Kesenian Yang Mulai Hilang Tergerus Zaman

0
611
Salah satu Kesenian yang mulai hilang tergerus zaman (Reviensmedia.com/Ika)

REVIENSMEDIA.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang sangat bernilai tinggi. Hampir di setiap daerah di nusantara ini memiliki kesenian sendiri dengan ciri khas yang tentunya berbeda-beda, namun sekarang banyak kesenian yang mulai hilang tergerus zaman dan digantikan dengan kesenian moderen yang tidak mencirikan masyarakat indonesia.

Walapun demikin masyarakat cenderung menyukai kesenian moderen yang dibawa masyarakat luar Indonesia, sehingga kesenian asli dalam negerinya pun mulai hilang.

Seperti halnya kesenian asli masyarakat Betawi Ondel-ondel, yang mulai hilang tergerus moderenisasi, terlebih kesenian ini berasal dari kota yang sekarang menjadi kota metropolitan yang dipenuhi dengan budaya moderen yang sulit dibendung.

 

Dikutip dari Wikipedia, Ondel-ondel adalah salah satu kesenian masyarakat Betawi. Kesenian ini berupa figur boneka besar yang tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Boneka raksasa ini sudah ada sejak atau bahkan jauh sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) masuk ke Nusantara.

Baca Juga  Tradisi Ambengan yang Masih Membudaya di Desa Wadasmalang, Kebumen

 

W. Scot, seorang pedagang asal Inggris mencatat dalam bukunya, jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada pada tahun 1605, namun karena perbedaan kultur dan budaya, Scot melihat tradisi Betawi terlihat asing di matanya, sehingga bentuk penyampaian lisan maupun tulisan hanya berupa gambaran-gambaran secara kasat mata saja dan mengambil istilah-istilah yang relevan dengan bahasa bangsanya.

Seorang asal Amerika bernama E.R. Schidmore yang datang di Batavia pada penghujung abad ke 19, melaporkan dalam bukunya, “Java, The Garden of The East”, tentang adanya pertunjukan seni di Betawi berupa tarian-tarian di jalanan, karena perbedaan latar budaya dan tradisi alhasil Schidmore tidak menyebut secara jelas apa jenis tarian yang bermain di jalanan itu. Namun dapat diperkirakan bahwa kesenian itu adalah ondel-ondel, mengingat tarian itu bermain di jalanan.

Baca Juga  Sego Bosok Makam Sembayut

Sepasang ondel-ondel lelaki dan perempuan melakukan atraksinya untuk menghibur masyarakat dengan cara menari diiringi musik Gambang Kromong ‘’Rebana, Gendang, Gong dan Rebab’’ dan lagu tradisional Betawi “Sirih Kuning, Kicir-Kicir, Jali-jali, dan masih banyak lagi lagu lainnya”. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala dari gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat, dan untuk penyambutan tamu terhormat.

Seiring derasnya arus moderenisasi saat ini ondel-ondel mulai dilupakan oleh masyarakat, tetapi ada sejumlah kelompok orang yang masih melestarikan kesenian Betawi satu ini. Salah satunya kelompok ondel-ondel dari daerah Galur, Jakarta Pusat yang biasa berkeliling di sekitar daerah jalan H. Mugeni 1 Pisangan Timur, Jakarta Timur.

Baca Juga  HALAL BIHALAL BUDAYA NUSANTARA

image

Saat Reviensmedia.com menanyakan, mereka mengatakan, melakukan pertunjukan keliling ini melewati perkampungan di ibu kota, dan meminta uang sumbangan suka rela dari para penonton dan orang yang lewat. Hal ini mereka lakukan agar generasi penerus mengenal tentang kesenian Betawi satu ini, karena menurut mereka saat ini ondel-ondel sudah mulai menghilang.

Kita sebagai generasi muda seharuanya dapat melestarikan kesenian yang sudah mulai tergerus kemajuan zaman ini. Tidak hanya kita generasi muda, namun peran pemerintah juga sangat penting demi terlestarinya kesenian khas Betawi ini.

Selain itu agar dapat diterima oleh masyarakat moderen, setiap kesenian hendaknya juga di moderenisasi, sesuai kemajuan zaman, namun tidak menghilangkan nilai murni dari kesenian itu. (Ika)

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaIbu Guru Helena
Berita berikutnya“Tree of Life”: Persembahan Miko Malioboro dan Alessandro Whitt
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here