BEDUG PENDOWO EKSOTISME MASJID AGUNG PURWOREJO 

0
256

Oleh: Arofi Teja Pradana

Suara kokok ayam telah membangunkanku pada sahur kali ini yang terasa berbeda dengan sahur-sahur sebelumnya. Setelah terbangun, baru sadar bahwa pagi pertamaku berada di kampung pada suasana Ramadhan, tepatnya di Desa Golok, Kecamatan Banyuurip, Purworejo. Pagi itu udara terasa begitu dingin, karena memang bertepatan dengan musim kemarau.
Setelah santap sahur aku langsung keluar untuk jalan-jalan di sekeliling rumah. Ternyata suasanya masih tetap sama seperti dulu, yang berbeda hanya sawah yang dulunya hijau kini kering kerontang akibat kemarau panjang yang melanda Purworejo musim ini. Setelah itu aku berbegas membersihkan badan dan meneruskan shalat subuh. Setelah selesai shalat aku teringat pada acara dan janji yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari saat masih berada di Jakarta.

img_76481

Pagi Itu menunjukan pukul 08.30 dan aku langsung bergegas menuju tempat dimana aku dan temanku iriel ingin bertemu, yaitu di alun-alun Purworejo, tepatnya di depan Pendopo Kantor Bupati Puworejo. Pada hari itu kami akan menghadiri acara Seminar pendidikan yang diadakan oleh Persatuan Dharma Wanita Kabupaten Puworejo dan para pesertanya dari siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat se-kabupaten Purworejo. Kami berdua akan menjadi salah satu narasumber perwakilan dari civitas kami masing-masing. Kebetulan aku dan temanku ini adalah salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Jakarta tetapi berbeda civitas. Aku sendiri dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan temanku dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami hadir pada acara ini Sekedar untuk membantu adik-adik kami di Purworejo untuk memilih program studi di perguruan tinggi yang akan mereka pilih dan mereka sukai nantinya setelah lulus. Setelah aku bertemu dengan temanku di alun-alun kami berdua bergegas masuk ke Pendopo, karena kami sudah dijemput oleh salah satu teman kami yang juga dari PTN lain yang member tahu bahawa acara telah dimulai sejak tadi.

img_76381 img_76371

Acara yang dihadiri oleh siswa siswi perwakilan SMAse-kabupaten Purworejo ini, telah selesai dengan sukses. Setelah acara selesai aku dan temanku berbegas beranjak dari pendopo setelah berpamitan dengan para panitia dan Rekan dari civitas lain.

Waktu Menunjukan Pukul 13.30 siang, aku berencana melaksanakan shalat Zuhur di Masjid Agung Purworejo. Maklum saja letak tempat acara kami dengan masjid agung tidak begitu jauh sama-sama dalam lingkungan alun-alun Purworejo, maka kami memutuskan shalat di Masjid Agung. Ada satu rahasiaku yang sebenernya malu sekali aku ungkapkan, yaitu adalah aku sebagai anak keturunan asli Purworejo, aku belum pernah sekalipun menginjakan kaki di Masjid Agung. Maklum saja aku dari kecil sudah tinggal di Jakarta. Walaupun demikian tidak mengurangi kecintaanku dengan kampung halamku Purworejo. Hal ini suatu kenyataan yang seharusnya tidak perlu terjadi, namun sudah terlanjur begini dan semoga ini tidak di contoh oleh anak-anak Purworejo yang besar di kota lain.

Baca Juga  Purworejo Punya Festival Bogowonto

img_76301

Tidak terasa aku sudah ada di depan gerbang Masjid Agung dan kamipun bergegas menuju dalam Masjid. Saat berjalan menuju ke Masjid, dalam hatiku berkata, aku akan segera tahu isi di dalam Masjid dan saat menatap Masjid aku berfikir sejenak “tak ada yang istimewa dari masjid ini, hanya ada kubah dan pilar-pilar serta menara yang sepertinya untuk Adzan. Ini tidak jauh berbeda dengan Masjid-Masjid lainnya”. Namun setelah aku memasuki pintu utama masjid ada Hal yang tidak biasa aku lihat di Masjid-Masjid, di sebelah selatan masjid ada sebuah Bedug yang ukurannya berbeda dengan bedug lainnya.
Sebenarnya aku sudah mengetahui sejak dulu mengenai keberadaan bedug tersebut yang terletak didalam Masjid Agung Purworejo, namun aku hanya mendengar dari cerita orang, namun kali ini aku langsung melihatnya secara nyata.

Setelah aku berjalan beberapa langkah di dalam Masjid, aku langsung mengarahkan langkah untuk mengambil air wudhu untuk shalat zuhur tanpa menghiraukan keberadaan bedug tersebut. Selesai shalat aku mengajak temanku untuk menuju ke belakng dekat Bedug yang aku lihat saat Masuk Masjid untuk sekedar beristirahat sejenak menghilangkan lelah. Setelah berjalan mendekati bedug aku mulai tertarik untuk melihat apa yang sebenarnya menjadi keunikan bedug ini sehingga banyak menjadi pembicaraan banyak orang dan setiap orang yang tinggal di daerah Purworejo inipasti mengetahui kebradaan bedug ini.

img_76271

Aku mulai mengamati setiap sudut dari bentuk bedug yang konon beritanya bedug ini adalah bedug terbesar di dunia. Memang masuk akal dengan lingkar tengah bedug sedemikian besar dan kulit bedug yang begitu besar, lalu aku berfikir bagaimana cara orang-orang dulu membuat bedug seperti ini. aku mengetahui Bedug Pendowo adalah nama dari bedug ini, setelah aku membaca papan sejarah yang tertera di samping bedug. Sungguh Hebat dan Eksotik menurutku. Sebuah aset sejarah yang begitu hebat berada di kotaku Purworejo yang daerah lainpun tidak ada yang memilikinya.
Aku sangat menyayangkan dengan keberadaan bedug yang hanya tergeletak di Masjid seakan hanya seperti benda mati yang diperlakukan seperti benda mati lainnya. Tetapi ada sisi positif dari bedug itu berada di Masjid yaitu bedug ini menjadi sarana pariwisata gratis untuk orang yang sengaja mampir ke masjid ini hanya untuk melihat bedugnya ataupun sembari melakukan shalat.

Baca Juga  AIR TERJUN KITI KITI, EKSOTIS BIRU BERMUARA KE LAUT

Aku baru tersadar jika di masjid ini banyak orang tidur-tiduran dan beristirahat. Mereka beristirahat disekitar pelataran masjid dan sekitraran bedug. Tidak lama aku menatapi orang-orang yang beristirahat dan tiduran, aku bergegas mengalihkan pandanganku pada orang-orang yang melihat-lihat bedug tersebut, yang nampaknya mereka juga baru pertama kali melihat bedug sebesar itu. Hal ini jelas mengungkapkan bahwa bedug ini masih memiliki daya tari bagi orang sekitar dan orang yang berkunjung ke Masjid ini.
Memang sebuah pemandangan Eksotik bagiku dan suasana seperti ini yang akan membuat aku akan selalu kangen dengan kampung halaman. Suasana seperti ini tidak akan aku dapatkan di Jakarta. Lalu aku berfikir kalau saja Pemeritah Daerah (PEMDA) bisa lebih memperhatikan aset ini, maka aku yakin benda seperti ini bisa menarik wisatawan lokal maupun asing untuk bisa datang kesini dan bisa memajukan pariwisata di Kota Purworejo.

Adzan Ashar berkumandang,aku berbegas kedalam masjid untuk melaksanakan shalat, setelah ini aku akan berpisah dengan temanku untuk pulang kerumah masing-masing. Selesai shalat kami pun berpisah dan kembali aku berfikir ini merupakan sebuah pengalaman yang tidak bisa ku lupakan, pengalaman yang akan teringat samapi kapan waktunya aku pun tidak tahu. Semoga dengan sedikit ceritaku ini bisa mengobati rasa rindu kepada pembaca yang rindu akan suasana Masjid Purworejo dan keberadaan bedug Pendowo dan suasana Kota kelahiran Purworejo tentunya. Nantinya aku pasti akan datang lagi kesini dan itu pasti dan kembali melihat bedug pendowo yang menjadi eksotikme dari masjid agung Purworejo.

FOTO:Choiril Chodri

 

Comments

SHARE
Previous articleUntuk Menyelamatkan Nawacita Diperlukan Sikap Tegas Jokowi
Next articleLubang Sewu, Objek Wisata Menawan di Sisi Waduk Wadaslintang
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here