Kuda Lumping dan Nuansa Mistisnya

1
829
Ritual sebelum kuda lumping dimulai

Oleh: Feri Kumala Sianida

Purworejo – Sewaktu saya berkunjung ke tempat pakde yang bertempat di Mudalrejo, Loano, Purworejo, kebetulan sedang mengadakan pagelaran seni kuda lumping dan tari topeng. Pakde saya (P. Haryono) juga salah satu pemilik grup kuda lumping “Turonggo Joyo”.

Dalam pagelaran seni tersebut menampilkan beberapa grup, antara lain Turonggo Joyo dari Mudalrejo Loano, Turonggo Seto dari Karangrejo Loano, Turonggo Satriya Budaya dari Somongari Kaligesing, Karso Turonggo dari Penungkulan Gebang, Turonggo Muda Langgeng dari Kedung Pucang Bener dan Tari Topeng dari Mayungsari Bener.

Sesajen
Sesajen
Pawang sedang memecut penari yang kesurupan
Pawang sedang memecut penari yang kesurupan

 

Tari kuda lumping dari grup satriya budaya somongari, Kaligesing, Purworejo
Tari kuda lumping dari grup satriya budaya somongari, Kaligesing, Purworejo

Kuda Lumping merupakan tarian tradisonal Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit yang menaiki kuda. Kuda dalam tarian ini menggunakan kuda kepang yang terbuat dari anyaman bambu yang dibuat menyerupai kuda. Kuda kepang dihias menggunakan cat beraneka warna.

Tari kuda lumping ini  menampilkan beberapa prajurit yang sedang menaiki kuda kepang. Aksi pemain  kesurupan juga menjadi bumbu mistis dalam pertunjukan ini.

Ketika pemain kuda lumping ini kesurupan, biasanya mereka tidak sadar pada apa yang dilakukannya. Dalam kejadian ini, penari dipercaya telah dirasuki oleh roh atau danyang (dalam bahasa Jawa). Penari yang dirasuki danyang akan bersikap seperti danyang yang telah merasukinya dan akan meminta sesaji yang telah disiapkan sebelumnya. Untuk mengeluarkan danyang biasanya penari akan duduk di kursi yang sudah di tutup kain putih dan di atas kursi terdapat 1 jaranan yang disebut turonggo, kemudian pengendang akan menghentakkan kendangnya.

Tari Topeng
Tari Topeng
Semua penari pada kesurupan
Semua penari pada kesurupan

Aksi keserupan merupakan aksi yang ditunggu-tunggu oleh penonton. “Saya suka nonton kuda lumping pas lagi kesurupan, karena tingkahlaku pelaku terkadang lucu kaena dikendalikan oleh danyang yang merasukinya”, ujar ika salah satu penonton.
Bakaran manyan dan sesaji selalu menjadi ritual utama aksi keserupan dalam pertunjukan kuda lumping.

Kendati demikian, pertunjukan kuda lumping merupakan kesenian yang patut untuk dilestarikan, karena salah satu budaya kesenian milik kita.

 

Video:

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaPenembakan Kantor Traning Go-Jek
Berita berikutnyaMengais Rezeki dengan Kuda
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Aku seorang wanita yang dilahirkan di Purworejo 23 tahun lalu, namaku Feri Kumala Sianida. Hobiku jalan-jalan sama nulis, dan aku memiliki motto dalam hidupku tak mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang kita harapkan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here