Bromocorah Apes Tiada Tara

0
249
Illustrasi koleksi google

Karya: Muh Khoirudin

Segerombolan bromocorah sedang berkumpul malam itu, mereka sedang menunggu mangsa. Pengendara mobil mewah dan motor matic adalah incaran mereka. Terlihat ketua gerombolan itu si Gendon sedang memainkan pistol di tangannya. Beberapa anak buahnya tampak sedang berdiskusi serius, entah apa yang mereka bicarakan. Hujan turun begitu lebat, jalanan sepi hanya kadang melintas mobil polisi patroli yang khas dengan lampu kelap-kelipnya.

Malam telah larut, gerombolan bromocorah itu tampaknya tidak mempedulikan dinginnya malam yang menusuk kulit mereka.

“Ndon pulang aja yuk, sepi nih nggak ada mangsa”, ajak Goprak kepada komandan bromocorah tersebut.

“Kamu ini gimana to Prak, sabar dong. Ingat kata pak ustad di televisi itu, sebagaimana manusia itu harus bersabar menghadapi sebuah cobaan. Sepi, hujan, dingin ini cobaan buat kita Goprak. Kamu ini jadi orang kok mudah putus asa, jalanin dong dengan semangat pantang menyerah”, jawab Gendon si pimpinan.

Goprak terdiam, lalu mengangguk.
“Siap ndan”, jawabnya singkat.
Entah kenapa malam itu jarang sekali kendaraan lewat, padahal malam Minggu, mungkin karena hujan yang membuat orang malas bepergian.

10 menit kemudian terlihat sorot lampu dari kejauhan. Segerombolan bromocorah itu lantas meninggalkan tempat persembunyiannya lalu mengintai sorot lampu tersebut.

“Wah sorot lampunya putih terang nih, mobil mewah coy”, teriak goprak.

“Yang bener kamu Goprak, masa mobil mewah jalannya pelan?”, Gendon menyangkal.

Sorot lampu itu memang terang seperti lampu mobil mewah, tapi mereka heran lajunya tak kunjung sampai di lokasi tempat eksekusi begal yang telah direncanakan komplotan tersebut.

“Jalannya kaya bekicot tu mobil”, celoteh Gendon.

Pengintaian dan penantian panjang akhirnya terbayar, lampu itu tiba di hadapan mereka. Namun, mereka hanya melongo dan terkejut melihat penampakan di depan mata mereka.

“Ini ni.. Gara-gara mata Goprak yang katarak, 2 gerobak tukang nasi goreng dibilang mobil mewah”, ujar Gendon sambil geleng-geleng.

“Maaf komandan bos, ngantuk ini jadi nggak jelas ngelihatnya”, jawab goprak.

Baca Juga  Saat Ibu Guru Manis Datang

“Bos.. dari pada tak dapat mangsa kita sikat saja 2 tukang nasi goreng ini”, usul Cunel salah satu bromocorah perempuan di gerombolan tersebut.

“Jangan, kita ini merampok orang kaya saja, kasian orang nggak punya ini”, sahut Gendon.

Akhirnya mereka tidak jadi merampok 2 tukang nasi goreng tersebut, tetapi mereka minta dibuatkannya nasi goreng pada 2 tukang nasi goreng tersebut. Berhubung mereka dalam perjalanan pulang ya hanya ada nasi sisa saja untuk para bromocorah tersebut.

Setelah selesai tukang nasi goreng itu disuruhnya pergi oleh si Gendon.

“Sudah bang, terima kasih sering-seringlah kau lewat sini. Dah pergi sana”, ucapnya.

“Nasi sisa geratis ya bang”, tambah si Cunel.

Tukang nasi goreng itu kemudian pergi. Setelah makan tampaknya rasa kantuk menghampiri mereka. Ada yang bersandar, ada juga yang tiduran di atas kardus.

Waktu sudah hampir pagi, tak satu mangsa pun belum mereka dapatkan. Lelah dan ngantuk menyelimuti mereka. Dalam keadaan kecewa tersebut datanglah mobil mewah warna merah melaju pelan, tapi tidak sepelan tukang nasi goreng tadi. Mereka tersentak kaget lalu bersiap menghadang.

“Woi bos, mangsa ini. Ciyusssssss…” ucap goprak meyakinkan Gendon.

Sampai di lokasi akhirnya mereka berhasil menghadang mobil warna merah tersebut.

“Berhenti.. Keluar hoe keluar”, gertak gendon pada pengemudi mobil tersebut.

Keluarlah si pengemudi mobil tersebut dari dalam mobil. Lagi-lagi mereka kaget. Nenek tua yang keluar dari mobil tersebut. Sontak si Goprak mengintrogasi nenek tersebut. Berikut introgasinya:

Goprak: Dari mana Nek malem-malem begini?

Nenek: Mau tau bingit ya?

Goprak: Jawab yang bener, dasar nenek ompong.

Nenek: Jangan galak-galak om. Aku juga belum ompong wekkk

Goprak: Yaudah jawab, dari mana?

Nenek: Habis dari roke-roke om

Goprak: Dasar, udah bau tanah aja bertingkah. Mau nyaingin om-om ya?

Nenek: Emang gue pikirin.

Kemudian si Gendon datang mendakati Goprak dan nenek tersebut.

Baca Juga  Di Atas Batu Menghitam

“Nek serahkan dompet dan HP”, perintah Gendon.

Dengan sedikit rasa takut, akhirnya nenek menyerahkan dompet dan HPnya.

“Dah, sekarang nenek pergi sana”, ucap gendon.

“Jalan kaki nih?”, tanya si nenek.

“Iyalah, masa naik mobil. Kita kan perampok berkelas, masa cuma ambil dompet sama HP aja.. Mobilnya juga dong. Lagian dompet nenek juga gak ada duitnya, udah habis buat roke-roke tadi ya?” tanya Goprak.

“Enggak om, ini sebenernya saya juga lagi butuh uang buat biaya operasi cucu saya. Tadi roke-roke juga cuma satu jam, wong nggak ada duit”, jawab nenek dengan memelas.

“Ah banyak cincong, mana kunci mobilnya?” ucap Gendon tak sabar dan kesal melihat rengekan nenek itu.

“Kuncinya ya di mobil lah, wong nggak nenek cabut”, jawab nenek.

“Bego lo Goprak”, ujar Gendon.

“Kan tadi yang minta kunci si bos, berarti yang bego siapa?”, balas Goprak.

“Cukup jangan saling menyalahkan, nenek mau bicara serius ini. Sebenarnya mobil yang nenek bawa ini juga hasil begalan”, ucap nenek.

“Yang begal siapa nek?, tanya gendon.

“Ya nenek lah, kan lagi butuh uang buat operasi cucu nenek”, ungkap nenek dengan percaya diri.

“Nggak bawa senjata emang bisa ngrampok nek?”, tanya Gendon penasaran.

“Bisa dong, nenek kan pakai jampe-jampe dari mbah dukun. Mau tak jampe-jampe?” tanya nenek.

Mengerti nenek memiliki ilmu jampe-jampe akhirnya gerombolan bromocorah itu membiarkan nenek pergi membawa mobilnya.

“Ya udah nek, ni HP sama dompetnya, Nenek pergi aja sana. Tu bawa mobilnya.

Mungkin malam itu nasib gerombolan bromocorah sedang tidak mujur alias apes.
“Tin tin tin”, nenek mengklakson mobil.

“Da… Sebenernya Nenek nggak punya jampe-jampe. Maaf ya tak tipu, demi keselamatan. Wekkkkk..
Ucap nenek sambil melambaikan tangannya.

Gendon sang pemimpin merasa kesal. Anak buahnya pun ikut kecewa.
“Ah malam ini apes tiada tara”.

1. Comments

SHARE
Previous articlePerindu Merindu
Next articleKesetabilan Nasional Tanggung Jawab Bersama
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here