Ramadhan Ramdani

0
302
Ilustrasi (deviantart)

Oleh: Ilhan Erda

“Puasa, puasa telah tiba, puasa!
Saatnya, saatnya tuk mensucikan diri!
Yuk, mari kita songsong perbaikan diri…..”
Berulang-ulang kau nyanyikan lagu itu teman, yang katanya kau reka sendiri. Bukan jiplakan atau saduran penyanyi lain. Hemm, kamu begitu berkesan buatku.

Alvin, dia kupanggil begitu. Sebayaku yang sama-sama satu kelas semenjak duduk dikelas SD sampai SMA sebelum dipisahkan di jenjang perguruan tinggi. Dia disekolahkan oleh Ayahnya ke perguruan tinggi swasta milik salah satu organisasi Islam besar di negeri ini.
Hubungan kami sangatlah erat. Melebihi hubungan keluarga malahan. Dikala bermain siang hari, semua kekonyolan dan keisengan khas anak kecil selalu ku lewatkan bersama Alvin sampai SMA meski frekuensinya agak berkurang, karena dia ada di kelas IPA sedangkan aku di IPS.
Dan hari ini aku, akan pulang kampung. Pulang menjemput simpul asa dan memoar indah semasa kecil hingga remaja yang membentuk aku seperti ini. Waktu-waktu di mana pemikiran dan inspirasi dari lingkungan dan orang-orang begitu mengena dan menghujam kuat di kepala kami.
Aku pulang kampung, sebenarnya bukan dikarenakan akan menyambut hari agung Ramadhan tapi, karena aku sudah tak betah bekerja sementara sebagai kuli bangunan dan sudah menganggur. “Ya, semenjak habis kontrak dari sebuah PT PMA Jepang di daerah Bekasi, aku membuka beberapa usaha dan syukurlah aku mendapat ilmunya, dan labanya belum bersahabat alias merugi.
Perjalanan Bekasi ke kampung kurasakan sudah bukan sebuah jarak yang jauh, atau kalau mengikuti Teori Relativitas Massa, c semakin variable, dan itu mutlak karena pengaruh syaraf otak yang karena seringnya menjadikan biasa.
Biasa pula perjumpaan aku saat pulang kampung, dan ketemu dengan Alvin. Sama-sama usia 24 tahun, lebih muda aku 12 hari. Tapi dari segi pemikiran, ya kita bahas lebih jauh nanti saja kawan.
Masih sama dan ajeg, Alvin tak ada keanehan yang lain, sedari kecil memang dia terkenal sebagai anak masjid”, sama-sama aku belajar mengaji di Mbah Barif, sampai aku berpindah-pindah ke TPQ Batik. Tapi ilmu yang aku dapat dari mengaji hanya itu-itu saja, beda dengan Alvin, dia sampai mengaji ke beberapa kitab, di mana cara pembacaannya harus diterjemain ke Jawa Pegon yang merupakan karya- karya pujangga Islam tersohor.
Lha sedangkan aku, khatam Quran cuma sekali, itu saja sudah lampau sekali dan sekarang bacanya agak tersendat-sendat.
Alvin begitu fasih perihal membaca segala kitab dan dia rajin menunaikan shalat berjamah di masjid. Tepat lima waktu, “Aku?”Jangan tanyakan dua kali ke aku kawan”.

Semua problematika aku bahas dengan dia mulai sepakbola sampai politik, dan aku jika keluar entah ada tontonan hiburan band atau pentas seni di alun-alun kota, pastinya aku ajak dia. Bukannya aku kuper di kampung, tapi pergaulan di tempat kami adalah mengelompok, atau mengcluster ada yang suka ke bilyard, minum, ngeband, olahraga dll. Sedangkan aku, boro-boro mau ngapel, lha dari sandang busana yang aku kenakan saja sudah ketahuan kalau aku anak nya tak gaul, dan kurang dilirik kaum Hawa rupanya,
Sama dengan Alvin, bedanya dia menonjol di otak dan akhlak. Kalo aku hampir semua teman dan tetangga aku kenal, karena kata teman dan tetangga rumah aku orangnya supel dan ramah.
Ramadan. Tepat hari ke 3 Aku jumpai Alvin, tetapi dia belum cerita apa saja kesehariannya 4 tahun belakangan ini di kampung halaman, sedangkan aku sudah merantau, berpindah pindah pekerjaan.
Alvin sekarang bekerja sebagai guru honorer di sebuah Madrasah swasta di kota kami.
Tutur kata dan peranginya semakin tahun semakin bertambah santun, tak menggurui tapi mengakrabi.
“Ram…inget tow pas aku dulu ngomong ke kamu, tambah susah ya cari jodoh yang perawan ya jaman sekarang.”
“Tambah semrawut saja, gila, edan sekali hubungan gaya berpacarannya.”
“Yayaya Al…..tapi sebenarnya aku juga pengen. “Apa aku nikah saja dan cari gadis pondok?”balasku saat itu.
Malam ini kamu utarakan pertanyaan yang sama, tapi tak panjang lebar kau membahasnya, kau buru-buru menyambung tadarus di rumah setelah Tarawih berjamaah di surau.

“Oh….kerajinanmu dan disiplin beribadahmu tambah hari buat aku salut dan bangga Alvin…” batinku
“Assalamualaikum kawan, besok malam kita begadang, lama kita tak begini tow…”message yang terbaca darinya.
Masih terngiang, dimana aku mengejeknya, karena piyama yang dia kenakan saat Tarawih 12 tahun lalu, dan dia memerah mukanya, hampir menangis. Aku memang terkenal banyak omong, kecilnya nakal dan semua kriminal sudah aku lakukan dari maling, rokok, hampir mati tenggelam, minum baygon cair, sampai hilang di Kota Bandung.
Tapi untuk satu peristiwa ini, dimasa itu, aku tak kan pernah lupa Al..jadi kuceritakan kisah ini untuk kawan-kawan baca.
Setelah semua orang di surau beranjak pulang sehabis mengaji, kami berdua duduk di serambi ruang tengah rumah Alvin, dan kedua orang tuanya nampak sudah tidur.
“Ram, kau lihat aku seperti apa?”
“Bagaimana perbedaan 4 tahun yang lalu, mungkin setelah SMA dan sampai terakhir ini?”
“Tolong dengan jujur kau ungkapkan apa yang kau lihat dan ada di benakmu.”
Dia seperti menodong dan meminta aku layaknya Jaksa Penuntut Umum, apa dia layak di seperti itukan, bukankah aku yang seharusnya dibeginikan?”sergahku membatin.
Hening. Senyap.
Aku belum memberanikan diri ungkapkan semua cerita dan apa yang ada di lubuk hati ini. Nampaknya dia menunggu.

Ku beranikan diri. Ku buka awal kata, tentunya lebih hati-hati, yang kuhadapi bukan Alvin usia SD, tapi seorang pemuka, pemuda alim di kampung ini.
“Sahabatku Alvin, dengan ikhlas, jujur aku melihat kamu setiap dan dari tahun ke tahun bukannya berkurang amaliah dan perilaku luhurmu, tapi semakin bertambah dan kamu patut jadi tauladanku. Aku saja shalat masih bolong-bolong, belum dalam hal kebajikan yang ditetapkan syariat lainnya. Bolehlah kau membimbingku teman?”
“Sudilah kiranya kamu jadi Guru sekaligus sahabat, nampaknya aku akan lama di kampung teman, sehabis lebaran tahun ini aku akan ke Bekasi lagi mencari pekerjaan.” Begitu aku menjawabnya.
“Astaghfirullah ,Ram.. jikalau mencari Guru itu yang tepat dan kadar keilmuannya mumpuni. Jangan kau lihat dari luarnyad saja, bukankah alim dan takaran iman seseorang ada di dalan sanubari saja, dan hanya yang Haq yang tahu kawanku?”
“Kau masih sama seperti yang dulu All, tetap merendah, andhap asor dan tak jumawa, padahal dibanding dengan kebanyakan pemuda disini, perangai dan moralmu lebih baik temanku.”
“Ramdhani…maukah kau kuceritakan satu rahasia hidupku, dan sudilah pula kau tak menceritakan ke siapapun, walau aku tahu keburukan lidah adalah melebih-lebihkan perihal sesuatu cerita, yang belum tahu orang itu tahu benar keadaannya. Aku percaya kamu Ram.
”Dan mungkin aku tak patut menceritakan ini kepadamu, seharusnya ke Tuhan tempat aku mengadu bukan?”
“Tapi kamu adalah sahabat dekat, teman terbaikku teman, mau ya…..”
Duh Gusti apalagi ini, apa memang hatiku yang mendramatisir, atau firasat apa. Aku tak tahu kedalaman hati seseorang, dan semoga persangkaanku ke mahluk tak selalu buruk, Ya Allah semoga.
“Sahabatku Ram…aku 6 bulan ini ada masalah, masalah dengan seorang akhwat. Aku munafik ya mungkin. Aku yang selalu mengajar Agama di Madrasah, rajin ke Surau, menjaga diri dari barang haram tapi senyata-nyatanya aku telah zina Ram…”
Telingaku seperti mendengar cercauan, komat-kamit dukun yang membual dengan sejuta jampi ampuhnya, yang coba kelabui pasiennya. Aku tetap sedikit mengacuhkannya.
Dia menegurku.
“Ram…kiranya kamu tak mau mendengarkanku bicara ya tak apa, ini memang benar adanya dan kamu orang ke 3 setelah Bapak dan Ibuku teman. Sudilah kau dengarkan ini?”
“Aku zina Ram…wanita yang seharusnya jadi pendamping, teman berjuang ku dalam menegakkan jalan kebenaran, kini aku ludahi sendiri. Aku terjerembab ke kehinaan kawan.”
“Tabir kesucian dan kemuliaan itu telah aku langgar. Sewaktu di rumahnya Ram…aku hanya sekali saja tapi entah kenapa wanita itu mengadu seraya memohon dan menangis tersedu-sedu meminta aku menikahinya.”
“Ram……?’
“Heiiii…….”
“Hahh…tapi bukankah sudah pasti itu dari nutfah mu, kan bisa saja dengan lelaki lain sebelummu Al?”
“Ada juga tes DNA, untuk melihat dari siapa ovum dia dibuahi?”
“Aku sudah buta. Aku tak berdaya Ram….noda itu ganjarannya 40 tahun bukan, dan akhirnya kau tahu keseharianku ibadah hanya kamuflase ya, untuk menutupi kondisi sebenarnya?”
“Bukan begitu temanku Ram….?”

“Sekarang tepat hari puasa ke 4 di usia ke 24 tahunku ini. Jadi aku dan kamu sama usianya Alvin, beda 12 hari saja. Aku tahu persis itu. Dan tentang perangaimu, soal tadi tentang menghamili seorang wanita aku tak yakin sepenuhnya bahwa kau yang melakukannya. Meskipun ibumu yang mengutarakan kepadaku teman.

“Astaghfirullahaladzim…bacaan Yasinku meracau. Aku sendirian di pusara Alvin.
“Ya diabetes dan sakit jantung tiba-tiba merenggut ajalmu teman. Dan masalah gadis itu? Aku tak mau tahu tentang itu lagi kawan,”
“Kau adalah orang baik, dan kamu Alvin….
“Perangimu dan keihlasanmu dalam ibadah ingin sekali aku tiru di Ramadhan tahun ini. Tapi…
Sampai hari ke 4 Ramadahan ini saja aku alfa shalat Tarawihnya.
Shalat sunah sama sekali tak terjamah juga?

“Huftt….”

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaKeluhan Sang Pena
Berita berikutnyaFIFA Keluarkan Pernyataan Resmi Setelah Kunjungi Indonesia
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here