Tikus Tak Tau Endingnya

0
177
Foto Koleksi Google

Karya: Muh Khoirudin

Seekor kucing terlihat geram ketika melihat musuh bebuyutannya melintas di depan matanya tanpa permisi.

“Herrrr… Nggak sopan, nggak punya tatakrama” gumamnya.

Merasa ada yang memandanginya sinis, musuh bebuyutan si kucing yaitu si tikus berhenti lalu ia mengatakan sesuatu pada si kucing.

“Kenapa cing lihat-lihat, nggak terima?” tanyanya tanpa rasa takut.

Mereka berdua kemudian saling bertatap muka. Saling melotot, dan tak ada jawaban dari si kucing atas pertanyaan si tikus. Beberapa detik kemudian datang seekor anjing jantan yang mukanya seram.

“Ehem… Cie-cie”, kata si anjing.

Melihat kedatangan si anjing dengan cie-cienya si kucing tambah kesal. Tapi ia tak berani menunjukkan kekesalannya, si kucing hanya mengangkat alisnya sedikit. Sementara si tikus yang masih terlibat pandangan mesdis (mesra tapi sadis) dengan si kucing terlihat tidak menggubris kedatangan si anjing dan cie-cienya.

Melihat si kucing dan si tikus sedang bersitegang, si anjing lalu melolong layaknya serigala.

“Auuu uu uu uuu au au au uuu ua ua au ua” lolong anjing itu.

Tapi berhubung si anjing bukanlah serigala, lolongannya terdengar fales dan tidak mengenakkan. Lolongan si anjing yang nyleneh itu tak ubahnya membuat si kucing dan si tikus tertawa. Mereka berdua cekikikan.

Mendengar si kukus (kucing dan tikus) tertawa, si anjing menghentikan lolongannya.

“Kalian menertawakanku?” tanya si anjing.

Mendengar si anjing bertanya, mereka berhenti tertawa. Lalu si tikus mendekati si anjing dan berkata padanya.

Baca Juga  Horor in Love

“Ayo lanjutkan lolonganmu, lumayan buat kita joget-joget. Bagus kok bagus bagus suaramu” celoteh si tikus agar tak dimarahi si anjing.

Tampaknya si anjing percaya-percaya saja dengan perkataan si tikus, yang mengatakan suaranya bagus. Tapi tetap saja ia enggan melanjutkan lolongannya, karena saat melirik si kucing terlihat tingkahnya sedikit aneh dan mencurigakan. Polah si kucing seperti mengolok dirinya. Kemudian si anjing memanggil si kucing agar mendekat.

“Cing sini kau, rupanya kau sudah bosan hidup?”

Mengetahui si anjing memanggilnya, si kucing sedikit ketakutan.

“Damai bro, damai. Jangan esmosi, eh emosi”, si kucing berkata dengan tubuh sedikit gemetar.

Suasana mulai memanas, si anjing menunjukkan tampang marahnya. Si kucing berjalan mundur perlahan menjauhi si anjing. Si anjing maju siap menerkam, matanya melotot dan memperlihatkan taringnya. Jantung si kucing berdegup kencang, nyawanya di atas ubun-ubun. Ia sangat ketakutan, ia ingin berlari tapi ia tak mau dianggap pengecut. Kalau ia diam, ia bakalan diterkam si anjing. Si kucing memutar otak untuk menemukan cara mengatasi si anjing. Di sisi lain si tikus tampak asyik melihat drama anjing dan kucing tersebut, kadang ia bersorak menyemangati si anjing, kadang ia bersorak juga menyemangati si kucing.

“Ayo njing makan saja tu kucing, bawa dia ke neraka. Maju terus njing, ayo”

Selesai membela si anjing, kemudian si tikus mendukung si kucing.

Baca Juga  Bertemu Jodoh

“Cing, jangan cemen lo. Sama anjing jelek aja takut. Bagaimana lo mau ngelindungin pacar lo”

Begitu terus si tikus mendukung mereka bergantian. Sampai pada akhirnya si kucing dan si anjing sadar bahwa si tikus nggak jelas mendukung siapa. Mengetahui hal itu si anjing mengurungkan niatnya menerkam si kucing, kemudian ia berjalan santai mendekati si tikus.

“Kus… Sebenarnya kamu membela siapa?” tanya si anjing.

Lalu si tikus menjawab pertanyaan si anjing.

“Aku di sini adalah hewan yang ukuran badannya paling kecil di antara kalian, jawaban aku membela siapa itu menyangkut hidup dan matiku. Jadi, di antara kalian siapa yang mau menjamin keamanan hidupku itu yang aku bela. Jangankan di dunia kehewanan seperti kita, di dunia sebelah juga seperti itu. Siapa yang membela ia yang dibela”.

Si tikus mencoba mencari posisi aman. Si anjing dan si kucing pun berfikir untungnya apa membela si tikus. Sepertinya tak ada gunanya. Mereka bertiga lalu duduk bersama. Dan si tikus membuka pembicaraan,

“Sepertinya yang mengarang cerita kita bertiga ini tak mampu menyelesaikan ending cerita kita. Dari tadi ceritanya juga nggak jelas alurnya ke mana. Lebih baik kita sudahi aja yuk cerita kita bro kucing dan bro anjing. Aku sebagai bro tikus merasa tak enak hati sebenarnya sama yang baca cerita ini. Tapi ya mau gimana lagi, endingnya harus begini. Cupetttttt si”

Comments

SHARE
Previous articleJEJAK LANGKAH DI GUNUNG MERAPI
Next articleTiang Listrik Miring, Respon PLN Dianggap Lamban
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here