandan PBB ke 3). Ini sembari dibaca dan sembari ada pertanyaan.” kataku. Kuserahkan buku Mutiara dari Bagelen 1 untuk Eyang Habibie dan 1 Bupati Purworejo.

“Hmm,,,apa ini, Bagelen? “Dik, kamu tahu apa itu arti Bagelen?” tanya Eyang Habibie.”

“Oh, yayaya. Aku ingat. Roti Bagelen. Di Bandung juga banyak.” sambung Eyang.”

“Eyang, Mutiara dari Bagelen, adalah sebuah icon kejayaan. Sebuah hasil permenungan. Corat-coret saya. Saat kerja, entah di Jakarta, Bengkulu dll. Kenapa banyak orang Bagelen atau Purworejo sini yang menjadi pelopor kemajuan, berhasil. Sedangkan kota yang saya tinggali sedari kecil ini. Statis. Seperti ini saja.”kataku

“Oh ya, banyak juga alumni IAIBIE lho Eyang. Dan harusnya dengan potensi besar seperti ini bisa kota ini maju.” tambahku

“Ya…Bagelen.” lalu,Eyang sedikit berbicara, dan disambung berbicara kepada Om Imam dan Pak Agus. Ternyata Pak Agus yang guru besar di UGM Jogjakarta dan pejabat di Kementerian Agama, atau Om Imam di PBB yang bermarkas di Maroko juga malahan sekelas, sama-sma alumni SMA 1 Purworejo.

“Ya, ethos dari Imam sangat besar. Semangat belajar nya. Itu Eyang. kata Om Imam.”

“Ya,kamu juga berhasil di posisimu Agus.”kata Om Imam,..”

Decak bangga. Sekaligus sebagai motivasi, bahwa saya bisa dan meniru jejak dari senior-senior Purworejoku ini.”

Baca Juga  Sweta Kartika: Membumikan dan Melesatkan Komik Indonesia yang Berkarakter Khas!

“Lalu, Dik bagaimana? Apa maumu” tanya Eyang Habibie…

“Ini 1 buat Eyang, ada Ibunda Marini Habibie, sedang kakek, Dr Tjitrowardoyo sudah kutuliskan, tapi sebatas inisiasi dan ini naskah sudah mengendap dari setahunan. Daripada tak bermanfaat. Saya kerjakan sendiri semua Eyang. Nah satu nya buat Bapak Bupati Purworejo.”

“Ini Pak.”

“Bukakan plastiknya Dik..” kata Pak Bupati..

Sembari sedikit mengupas dan membaca buku ini. Eyang, Pak Imam dan Pak Agus berbicara dalam bahasa Inggris. Lantas membahas kemajuan teknologi di Jerman, situasi politik Indonesia terkini. Ini sangat sebentar sekali.

Lantas Eyang meminta untuk pamit ke Bandara Jogjakarta, lanjut ke Bandung 5 harian dan kembali ke Jerman. Tahun ke baru ke Indonesia lagi.

Eyang Habibie menekankan selain pembangunan dan akselerasi SDM sebagai inti dan harapan besar bangsa ini untuk menjadi maju dan bangkit. Faktor lainnya adalah faktor pola asuh, agama dan budaya. Serta jadilah no 1 dengan ethos dan jiwa yang mau tumbuh dan spartan dibidang yang kamu sukai. Kamu anggap mampu membesarkan dan membuat mu bertambah kualitas. Setiap harinya.

Terimakasih Eyang Habibie.

Kesehatan dan kemuliaan hidup senantiasa tercurah untukmu.

Terimakasih Pakdhe Ruby atas waktu dan sharing, curhatan kemarin malam sampai pukul 01.00 dinihari.

Terimakasih Pak Imam dan Pak Agus juga.

Aku bisa dan aku mampu untuk meneladani dan meniru kalian semua. Berkontribusi untuk negeri. Dengan bidang yang ku sukai tentunya. ( Ilhan Erda-Reviens Purworejo)

 

Comments

SHARE
Previous articleFoto: Keindahan Candi Ratu Boko
Next articleInovasi untuk Menghadapi Pasar Global
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here