CERPEN: BAPAKKU JADI MENTERI

0
207
Illustrasi Bapak

Karya: Ilhan Erda

“Selamat malam Pak Darwanto? Saya dari Keprotokoleran Kepresidenan Republik Indonesia..

“Dengan ini memberikan undangan dan surat, baju, tiket penerbangan semuanya sudah disediakan. Harap datang tepat waktu dan semuanya dipersiapkan sebaik mungkin.”

Ahaaa. Suara telepon di ujung Ibukota sana memecah kesyahduan dari keluarga kecil Pak Darwanto yang tinggal di ujung kota ini. Beliau yang tinggal di Dusun Ngaran, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Dusun yang berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta ini memang lain dengan 15 kecamatan se-kabupaten Purworejo. Daerh ini menghasilkan puluhan pahlawan dan orang yang prestisius di bidangnya. Jadi tonggak keilmuan di segala lini buat Ibu Pertiwi, tapi nasibnya tak kunjung membaik.

Mulai dari akses jalan yang banyak bolong, listrik yang sering mati lagi cela dan sumpah serapah entah dari penduduk asli sana. Perantau di Sumatera atau pejabat musiman dan caretaker yang datang tiba-tiba banyak sekali.

“Pulang tak diantar dan datang tak dijemput.” Atau seperti rimbunnya cendawan yang muncul di musim penghujan ini. Pepatah yang pas dengan analogi saat para calon penghuni Kursi Dewan itu bersaing.

Alam kan jujur, Bapak Ibu Guru Sejarah juga menerangkan, bahwa di Kaligesing saja tak kurang ada Bapak Filsafat Indonesia terlahir yakni Prof. Dr. Driyarkara yang mendirikan universitas swasta elite di Yogyakarta, karyanya seberat kurang lebih 2,5 kg, terdiri dari 1500 halaman jadi bintang di Roma sana. Lalu ada si Singa Podium, Kasman Singodimejo yang seisi tubuhnya adalah ibarat granat. Granat yang setiap waktu bisa meledak, tak takut dengan ancaman dan aral apapun, Islamis sekaligus Nasionalis. Belum lagi ada perdana menteri yang terkenal dengan sosok pekerja, santun dan pendiam yaitu Perdana Menteri Wilopo. Ini baru sebagian, ada pula Sang Komponers pencipta lagu nasional si Wage Rudolf Supratman, lalu si Pendiri TNI Jenderal Urip Sumohardjo, dan puluhan lainnya..

“Bu, liat saja Pak Presiden nanti tak kan kecewa dengan pilihannya. Anak-anak kita si Juwita sama Santoso lekas kabari. Bapaknya ini kan jadi petinggi di Kementerian Pendidikan, dan segera buat nazar yang kira-kira bermanfaat dan istimewa buat desa ini ya Bu’e”kata beliau.

Selasa Wage, 10 September 2014. Bulan dan tanggal di almanak (Kalender) yang tertera cap stempel Dinas Pendidikan Purworejo itu pun dilingkarinya besar-besar dengan ulasan spidol bergincu tebal. Ini adalah hari yang bersejarah lagi sakral buat seluruh penghuni Dusun Ngaran ini.

”Sebentar lagi salah satu putra daerahnya akan tertulis pena sejarah. Bukan saja buat Ngaran, Purworejo, atau Jawa Tengah…”tukasnya

“Aku akan membuat gebrakan yang tak lagi membuat sebuah revolusi mental dan mendukung program rakyat bagi pak presiden saja. Aku adalah korban sendiri, sebagaimana aku baca di sebuah cerita pendek berjudul “Remote” dari buah tangan dik Ilhan, dia pemula dan tak sekolah tapi berani bercerita dan menceritakan sesuai realita kondisi bangsanya. Kita ditendang ke sana–kemari, tanpa penjelasannya. Kita pusing, meriang dan jadi bangsa yang “cileren” atau mudah terkena penyakit. Ingat, sejak periode pertama awal tahun kemerdekaan populer dengan dimana ada Kurikulum Rencana Pelajaran dengan adegiumnya (pepatah) adalah Pancawardhana. Sekolah masih disekat untuk 3 golongan, kemudian ada lagi Kurikulum 75 yang dicetuskan oleh pendahuluku Syarif Thayeb, lantas Kurikulum 84, kemudian Kurikulum 94, terus menyusul Kurikulum KBK, KSTP, dan yang terbaru adalah Kurikulum 2013..”

Baca Juga  Penyihir Pemilik Biji Kopi

“Titik point dan ruhnya adalah bagus saja. Tapi kasihan para anak-anakku sebagai Remote yang seperti diulas Dik ilhan, jadi bola tendang, dan dikebiri, diperkosa, jadi rebutan orang-orang serta kadang nasibnya tak mujur hancur, berkeping-keping nasib si Remote tadi. Jasanya pun sangat besar membuat hiburan dan menyegarkan sekeluarga. Pak Presiden, Mbah Mantri dan Pak Jono si penjaga Dadu Kipyik, Alim ulama. Semuanya merasakan jasa dan sumbangsih si Remote tadi. Tapi apalah daya.”

Sebulan kemudian…

Foto close up dan baju jas bapak berpasangan dengan kebaya yang Bu Darwanto kenakan sangat serasi sekali dengan jepretan flash motion puluhan jurnalis yang mengabadikan momen sacral dan membanggakan ini. Berkali-kali dan berpuluh tahun tembok, rumput depan istana negara menangis, atau meringis dengan dilihatnya para kepala dan orang–orang pilihan ini. Kelak, ada yang masuk penjara, dan sebaliknya puluhan gelar dan kalung prestasi serta jadi legenda, atau jua yang sekali terpilih 5 tahun usai, tapi sudah tak terdengar namanya di rimba ketatanegaraan Indonesia ini.

“Siap-siap saja, aku akan jadi orang yang paling dimurka atau dikucilkan oleh para pemborong dan tendener nakal se Indonesia. Aku siap jadi orang yang paling dicaci dengan kebijakanku yang tak populis. Genteng, keramik, meja kursi di Jalan Jenderal Sudirman, Pusat Jakarta ini akan menjadi kelam dengan jutaan serapah masyarakat Indonesia, atau milyaran puji dan sanjung di akhir kepemimpinanku nanti. Lihat saja, buktikan nanti.”ujar beliau berapi-api.

“Masyarakat Purworejo, pantas berbangga diri dengan terpilihnya aku jadi pembantu beliau di Kabinet Kerja ini.” sambung Pak Darwanto di tengah persiapan keluarganya kecil ini menempati rumah dinasnya.

Pak Darwanto baru berusia 45 tahun. Pendidikan dasar sampai menengahnya diselesaikan di Kota Manggis ini, lantas S1 di kampus Bulaksumur, dan S2 nya di kota Queensland Australia jurusan Manajerial Pendidikan. Tak lupa S3 nya di Kampus Singa yang terkenal lagi susah ditembus, di Nanyang University.

Beliau memutuskan untuk tetap ada dan singgah di rumah kelahirannya di Dusun Ngaran. Ini adalah prioritas dan komitmennya. Jadi sebulan sekali beliau menyempatkan untuk singgah dan bisa bersenggama dengan hijaunya cengkeh di kanan kirinya rumahnya, atau saban pagi hari menyusu Ettawa yang segar dan langsung diperas dari tubuh kambing ras unggulannya itu yang dipelihara dengan sistem gaduh dari para tetangga sekitar rumah.

“Kebijakan yang membumi dan jadi ciri khas kita itu rohnya. Sebenarnya bagus semua, tapi ketidakkonsistennya adalah musuh utamanya. Guru, kita, orang tua kita pusing. Lagi-lagi pusing dengan kebijakan dan kurikulum yang berubah–ubah seperti trend musik saja. Hari ini Cherrybelle, Sm*art, Cube, Siti Badriyah. 6 bulan, besok K-pop, besoknya lagi audisi dangdut, Aduuh, payah tenan ya Mas Kelik.” curhatnya.

Ini adalah salah satu curhatan beliau dengan Kelik Ambiyo, sahabat kecilnya yang juga kebetulan jadi PNS di Kementerian Pendidikan, dan bisa jadi reuni di ibukota buatnya ini..

”Mas Kelik ingat ya, almamater kita, SMA kita yang terhebat di Purworejo, dan namanya diperhitungkan di skala nasional saja juga mumet, karena kemarin diharuskannya ada syarat pengadaan projektor per kelas, kelas Imersi dll,. Biar taraf internasional katanya, RSBI, atau kategori A plus dan tetek bengek lain. Dan sekarang? Meringis bukan, menyesal kan ? sanggah Beliau..

“Tenang saja mas Kelik, nanti aku jadi dan mulai hari pertama kerja, tak lupa aku dedikasikan dan tetap darahku adalah “Trah Orang Bagelen”. Semua kebijakan dan aspirasi dari seluruh elemen masyarakat Purworejo tak usah malu tak usah segan, bilang dan cukup SMS saja. Kan sudah ada SMS pelayanan umum yang bapak presiden beri tooh.?”

Baca Juga  Dari Awal Salah Dugaan

Hari pertama, aku akan ikut pak presiden ke California. Tapi bukan untuk studi banding tentang ayam goreng ciken yang kesohor itu lho. Di sana ada pertemuan para pemimpin dunia, yang tergabung dalam grup 3GP. Ini adalah pertemuan rahasia 3 negara yang tidak bisa rekam media sedunia liput atau kaum awam mendapat hak siarnya. Dan kau saja Mas Kelik yang tahu bocoran ini, karena kau adalah sahabat sejati ku. He he he he..”

“Aku adalah tangan kanan pak presiden lhoo..” Ini fakta bukan gosip..” sambungnya

Lekas hari ke 1 beralih ke seminggu, 3 minggu dan 5 bulan. Pak Darwanto merasakan tugasnya kali memang sangat berat, dan dirasa ini adalah bukan saja beban yang harus dipikulnya sendiri. Harus kolektif bukan hanya lingkup pejabat di lingkup Kementerian Pendidikan saja.

“Tapi ini bu. Si Juwita anak gadisku yang sebentar lagi lamaran, sama Santoso. Kalian harus bantu bapakmu ini jadi orang no 1 di kementerian ini dan bisa jadi legenda. Kalian harus rela singsingkan lengan baju kalian, blusukan dan kalau perlu masuk got, kejar ”tikus-tikus berkerah hitam” itu sampai akarnya.” Gelora beliau senantiasa bergemuruh ibarat Gundala yang turun ke bumi dan membumihanguskan musuh-musuhnya dengan sekali   kibasan maut petir maha dasyatnya itu.

Keluhan dan sakit di badan beliau semakin dirasa, semakin hari tak bisa dielakkan. ”Film dokumenter berjudul “Mata Kayu Terantai”, film indie buatan sepupunya si Dony Setiawan ini yang sudah puluhan kali jadi langganan juara baik di tingkat Kedu atau Nasional jadi langganannya. Penghibur lara lelahnya ini..”

“Iyaa benar aku sakit, tapi ni masih sedikit sekali perjuanganku. Belum sebanding dengan apa yang Simbah Wage Rudolf Supratman, Wilopo atau Driyarkara berikan untuk nusa bangsa..” tukas beliau sambil nanar menatap Santoso, anak lelaki kebanggaannya yang baru kelar S1, dan lanjut ke S2-nya ini.

Tapi kali ini singsingan lengan dari Juwita, dan lolongan suara derap perjuangan dari Bu Darwanto yang dibantu Santoso semakin dirasa berat saja.

Memang tenaga dan mulut Pak Darwanto masih digdaya dirasa, tapi ragawi dan kepalan tangannya semakin diraja pula dan membahayakan seisi Dusun Ngaran ini.

Puluhan debt colector berdatangan berganti untuk menagih mantan Wakil Ketua Fraksi Dewan di kota Purworejo ini. Dan beliau juga sempat sekolah selama 125 hari di prodeo pernah dirasakannya akibat tertampar sedikit kasus “pengadaan meja kursi” di dinasnya dulu mengabdi. Sebelum dipecat tidak hormat dan menjadi seperti ini.

Puluhan obat pun sudah hafal di luar kepala oleh Bu Darwanto. Mulai dari valdimex, librium, caurage, atau zec. Dan berganti psikolog atau suntikan dari RSJ Magelang juga tak bisa meluluhlantakkan dan membuat sedikit saja ragawi beliau tenang.

24 jam dia terus berorasi, dan suaranya semakin memekakkan keheningan malam Dusun Ngaran ini.

“Duh Gusti, beri hamba kesabaran untuk mendampingi bapak.”

Isak Bu Darwanto, sembari menyuapi makan Pak Darwanto yang terpaksa kali ini dirantai kaki dan kepalanya, pas sekali dengan setting diorama   film “Kayu Tangan Terantai” kesukaannya itu.

Comments

SHARE
Previous articleFinal Piala Presiden 2015, Resmi Gelar Di GBK
Next articleFOTO: Menyapa Bimasakti ago Details -STOV
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here