Karya: M. Khoirudin

“Wajahmu tampak pucat, apa kau belum sembuh?” Tanya Kelly padaku, haru. Terlihat matanya berkaca-kaca menatabku sendu. Kondisi tubuhku yang kian terpuruk karena peristiwa minggu lalu membuat Kelly semakin merasa bersalah. “Ada apa sayang, kenapa kau menangis?” ucapku lembut. Kelly hanya diam, entah apa yang ia pikirkan. “Seharusnya kemarin kau tak lakukan itu”, Kelly berkata padaku dengan nada sedikit tinggi. “Apa maksudmu?” balasku lirih. Hening tak ada jawaban, pertanyaanku diabaikannya. Ia meninggalkanku tanpa sepatah kata.

Kelly, dia adalah kekasihku. Ia wanita yang sederhana. Baju yang dikenakannya tak pernah neko-neko. Wajahnya cantik mirip Zaskia Gotik. Sikapnya lembut, ia juga murah senyum. Ya, karena semua itu aku mencintainya. Kisah pertemuanku dengan Kelly terbilang cukup unik. Keisenganku menghubungi no HP yang tercatat di uang dua ribuan berbuah manis waktu itu. “Hallo siapa ini ya” suara lembut itu terdengar syahdu di telingaku. Jantungku berdegup kencang, rasa grogi dan was-was mendatangiku. “La ini siapa, kok nanya?” jawabku singkat. “Masnya ini gimana, ditanya kok bales nanya” balas suara perempuan dari telfon genggam ku. “Langsung saja mbak, nggak basa-basi, perkenalkan nama saya Bejo, panggilan akrabnya “Jo”, kataku mengawali perkenalan tersebut. Tapi tiba-tiba tut.. tut.. tut.. Pembicaraan kami terputus. “Mungkin HPnya dicopet orang gila”, gumamku asal.

Menunggu beberapa menit berharap perempuan yang ku telfon tadi akan gantian menghubungi aku ternyata tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi no ke 2, 081777654*** yang ada di uang dua ribuan tadi. Kali ini lewat sms. “Kamu cowok atau cewek?” isi sms ku ke no tersebut. 10 menit menunggu tak ada balasan. Aku cek HP di berita terkirim, ternyata terkirim. Berarti pesanku terkirim, pikirku semangat. Sampai 5 jam pun belum ada balasan. “Ah nasib-nasib, emang mau jadi jomblo sejati kali ya?” rengek kepasrahanku.

“Mblo jombo hidup jomblo”, kataku keras. Selang 3 hari ada nomor baru menghubungiki. HP ku berdering, dengan malas ku angkat telfonnya. “Hallo Asalamulaikum”, sapa suara perempuan dalam teleponku. Lembut, jernih dan cessss… Nada suaranya mengalun indah membasahi hatiku yang tandus. Ah.. Tapi sepertinya aku kenal suara itu. “Hallo”, sapanya lagi menyadarkan aku yang sedang memikirkan siapa dia. “Ha.. Ha.. Hallo, waalaikumsalam”, jawabku kikuk. Lanjut aku menanyakan siapa nama penelfon itu. “Ini siapa ya?” tanyaku singkat. “Kamu lupa dengan suara ibu, sudah berapa bulan kamu tidak berangkat kuliah?”. Pertanyaan itu membuatku kaget. Sebentar ku memutar otakku. Akhirnya aku tau siapa yang sekarang berbicara denganku. Ternyata dia adalah Ibu Fatma, Dosen Pembimbing skripsiku. Ahhh.. Pusing aku teringat tugas akhir kuliahku itu. “Oh iya aku ingat, Ibu Fatma kan?” jawabku, kemudian mencoba memastikan kebenaran dugaanku. Ternyata memang benar beliau bu Fatma, setelah itu aku meminta maaf karena 5 bulan terakhir ini aku tidak pernah bimbingan skripsi. Ku jelaskan satu persatu alasanku, untung ibu dosen itu bisa memaklumi.

Bu Fatma adalah dosen yang baik, selain itu dia juga cantik. Banyak mahasiswa laki-laki menaruh hati padanya, tapi tidak denganku. Karena aku sadar dirilah, simpel kan alasanku. Pada percakapan lewat telfon itu, Ibu Fatma memberitahu aku bahwa ia 1 minggu lagi akan pergi meninggalkan kampus. Bu Fatma akan pindah mengajar di salah satu kampus di kota besar. Ia kemudian menyuruhku untuk pindah pembimbing. Bu Fatma memberiku no telepon dosen pembimbingku yang baru, saat ku tanya nama dosen yang akan menggantikannya, ia belom sampat menjawabnya. Bu Fatma hanya menyuruhku segera menghubungi nomor telepon yang telah ia berikan.

Baca Juga  Diary Kematianku

Sang surya mulai meredupkan sinarnya, beberapa kelelawar mulai terlihat terbang kesana-kemari. Aku memutuskan untuk menghubungi calon dosen pembimbingku yang baru besok pagi saja. Ku rebahkan badanku untuk sebentar melepas lelah karena kesibukanku yang cukup menguras tenaga. Tidak lama kemudian aku sudah tak sadarkan diri, aku tertidur pulas.

Lengkingan ayam jago yang sedang berkokok membangunkan ku pagi itu. Aktivitas hari itu sedikit berbeda dari hari biasanya. Ku sempatkan terlebih dahulu menghubungi nomor telepon yang diberikan bu Fatma. ” Assalamualaikum”, sapaku mengawali percakapan pagi itu. Tidak lama kemudian menyusul jawaban salamku, “waalaikumsalam, kamu Jo kan?” tambahnya bertanya padaku. Setelah itu ia memperkenalkan diri siapa namanya. Ia yang akan menggantikan bu Fatma untuk membimbing skripsiku. Percakapan ditutup dengan perjanjian kami untuk bertemu di kampus sore nanti.

Ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 15.40 ah aku harus segera ke kampus. Ku pacu motorku kencang karena takut terlambat dipertemuan pertamaku dengan ibu dosen. 10 menit kemudian aku sampai di kampus dengan selamat. “Tok tok tok” aku mengetok pintu ruangan yang telah kami sepakati tadi pagi lewat telepon. “Silahkan masuk”, terdengar jawaban ketokan pintuku. Aku bergagas segera masuk. “Sore bu”, sapaku. “Sore juga Jo, silakan duduk. Ternyata ibu dosen pembimbingku yang baru tak kalah cantiknya dengan bu Fatma. Ah tambah semangat ni gumamku dalam hati. Akhirnys perjanjian dan peraturan bimbingan skripsiku sore itu aku sepakati.

Waktu berlalu begitu cepat, skripsiku tak terasa hampir selesai. Seringnya aku bertemu ibu dosen itu ternyata membuatku jatuh cinta padanya. Lewat status akun facebooknya, aku juga tahu perasaan ibu dosen itu padaku. Ternyata kita mempunyai perasaan yang sama. Mengetahui hal itu tak lantas aku menyatakan rasa cintaku padanya.

Pak Dika, ia juga salah satu dosen yang menyukai dosen pembimbingku. Ia sempat menemuiku untuk memperingatkan agar aku jangan mimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan cinta dosen pembimbingku. Tapi aku mengacuhkannya, ya walaupun begitu aku juga sadar diri siapa aku. Kadang aku juga memergoki Pak Dika memberikan bunga untuk dosen cantik itu. Cemburu sih, tapi apa dayaku. Lalu aku pergi meninggalkan mereka dengan sedikit kecewa. “Kalah star lagi”, celotehku.

Hari itu hari Minggu, dosen cantik pembimbingku merubah jadwal bimbinganku. Ia mengatakan besok hari Senin tidak dapat berangkat ke kampus karena suatu hal, sehingga mengganti hari minggu menjadi waktu bimbinganku. Tidak biasanya kataku dalam hati. Ah turuti saja.

Aku datang menemui dosen pembimbingku. “Jo”, ia menyapaku. “Iya bu”, jawabku lirih. Dosen cantik itu terlihat canggung. “Kenapa bu” tanyaku. Aku menundukkan kepala, sembari kadang mengintip wajahnya yang ayu. “Ibu tau perasaanmu”, ia memandangku. “Iya” jawabku takut. “Maafkan aku yang tak bisa menyembunyikan perasaan ini”, aku mencoba memandang wajahnya. “Kenapa harus kau sembunyikan? Tak perlu” ia memberiku angin segar. “Apa kau takut pada Pak Dika?” tanyanya padaku. Aku diam, hening sementara di ruangan itu. Dosen cantik itu kemudian menceritakan bahwa ia tidak menyukai Pak Dika, dengan alasan sikap Pak Dika kadang tidak bisa menghargai seorang wanita.

Baca Juga  NASI GORENG YANG TAK DIRINDUKAN

“Lalu ibu suka sama saya???” tanyaku mantab. “Ah kamu Jo, bisa aja” wajahnya tersipu-sipu. “Panggil aku Kelly Jo, ini hari Minggu bukan jam kuliah. Lagian kita juga sedang tidak berada di kampus”, ucapnya. “Iya Kelly, apa benar kau juga mencintaiku?” tanyaku sekali lagi. “Benar Jo” jawabnya meyakinkanku. Hari itu benar-benar hari bahagiaku. Tak ku sangka tak kuduga. Ahhh dasar bejo. Dosen secantik Kelly bisa mencintaiku.

Tak tau dari mana, diam-diam Pak Dika tahu hubunganku dengan Kelly. Ia mendatangiku untuk yang kedua kalinya. “Jo, kamu anak kecil yang tidak tahu diri. Ngaca dulu Jo, ngaca.” ungkap dia sambil menuding matanya. Ku biarkan saja ia berkicau. Tampaknya ia sangat marah kali ini. “Kau diam saja, kau tuli ya?” ia menggedor meja di depanku. Percuma aku menanggapi Pak Dika, hanya akan menambah masalah saja. “Benar kau pacaran sama dosen cantik yang bernama Kelly itu? Jawab Jo”, ia membentakku kasar. Aku masih saja diam, dan dia pergi meninggalkanku begitu saja. “Awas kau Jo” pungkasnya.

Siang itu aku memutuskan untuk pulang bersama Kelly pacar sekaligus dosen cantikku. Perasaan senang menyelimuti kami berdua. Di perjalanan tiba-tiba “duar… ” motor Kelly ditabrak. Ia terjatuh. Aku memberhentikan motorku. Ku bantu Kelly berdiri, “kau tidak apa-apa sayang?” tanyaku padanya khawatir. Terlihat pria bertubuh kekar yang menabrak Kelly mendekati kami berdua. “Kau tak pantas dengannya, dia anak ingusan” kata pria itu pada Kelly. “Kau bicara apa Pak Dika? Keterlaluan”, jawab Kelly. Aku berusaha menjaga Kelly, karena terlihat ada gelagat yang buruk dari sorot mata Pak Dika. “Saya mohon Pak, anda pergi jangan ganggu kami”, ucapku. “Anda seorang figur panutan, janganlah berbuat konyol” tambahku.

Pak Dika memacu motornya kencang terlihat pergi meninggalkan kami. Tapi, ternyata ia kembali dengan motornya yang kencang mengincar Kelly untuk ditabraknya. Dengan sekuat tenaga ku coba menarik Kelly agar terhindar dari motor Pak Dika. Ku coba memegangnya seerat mungkin. Dan duar gubrakkk.

Aku tak sadarkan diri, entah apa yang terjadi padaku waktu itu. Seminggu kemudian aku membuka mata dan tersadar dalam gelapku, aku melihat Kelly duduk berada di dekatku. Ia mengkhawatirkanku, ia cemas. ”I love you Jo” bisiknya. Diketahui Pak Dika juga mengalami koma, karena kepalanya terbentur trotoar saat insiden itu terjadi. Lebih parahnya kaki dan tangannya harus diamputasi.

Comments

SHARE
Previous articleNikmatnya Sate Kambing Muda
Next articleHAL PERPISAHAN INI
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here