Reportoar Cu-Chi: Dunia Apokalipstik atau Sebentuk Thaharah Kebudayaan?

0
150

Oleh: Paox Iben Mudhaffar (Budayawan Sumbawa)

 Di Ujung lidahku menunggu

Cerita lain,

Menunggu

Kura-kura letih tertidur di lembah-lembahmu

Dan tenang

Ia pun tenang

………………………………..

Lirik lagu “Cu-Chi”, Ws Irawan

Saya masih saja bertanya-tanya ketika WS Irawan yang akrab dipanggil Sentot menggunakan Cu-Chi sebagai judul reportoarnya kali ini. Meskipun Sentot sering mengemukakan jawaban klise bahwa kata Cu-Chi itu sendiri sungguh unik. Sebab dalam bahasa indonesia artinya jelas; membersihkan kotoran dengan air. Apakah Sentot sedang ingin melakukan Thaharah Kebudayaan? (Kata Cu-Chi itu sering juga kami plesetkan menjadi Cuci gudang atau Cucian deh lo hehe). Dan saya tetap menganggap Sentot memiliki cara pandang yang super jenius dengan pengambilan tema ini.

Cu-Chi sendiri adalah sebuah distrik di Ho Chi Min atau Saigon yang menjadi salah satu basis perjuangan Vietchong ketika perang Vietnam berkecamuk. Di distrik inilah para pejuang revolusioner Vietnam membangun basis pertahanan bawah tanah yang mirip lubang tikus. Di lubang gelap dan berkelok-kelok itu para pejuang merah membangun mimpi-mimpi mereka; tentang warna dunia masa depan dan sebuah negeri tanpa awan penindasan. Sebuah negeri yang juga seperti dicita-citakan para founding father republik kita; tegak berdiri di atas kaki sendiri. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Apakah karena alasan itu Sentot mengayuh sepedanya, sendirian, mengarungi batas kesanggupannya hingga sampai ke kota perang bernama Cu-Chi itu? Jika anda generasi yang tumbuh di tahun 90-an tentu sangat akrab dengan film-film bertemakan perang Vietnam. Dan hampir dalam setiap film-film tersebut tentara Amerika selalu menang ketika bertempur  melawan pejuang Vietchong. Meskipun pada kenyataannya mereka jelas keok. Tetapi itulah hebatnya media, mampu menciptakan sejuta Rambo, yang meskipun selalu kalah dalam kenyataan, tetap menang dalam impian hehe. Amerika gitu loh!

Dan jika anda penggemar film tentang perang Vietnam, tentu  tidak akan melewatkan Apocalypse Now, film fenomenal yang dibintangi oleh Marlon Brando, Robert Duvall, dan Martin Sheen itu. Bahkan bagi saya pribadi, film yang di sutradarai oleh Francis Ford Capolla ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa, baik dari sisi cerita maupun tata artistik dan penggarapan filmnya. Betapa tidak, film dengan setting Saigon (Cu-Chi) tahun 1967-1968 ini mungkin satu-satunya film Amerika yang mengangkat kebobrokan Amerika dalam perang vietnam. Luar biasanya lagi dibuat hanya empat tahun sejak berakirnya perang Vietnam yang mencoreng wajah Amerika. Dan dalam film inilah kita saksikan gambaran perang paling “GILA” dipertontonkan secara konfigural, tidak biner seperti biasanya. Apocalypse Now tidak hanya melulu berbicara tentang moralitas dan kekenesan perang; sebuah tindakan heroik penyelamatan, gemuruh ledakan dan sebuah orkestrasi kematian. Apalagi tentang siapa menang dan siapa harus dikalahkan, meskipun hanya dalam sebuah cerita film.

Dalam film yang konon mengambil inspirasi dari novel Joseph Conrad berjudul Heart of Darkness ini, perang tak hanya ditampilkan sebagai sebuah tragedi yang menyayat, atau kengerian yang sarat, “The horror! The horror!” begitu kata Sang Kolonel Kurtz menyitir puisinya T.S Eliot– tetapi perang adalah juga sebentuk ironi yang memuakkan; tempat segala yang jalang dan kenistaan beradu tawa dengan titik terendah kegetiran. Tak ada jurus penyelamatan, kecuali melawan segala pihak yang berperang dan menebarkan teror kengerian itu sendiri. Karena itu pulalah Sang Kolonel botak “Marlon Brando” Kurtz itu memilih jalannya sendiri. Sebuah jalan sunyi dimana ia bisa melukis tanda dan menyusun diagram kearifannya sendiri. Ia menjauh dari ladang pembantaian di Vietnam dan tinggal bersama suku terpencil di Kamboja. Di sanalah hidupnya berakhir dalam kematian yang sangat puitik. Selama tujuh hari, Kapten Willard mendengarkan kebijakan hidup Sang Maestro perang itu sampai akhirnya ia memutuskan bertarung dengan senjata machete (parang panjang khas Kamboja). Kurtz memang terbunuh, tapi Willard juga kehilangan panduan hidup.

Baca Juga  Realitas Sosial & Ekonomi dalam Sajak-sajak Aren

…I’ve seen horrors… horrors that you’ve seen. But you have no right to call me a murderer. You have a right to kill me. You have a right to do that… but you have no right to judge me. It’s impossible for words to describe what is necessary to those who do not know what horror means. Horror… Horror has a face… and you must make a friend of horror. Horror and moral terror are your friends. If they are not, then they are enemies to be feared. They are truly enemies! I remember when I was with Special Forces… seems a thousand centuries ago. We went into a camp to inoculate some children. We left the camp after we had inoculated the children for polio, and this old man came running after us and he was crying. He couldn’t see. We went back there, and they had come and hacked off every inoculated arm. There they were in a pile. A pile of little arms. And I remember… I… I… I cried, I wept like some grandmother. I wanted to tear my teeth out; I didn’t know what I wanted to do! And I want to remember it. I never want to forget it… I never want to forget. And then I realized… like I was shot… like I was shot with a diamond… a diamond bullet right through my forehead. And I thought, my God… the genius of that! The genius! The will to do that! Perfect, genuine, complete, crystalline, pure. And then I realized they were stronger than we, because they could stand that these were not monsters, these were men… trained cadres. These men who fought with their hearts, who had families, who had children, who were filled with love… but they had the strength… the strength… to do that. If I had ten divisions of those men, our troubles here would be over very quickly. You have to have men who are moral… and at the same time who are able to utilize their primordial instincts to kill without feeling… without passion… without judgment… without judgment! Because it’s judgment that defeats us.

Apakah yang tragis dan ironis itu hanya dilahirkan dari sebentuk peperangan semata? Tentu cara pandang kita terhadap “perang” itu sendiri bisa melahirkan sejuta tafsir. Sebagai anak kolong, yang lahir dan besar di kandang Macan, kata perang tentu tak asing bagi Sentot. Tetapi ia tak mau mengangkat senjata atau sekedar mengenakan uniform seperti para pendahulunya yang berkarir di dunia militer sejak pecah perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 itu (mungkin karena itu pula ia dinamakan Sentot hehe).

Baca Juga  Jero Wacik, “Dijebak” Kasus dalam Ketidaktahuan

Ia lebih memilih perangnya sendiri; menjadi pejuang sunyi, melawan diri sendiri!

Perang yang dipilih Sentot mungkin tak setajam pencarian kapten Willard dalam tugasnya membunuh kolonel Kurtz dalam film Apocalipse Now itu. Juga tak ada korban 2.000.000 manusia seperti di vietnam atau 6 juta manusia korban Nazi dan entah berapa lagi dibagian dunia lain sepanjang kurun sejarah berlaku. Namun mengapa pula Nabi mengatakan bahwa perang, Jihad, yang sebenarnya adalah melawan diri sendiri?

Bumi terus berputar. Zaman terus bergerak. Beribu nabi telah pula hadir ke dunia ini. Juga kitab-kitab suci serta berbagai kearifan, terserak di antara serpihan ragam kebudayaan. Namun perang terus berkecamuk hingga hari ini. Tak hanya merenggut yang semestinya hidup, atau menghancurkan apa saja yang dijumpainya. Perang juga melecehkan akal sehat dan jelas-jelas menistakan nurani kemanusiaan. Lantas kenapa manusia harus selalu berperang?

Dan diantara teriak parau serta geletar musik dalam reportoar Cu-Chi Selasa malam itu di Warjack(10/9/2013), saya hanya sanggup membayangkan saat Sentot mengayuh sepedanya menapaki jengkal demi jengkal jalanan sepanjang negeri jiran dari Malaysia, Thailand, Kamboja, dan akhirnya sampai di Vietnam itu. Tubuhnya berlelehan keringat menahan lelah yang sangat. Ia terkapar dan menggigil di atas sebuah lubang tikus. Lantas pikirannya mulai memasuki ruang-ruang gelap, sebuah lubang hitam tempat kekosongan beranak-pinak. Di antara repih lelahnya, Sentot berusaha membuka mata, mencoba meraih berkas-berkas cahaya yang menelisip dari sela dedaunan seperti para pejuang pembebasan yang berebut nyala lilin di dalam lorong-lorong gelap sepanjang Cu-Chi Tunnels itu. Mereka telah tersekap selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga lupa waktu, dan bahkan mungkin, lupa diri.

Dalam kesempitan cahaya itu, terdengar suara bom meledak dan desingan peluru di mana-mana. Juga jerit sekarat para tentara Amerika yang kakinya sempal tersentak ranjau. Sementara di dalam bilik-bilik lubang tikus itu, para milisi Merah yang sudah lumutan itu justru asyik main Mahyong atau domino sambil cekikikan menertawakan kekonyolan perang!

……………………

Bahwa datang ke dunia gelap

Bukan berarti sampai di beranda dan tenang

Ia pun tenang dan ia pun tenang

Patahan bulu disayapnya abu

Lebih abu dari sekumpulan lumut hijau

Di atas batu-batu

Dan tenang Ia pun tenang

……………………………

Comments

SHARE
Previous articleKAMI TIDAK DIAM #MELAWANASAP
Next articleNikmatnya Wisata Kuliner di Pasar Tradisional
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here