Bologna Children’s Bookfair 2015

0
166

Oleh: Sweta Kartika
(Komikus Grey & Jingga, The Dreamcacthers dll)

Pada tanggal 30 Maret sampai tanggal 2 April lalu, saya diminta untuk mewakili delegasi Indonesia bertandang di event Bologna Children’s Bookfair bersama Chris Lie (owner Caravan Studio dan Majalah komik Re:ON), Arleen Amidjaja (penulis buku anak), Clara Ng (penulis buku anak), dan Ira yang mewakili Pak Harry Chandra dari Persona Edu. Bologna Children’s Bookfair adalah rangkaian dari event buku tahunan yang didahului di leipzig Bookfair di bulan sebelumnya, London Bookfair, dan puncaknya di Frankfurt Bookfair pada bulan Oktober nanti. Semoga informasi saya tidak keliru. Saya dan Chris Lie dikirim sebagai ilustrator dan komikus. Kendatipun nama event-nya Children’s Bookfair, pada kenyataannya yang ada di event tersebut bukunya sangat beragam, tidak hanya buku untuk anak-anak saja. Dan saya diminta untuk melihat buku anak dari kacamata komik dan aplikasinya pada buku anak. Selain kami para exhibitor, berangkat pula co-exhibitor dari beberapa penerbit lokal untuk menjual copyright bukunya di event tersebut.

image

Sebelum menceritakan banyak hal mengenai temuan saya di sana, saya akan sedikit bercerita tentang kejadian-kejadian yang saya alami sebelum berangkat dan pada saat sebelum event dimulai di Bologna. Tiga hari sebelum keberangkatan, saya dan beberapa exhibitor lain diundang ke Kemendikbud Jakarta untuk pembekalan. Bayangan saya, pada hari itu kami sudah akan mendapatkan kejelasan jadwal keberangkatan serta biaya yang akan kami terima selama di sana. Karena ada satu dan lain hal, dua hal tersebut belum kami dapatkan di hari itu. Untung saja pengurusan visa sudah selesai lima hari sebelumnya. Saya sempat panik, mengingat keberangkatan tinggal dua hari lagi, sedangkan tiket pesawat dan biaya akomodasi lain belum kami terima. Hal ini terkait dengan adanya kebijakan pemerintah soal pengawasan anggaran kegiatan ke luar negeri. Alhasil, kabar mengenai besar biaya akomodasi yang turun untuk para exhibitor baru dikabarkan tepat pada hari keberangkatan di sabtu pagi, begitu pula dengan tiket pesawatnya. Saya sedikit parno, karena penerbangan saya ada di pukul 20:30 malam dan saya harus berangkat dari Bandung untuk ke Jakarta dulu menerima uang (yang belum ditukar ke Euro) lalu berangkat ke bandara mengejar pesawat. Untungnya saya sudah berjaga-jaga membuat Surat Kuasa kepada Chris Lie untuk mewakili saya mengambilkan uang (sekaligus meminta beliau menukarkan ke Euro), sehingga saya tinggal pesan travel dari Bandung menuju ke bandara langsung tanpa dibebani urusan lain. God Bless Chris Lie.

image

Buat saya, ini pengalaman pertama terbang ke negara jauh dengan jadwal yang tidak bisa diprediksi. Saya berangkat bersama Chris Lie, Mbak Arleen, dan Ira, dan tiga kardus besar berisi buku dan katalog yang dititipkan oleh panitia untuk kami gotong bertiga ke eropa.Pegel gan. beberapa panitia dan co-exhibitor sudah duluan terbang ke Bologna, dan Mbak Clara Ng menyusul berangkat dua hari kemudian. Sesampainya di Bologna, kami langsung check-in di hotel yang sudah di book oleh Bu Lusy dari IKAPI. Kemudian saya dan Chris Lie segera berangkat ke lokasi venue untuk memasang karya kami. Oh iya, perlu saya informasikan, booth untuk Indonesia luasnya sekitar 3 x 6 m (kalau tidak keliru mengingat), dan seluruh dinding di belakang akan ditempeli stiker besar sebagai branding Indonesia dan dipasangi rak buku untuk memajang buku-buku yang lolos kurasi untuk dipamerkan di sana.Sementara itu, saya dan Chris Lie sudah diminta memikirkan cara untuk memajang karya kami tanpa mengganggu rak buku yang ada di dinding booth. Alhasil, beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya dan Chris Lie merancang semacam totem yang terbuat dari impraboard dibentuk menjadi segitiga, lantas disusun empat tingkat dan dipasangi artwork buatan kami. Satu totem untuk saya, dan satu totem untuk Koh Chris. Ini kami siasati agar mudah dipindah dan dibongkar sesuka hati. Niatnya, kami berangkat ke venue untuk segera memasang karya kami, tapi ternyata ada tugas lain untuk kami semua selaku delegasi Indonesia untuk memasang stiker-stiker besar 1 x 2,5 m guna membranding booth. Karena tidak adanya dana, untuk event di Bologna dan London tidak disediakan jasa kontraktor dan agency dari pemerintah. Sehingga tim delegasi harus kerja bakti memasang dan menghias sendiri booth untuk Indonesia. Berbeda dengan event di Leipzig kemarin dan Frankfurt nanti. Pemerintah telah menganggarkan jasa kontraktor juga agency untuk menghias booth serta mengundang wartawan peliput berita, sehingga para exhibitor bisa fokus pada materi acara. Beruntungnya adalah ada tiga laki-laki yang bisa kerja kasar pada saat memasang stiker nan besar itu, yakni; saya, Chris Lie, dan Peter Prinsloo, suami mbak Laura Prinsloo selaku ketua panitia yang juga kerja bakti di booth. Kami menghabiskan satu sore sampai booth benar-benar beres dan tuntas. Jadi, selain sebagai pemateri, kami juga merangkap kontraktor. Sempat terpikir begini “ini bagaimana kalau yang dibawa ke Bologna wanita semua?”. Saya sendiri kesulitan membayangkannya. Sempat terdengar beberapa celetukan di media sosial tentang para exhibitor yang dikiranya beruntung bisa bersenang-senang di Eropa padahal kondisinya sama sekali tidak sehingar-bingar itu. Di situ kadang saya merasa sedih.

image

Selayang Pandang Bologna Children’s Bookfair
Bologna Children’s Bookfair merupakan event internasional tahunan tentang buku yang diikuti oleh banyak negara dan diselenggarakan di kota Bologna. Pada event kali ini, ada sekitar 1.000 booth yang diikuti oleh sekitar 97 negara. Area untuk event ini bernama Bologna Fierre, yang luasnya nyaris satu kecamatan. Venue-nya berupa hangar/hall besar yang jumlahnya sampai 30an bangunan. Tiap hall diberi nomor untuk memetakan isi dan jenis boothnya. Harap diketahui bahwa event ini merupakan Business to Business (B2B), sehingga yang hadir ke event tersebut bukan orang umum, bahkan tertulis 18+ di tata aturan. Untuk mengitari seluruh booth di 30an hall ini saja cukup menguras tenaga. Event ini dibuka pada tanggal 30 Maret, dan venue-nya sendiri dibuka pada jam 09:00 sampai jam 18:00. Tujuan keikutsertaan pada event ini adalah jual beli copyright sebuah buku. Ada juga yang hadir beberapa ilustrator yang menjajakan portofolionya. Bahkan ada beberapa agency ilustrator internasional yang menyewa booth di sana, dan ada beberapa nama ilustrator lokal yang juga ikut di agency-agency tersebut. Pada bagian depan venue, pengunjung disuguhi oleh beberapa etalase kaca yang menampilkan buku-buku pemenang penghargaan tahunan, juga pajangan ilustrasi karya ilustrator-ilustrator ternama dunia. Dan yang mencuri perhatian saya adalah sebuah dinding booth kosong yang dipakai oleh para ilustrator untuk memajang kartu nama serta selembar portofolionya. Saya rasa ini perlu diadaptasi di beberapa event kreatif yang berkenaan dengan dunia ilustrasi di Indonesia, seperti Popcon Asia, Mangafest UGM, Pasar Komik Bandung, Cocoon Fest, dll. Sebagai tambahan informasi, Indonesia untuk pertama kalinya mengirimkan delegasinya di event ini. Semoga info ini tidak keliru. Di event ini, ada ratusan acara yang diselenggarakan, baik secara resmi oleh panitia bookfair, atau oleh para penyelenggara booth. Ada show yang berbahasa Inggris, tapi tak jarang pula yang berbahasa Italia. Jadi kalau nonton talkshow-nya tinggal ikut tertawa kalau yang lain tertawa. Saya selalu kagum pada beberapa writer dan ilustrator dari luar negeri yang berani mampir menjajakan karyanya ke booth-booth meskipun bahasa Inggris mereka sangat kacau. Tapi kerennya, karya dan keberanianlah yang bicara pada akhirnya. Selain ditugaskan untuk meriset ilustrasi, kami para exhibitor juga diminta untuk mempresentasikan materi kepada pengunjung yang ‘sudi mampir’ ke booth kami. Dan yang tak kalah seru adalah ketika saya dan Chris Lie diminta berimprovisasi melukis gravity di salah dua panel booth yang kosong.

Baca Juga  Jalur Dialihkan, Truk Terguling

image

Materi Presentasi
Sebagai exhibitor, kami diberi jadwal untuk mempresentasikan materi di booth secara bergantian selama empat hari event. Jadwal presentasi dijadwalkan mulai jam 10:00 sampai jam 11:00. Setelah itu kami diminta untuk menjaga booth setiapkali ada pengunjung yang bertanya. Hari pertama diisi oleh presentasi Chris Lie tentang manajemen studio ilustrasi bertaraf internasional. Di hari kedua, Mbak Arleen Amidjaja memprensentasikan tentang pengalamannya menulis lebih dari 200 buku anak (Wow, saya saja tercengan pada saat menengarkan presentasinya). Hari ketiga, Clara Ng berkesempatan mengisi tentang pengalamannya menulis buku anak di Indonesia. Sedangkan di hari terakhir, saya mempresentasikan tentang Re-formulasi folklore ke dalam cerita baru sebagai jembatan penghubung antara generasi baru terhadap nilai-nilai luhur adat dalam pengemasan karya yang disesuaikan dengan jaman sekarang. Awalnya saya berniat membawa materi tentang IP Jagad Raya yang sedang kami kembangkan tapi karena belum cukupnya data, akhirnya saya memakai proyek Nusantara Dwiraga yang saya buat di tahun 2008. Ketika saya mempresentasikan bahwa folklore di Indonesia ditularkan dengan budaya tutur, diamini oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai dosen sejarah di Itali yang menyatakan hal yang sama di negaranya. Secara umum, presentasi kami berempat berjalan lancar dan baik.

Temuan-temuan
Event Bologna Children’s Bookfair merupakan surga visual bagi para ilustrator yang ingin memperkaya referensi gaya gambarnya. Di event ini, pengunjung disuguhi ribuan buku ilustrasi dengan berbagai gaya. Seperti pernyataan di atas, meskipun judulnya Event Buku Anak, banyak yang isi dan gaya gambarnya tak layak dikonsumsi anak-anak. Gaya gambar yang dark dan sedikit freak juga banyak dijumpai di sana, khususnya di buku-buku Eropa. Untuk lebih jelasnya, saya akan menjelaskan temuan-temuan saya ke dalam tiga poin:

1. Nuansa Warna
Setelah saya berkeliling ke booth-booth yang berisi buku, ada kecenderungan pemilihan warna gloomy dan pastel lembut pada buku-buku yang dibuat oleh negara empat musim. Kecenderungan pemilihan warna ini sangat dipengaruhi oleh cuaca yang kemudian menginspirasi penulis dalam membuat cerita serta ilustrator dalam memilih warna. Ketika saya menilik buku-buku Indonesia dan negara-negara dengan dua musim, lebih banyak yang memakai warna cerah dan terang. Demikian pula negara-negara dengan kondisi alam yang didominasi gurun, rata-rata pemilihan warnanya pun seakan disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sana. Psikologi warna ini ternyata tidak bisa dipaksakan. Dari hasil ngobrol dengan penulis di booth Malaysia pun warna-warna gloomy di buku-buku buatan mereka tidak ‘ramai’ di pasar. Hal yang sama terjadi pula di Indonesia. Saya tidak mengatakan kalau buku-buku dengan tonal pastel tidak laku, tetapi ‘sudah punya pasarnya sendiri’. Yang saya maksud dengan warna gloomy adalah warna terbias. Kalau di Photoshop, warna yang opacity-nya diturunkan hingga 60% dengan background putih. Hingga saat ini, market Indonesia masih menyukai buku-buku ilustrasi dengan warna cerah ceria ketimbang warna-warna suram.

2. Gaya Visual
Saya membandingkan gaya visual di buku Indonesia dengan buku-buku negara lain, ternyata gaya visual kita cenderung lebih realis. Mungkin karena saya hanya melihat buku-buku yang terpajang di rak, penilaian saya bisa saja keliru. Tapi ketika saya membandingnkannya dengan gaya ilustrasi Eropa dan Amerika, mereka cenderung berani mendeformasi bentuk objek tanpa ragu-ragu, bahkan sangat melampaui khayalan. Selain daya ilustrasi, yang juga tak kalah menarik adalah penyampaian ceritanya. Tak jarang imajinasi mereka dibuat seliar mungkin untuk menulis cerita anak. Saya sempat ragu dan menanyakan salah satu buku yang ceritanya cukup absurd, bahkan untuk dimengerti oleh saya. Ternyata dari penjelasan mereka, buku itu memang untuk anak-anak. Gaya visual yang juga cukup deformatif juga banyak dipakai di buku-buku anak Korea dan Hongkong. Saya belum berhasil meneliti mengapa Indonesia lebih memilih gaya visual semi realis untuk penyampaian pesan. Yang pernah saya pelajari dulu semasa kuliah di DKV ITB, masyarakat kita masih perlu diyakinkan dengan sesuatu yang paling mendekati dirinya. Buktinya, masih banyak iklan-iklan TV yang bernada hard selling dengan meneriakkan nama produk berulangkali dan diperankan oleh model manusia. Hal itu juga tertampak di iklan billboard dan media cetak lain. Sementara itu, di Jepang sudah menggeser ‘objek penyampai pesan’ dengan gambar-gambar kartun yang bentuknya sangat sederhana. Saya menduga hal ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan masyarakat umum. Saya pernah mendengar kalau mata orang Indonesia itu sindrom ruang kosong. Kalau ada ruang kosong, maunya memenuhinya sampai rapat. Dan itu juga terjadi di pengilustrasian mayoritas buku-buku kita. Cover buku-buku Eropa relatif clean. Kadang hanya menampilkan satu objek kecil dengan judul yang besar, kadang objek digambar besar memenuhi sampul dengan judul kecil. Saya sendiri bertanya-tanya, “Ini desain cover kalau dikasih ke editor lokal kemungkinan besar langsung mental….”

Baca Juga  Facebook Embed Example

3. Konten Buku
Saya berdiskusi banyak dengan Clara Ng soal konten buku anak. Dia berujar, pasar buku anak di Indonesia masih di dominasi oleh penikmat buku-buku bergenre theologis dengan konten teknikal (mujarobat), tapi masih jarang sekali yang mau mengusung sastra dan filosofi. Padahal, pendidikan karakter seorang anak justru terlatih oleh pengenalan filosofi dini. Selain membentuk karakter, konten ini juga akan membentuk logika. Di luar benar dan tidaknya, saya kembali menilik buku-buku terbitan negara kita yang memang demikian adanya. Harus ada penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh bacaan anak terhadap tumbuh kembang anak. Merespon obrolan tadi, saya berpikir itu semua terjadi karena pendalaman dan pemahaman orang tuha (khususnya) terhadap konten buku masih sebatas ambang, tapi belum mendalami konsep. Sehingga apa yang kemudian laku dan dicetak berulang-ulang adalah buku-buku dengan konten di atas. Tentu banyak sekali buku dongeng yang laku keras di pasar Indonesia. Hal ini membuktikan hal positif bahwasannya masyarakat kita masih mempunyai daya beli tinggi dan jumlah kelahiran anak masih sangat tinggi.

4. Sustainability Konten
Ada sebuah hall yang berisi booth asal Eropa dan Amerika yang menjual konten IP (Intellectual Property). Tidak hanya untuk buku, tapi juga TV show dan produk turunan. Satu hall tersebut menjual satu konten IP yang ternyata baru saya sadari kalau mereka yang punya IP-nya setelah saya datang ke booth itu. Sebutlah nama-nama Popeye, Alvin and The Chipmunks, Minion, Masha and The Bear, dan beberapa IP lain yang dijual rights-nya di sana. Tak perlu jauh-jauh ke Eropa, di booth Malaysia pun ada penerbit Gempak yang mengeluarkan seri komik pengetahuan dengan kemasan IP X-venture Xplorers yang diterjemahkan dalam 3 bahasa. Mereka ini sadar akan pengembangan satu konten IP yang digagas berkelanjutan. Alih-alih menerbitkan judul lepas dengan tokoh cerita yang terus menerus berganti, para pemilik IP ini fokus mengembangkan isi cerita dengan konsep dan universe yang sama, kemudian diterbitkan serial dengan konten yang berbeda-beda. Sehingga, ketika produk ini hadir di pasar secara berkelanjutan, maka para pembeli akan hapal dan mengingat nama IP tersebut. Sementara itu, khususnya untuk buku anak di Indonesia masih jarang yang fokus pada pengembangan IP berkelanjutan. Tentu ada beberapa, dan bahkan sangat sukses, tapi tidak banyak yang begitu. Sementara, Amerika sudah menggagas konten IP tersebut dan menurunkannya ke banyak media sehingga IP tersebut jauh lebih menguasai pasar karena hadir konsisten. Prinsip pemikiran ini sudah dianut oleh animator, developer game, dan sebagian komikus di Indonesia. Mungkin sudah saatnya buku anak pun ikut bergerak ke arah yang sama.

Demikian temuan-temuan yang berhasil saya dapatkan di sana. Saya berharap apa yang saya riset dapat bermanfaat bagi para kreator sekalian. Catatan tambahan, selama di Bologna, saya hanya punya waktu 3 jam untuk jalan-jalan ke kota setiap usai acara selesai. Bahkan sampai hari terakhir, saya dan Chris Lie hanya punya waktu 2,5 jam untuk menjelajah kota Florence karena mepet sekali dengan penerbangan kami pulang. Sehingga tak ayal acara jalan-jalan berganti menjadi acara lari-lari demi bisa menjelajah lebih luas negara Italia. Saya berharap, di event-event berikutnya, dan di tahun-tahun berikutnya, kawan-kawan memenuhi kapabilitas untuk dikirim ke event-event keren ini, sehingga bisa menyebarkan temuan-temuannya untuk menginspirasi sesama demi kemajuan industri kreatif di Indonesia.

Comments

SHARE
Previous articleMeski Sumbang Perak, Praveen Debby Mengaku Kecewa
Next articleWAJAH SALAH SATU PANTAI DI PURWOREJO
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here