Kepungan: Tradisi dan Simbol Jawa

0
306
Tradisi Kepungan Di Jakarta

Reviensmedia.com – Rabu 28 oktober 2015, padatnya jalanan Jakarta tidak manyurutkan langkahku untuk pulang ke rumah. Tidak biasanya aku pulang menjelang Maghrib, karena aku yakin jalanan akan padat dipenuhi lautan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Dan itu benar terbukti jalanan begitu padat dan waktu tempuhku dari Kedoya Jakarta Barat- Kampung Rambutan Jaktim sekitar 2 jam, yang harusnya cukup ditempuh 1 jam saja.

Kenapa aku pulang lebih awal? Itulah pertanyaannya.

Yapp.. Aku pulang lebih awal karena ingin meghadiri undangan selamatan atas kelahiran putri pertama dari temanku. Selamatan seperti ini biasanya di Jawa atau mungkin daerah lain sering bilang kepungan atau genduri ini memang tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat kelahiran, rumah baru, kematian, ataupun yang lainya yang bertujuan memohon keselamatan suatu peristiwa.

Baca Juga  Cara Jitu Ungkap Kebohongan

Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda dalam melalukan “kepungan” ini, baik dari cara mendoakan ataupun memberikan makanannya. Seperti halnya di daerah, khususnya di daerah Jawa, saat melakukan tradisi ini tidak lepas dari yang namanya ingkung. Ingkung merupakan ayam kampung jantan yang dimasak dengan menggunakan santan. Biasanya ayam yang dimasak, ayam jantan yang masih utuh belum di potong-potong dan diikat menggunakan tali dari bambu.

Kebanyakan tradisi kepungan dengan ubo rampe ingkung hanya bentuk meneruskan warisan tradisi leluhur saja. Makna yang terkandung dalam ritual tersebut kadang tidak diketahui. Usut punya usut, sedikit untuk tambahan pengetahuan kita: Ingkung melambangkan bayi yang belum dilahirkan dengan demikian belum mempunyai kesalahan apa-apa atau masih suci, atau di
maknai juga sebagai sikap pasrah dan menyerah atas kekuasaan Tuhan.
Orang jawa mengartikan kata ingkung dengan pengertian dibanda atau dibelenggu.

Baca Juga  Memahami Abstraksionisme ala Baron Basuning

Entah apa makna dari simbol-simbol dalam “kepungan” sebenarnya yang harus menggunakan ingkung, cara memasaknya pun juga unik. Namun menurut teman-temanku di Jawa hal itu ditujukan untuk rasa syukur dan jamuan untuk tamu. Wujud rasa syukur itulah maka dipilihlah ayam kampung yang besar untuk membuat ingkung. Namun, entah apa makna yang sebenarnya dari semua itu.

Tradisi itu mungkin hanya ditemukan di Jawa, dan aku yakin daerah lain memiliki tradisi dan simbol-simbol yang berbeda pula, karena memang Nusantara ini memiliki beribu tradisi yang memiliki ciri khas sendiri.

Aku sudah tujuh tahunan tinggal di Jakarta dan sudah ikut tradisi kepungan yang ada di Jakarta dan Bogor, tidak menemukan adanya ingkung yang ada di tradisi Jawa tersebut.

Oleh: Tim ReviensMedia

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here