Dari Awal Salah Dugaan

0
166

Karya: Muh Khoirudin

 

Hujan mulai reda, Dua orang yang telah bersahabat sejak SMP itu memutuskan untuk pergi jalan-jalan.

“Jek, bosen ni di rumah terus, cari angin yuk” ajak Wildan.

Berhubung mereka sama-sama jomblo, akhirnya Jeki mengiyakan tawaran Wildan.

“Ayuk siapa tau ketemu jodoh”, jawab Jeki semangat.

“Sebentar, tapi aku punya firasat nggak enak ni” kata Wildan sambil mengelus jidatnya.

“Gimana kamu si Wil, ngajak-ngajak malah ngomong gitu. Gimana jadi nggak nih?” tanya Jeki sedikit kecewa.

Setelah berfikir lama, akhirnya mereka jadi untuk keluar cari angin. Dengan hanya dua orang saja mereka merasa kurang lengkap. Kemudian Jeki dan Wildan memacu motornya menuju rumah Bobi teman mereka biasa ngumpul bareng. Rumah Bobi cukup jauh, perjalanannya harus melewati hamparan sawah yang panjang dan luas untuk mencapai rumahnya.

Waktu itu memang keadaan sedikit berbeda, mungkin karena baru saja turun hujan. Biasanya jalan yang dilalui untuk menuju rumah Bobi habis Maghrib masih ramai, tapi waktu itu terlihat sepi.

“Kok sepi ya Wil, gak kayak biasanya”, tanya Jeki yang waktu itu duduk di belakang dibonceng Wildan dengan sepeda motor.

Tiba-tiba terdengar suara “toak klotak klotak ting ting”. Pertanyaan Jeki mengabur begitu saja, suara itu mengalihkan pandangan Wildan. Ia memperhatikan apa gerangan yang mengenai motornya. Motor Wildan seperti terbentur sesuatu di bagian bawah dan terdengar ada besi yang jatuh.

“Setandar motormu jatuh paling Wil, coba lihat masih ada nggak?” perintah Jeki.

Merasa penasaran dengan omongan Jeki, Wildan kemudian mencoba menggapai setandar motornya dengan kaki kirinya.

“Wah, jatuh beneran apa ya kok gak ada”, ungkap Wildan sedikit ragu.

Untuk mayakinkan setandar motornya masih ada atau tidak akhirnya Wildan menghentikan laju motornya. Ia mengamati lebih jelas ternyata setandar motornya masih ada. Mereka berdua lalu memikirkan kembali, kira-kira apa yang jatuh tadi.

Terdengar dari jauh ada beberapa orang sedang berbicara. Tapi Jeki dan Wildan mengacuhkan suara itu, mereka sedang sibuk mencari-cari bagian motor mana yang jatuh tadi.

Tiba-tiba “Pak tolong-tolong”, terdengar suara teriakan wanita minta tolong. Jeki melihat sepintas wanita itu melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka. Berfikir sedang gencar-gencarnya berita begal, membuat Jeki dan Wildan panik. Ada dua pemikiran gesit waktu itu. Apakah wanita itu benar-benar minta tolong, atau hanya modus kejahatan mengingat kondisi jalan di tempat tersebut sepi dan jauh dari pemukiman warga.

Baca Juga  Cerpen: Teladan Bapak

Wanita tersebut teriak kembali untuk yang kedua kalinya. “Pak toooolongg… pak tolong..”

Tanpa Jeki dan Wildan sadari dalam kegelapan malam itu ada sebuah mobil tanpa menghidupkan lampunya telah berhenti lama di dekat wanita yang meminta tolong tersebut. Terlihat mobil itu hanya menyala lampu rem saja. Keadaan tersebut membuat mereka tambah panik. Wanita itu semakin mendekat, Jeki dan Wildan diliputi perasaan iba dan takut.

“Pakkkkkkkkk… Tolong”, wanita itu kembali meminta tolong kepada mereka. Pilihan terakhir yang diambil mereka kabur.

“Cepet lari Wil, modus ini modus” teriak Jeki panik.

Posisi motor yang waktu itu berhenti di gigi perseneleng 3, membuat motor tak bisa berlari kencang ketika Wildan memacu motornya. Wanita itu semakin dekat, hampir saja dapat memegang baju Jeki.

“Woi pak, tolong woi pak… Pak pak pakkkk tolong”, teriak wanita itu semakin histeris.

Motor yang ditunggangi Wildan dan Jeki perlahan mulai dapat digeber, Wildan mengoper ke gigi perseneleng bawah, dan gas pol. Suara wanita itu terdengar semakin lirih, kemudian hilang. Badan Wildan dan Jeki gemetar, mereka sedikit lega karena dapat lolos dari kejaran wanita misterius tersebut.

Perjalanan Jeki dan Wildan ke rumah Bobi sudah dekat. Mulai terlihat pemukiman warga. Melihat ada segerombolan orang yang duduk santai di warung kopi, Wildan menepikan motornya. Dengan badan yang masih gemetar mereka menceritakan kejadian tersebut kepada warga.

“Kenapa kalian mas, kok kelihatan panik gitu”, tanya seorang warga yang sedang memegang segelas kopi hangat.

“Aaaanu tadi Pak, di sana ada wanita minta tolong. Tapi kami takut karena suasana sepi dan sedang rawan kejahatan. Terpaksa kami lari meninggalkan wanita itu Pak” ungkap Jeki dengan gugup.

“Bagaimana kalau kita lihat sama-sama ke sana Pak, siapa tau memang benar wanita itu minta tolong”, ajak Wildan ragu kepada warga.

“Tempat itu memang acap kali terjadi kejahatan Mas, yang terakhir kejadiannya baru tadi malam. Korbannya seorang wanita, ia dibunuh sebelum motornya dibawa kabur” tutur penjaga warung kopi, sembari merapikan gelas kotor di meja warung.

Baca Juga  Bisik Kecil Aida

“Waduh.. Jangan-jangan yang kita temui tadi hantu Jek?” tanya Wildan.

Wajah Jeki dan Wildan terlihat pucat, ketika mendengar cerita penjaga warung tersebut. Dan pada waktu itu salah seorang warga mengajak Jeki dan Wildan beserta warga bersama-sama untuk mendatangi tempat di mana Jeki dan Wildan bertemu wanita tersebut.

Selang beberapa menit kemudian mereka telah sampai di TKP. Mobil yang berhenti di dekat wanita yang meminta tolong saat peristiwa tadi sudah tidak ada di tempat. Wanita itu juga tidak terlihat.

“Pak wanita yang dibunuh tadi malam tempatnya di sini juga Pak?” tanya Wildan, bulu kuduknya merinding.

“Iya di sini, tepat di sini persis” jawab seorang warga.

“Wah berarti wanita yang kita temui tadi berarti hantu Jek” seru Wildan kepada Jeki.

Wildan terlihat berjalan pelan mendekati Jeki. Ia ketakutan. Seorang warga mencoba menenangkannya.

Tetapi tiba-tiba “Pakkkkk tolong… Pak pak tolong pakkk”

Suara teriakan minta tolong itu terdengar, tetapi tidak ada wujudnya. Wildan dan Jeki semakin ketakutan. Warga pun ikut bingung mendengar suara tersebut. Semua panik, hantu perempuan yang terbunuh tadi malam gentayangan, pikir mereka.

Kemudian perlahan muncul dari balik pohon besar di pinggir jalan kepala seorang wanita sambil berkata Pak tolong pak tolong. Satu orang warga lari tunggang langgang, meninggalkan tempat tersebut sambil teriak “Hantu… Hantu… Hantu. Sementara Wildan dan Jeki berpelukan erat, tidak berani membuka matanya. Keadaan semakin seram dan menakutkan.

Lalu sosok wanita itu keluar dari persembunyiannya, ia menampakkan diri di dekat pohon besar. “Pak tolong Pak pak pak tolong” selang berapa lama ia tertawa cekikikan, kemudian menyanyikan lagu Bang Toyib.

Hello, ternyata dia orang gila. Mungkin dia mau minta tolong dicarikan suaminya yang lama nggak pulang-pulang. Jeki dan Wildan tertawa lepas dengan kejadian itu, ternyata dari awal salah dugaan. Akhirnya mereka tidak jadi ke rumah Bobi dan membatalkan niatnya untuk jalan-jalan.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here