Jangan Jadi relawan!!

0
454

REVIENSMEDIA.COM – Sebelas tahun silam, bencana Tsunami meluluhlantahkan tanah rencong. Ratusan ribu manusia meninggal dan menyebabkan kerusakan yang sangat banyak, “Pokoke akehe selangit-langit”.

Ribuan relawan turun lapangan untuk memberikan bantuan pengungsian dan mengevakuasi korban meninggal yang hingga lebih sebulan pun masih ada yang belum dimakamkan.

Sebagai penghargaan terhadap totalitas relawan dalam melaksanakan tanggap darurat bencana, tanggal 26 Desember yang bertepatan terjadinya bencana tsunami disahkan menjadi hari relawan.

Bagaimana menurutmu tentang relawan? Apakah menjadi relawan itu keren? Mau gabung jadi relawan? Saran saya, lebih baik jangan!! Jadi relawan itu enggak ada kece-kecennya babar blas.

Berikut alasan saya melarang kalian menjadi relawan.

1. Ikhlas bhakti

Menjadi relawan, jangan harap pulang dari bencana ada yang memanggil dan ngomong “Tanda tangan dulu ya mas rangkap 10, ini sedikit buat transport”, yang ada kamu mengeluarkan uang pribadi untuk transport dan kebutuhan pribadi.

Selain itu, kamu mungkin bangga dengan apa yang kamu lakukan, sebangga kamu bisa menyelamatkan dedek-dedek gemes yang mengalami ban bocor di tengah gurun sahara sana, tapi mentalmu perlu dilatih dab buat menghadapi hantaman pertanyaan “Ngapain turun ke bencana? Ada duitnya engga!”.

2. Anti Mainstream

Tahu Gunung Merapi? Itu lho tempat Mak Lampir mendirikan gubug (Litotes). Saat Gunung Merapi erupsi, masyarakat mengungsi dan dijauhkan dari titik bencana hingga radius beberapa kilometer.

Jalan menuju lokasi ditutup dan didirikan beberapa pengungsian. Relawan ini “Gila”, mereka memilih mendekat ke titik bencana, nyawa taruhanya dab. Selain itu mereka memilih keluar dari zona nyaman, kan enak dirumah bisa udud nyambi ngopi dan bercengkrama dengan anak bojo, (maaf tidak bermaksud menghina kaum jomblo) update status kemanusiaan dikasih hastag #PrayForMakLampir eh maksudnya #PrayForMerapi, tapi mereka malah milih ke lapangan tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit yang sewaktu-waktu bisa diseruduk “wedus gembel”, “Siro gelem dab ngono?”.

3. Berhasil tanpa puji, gagal dicaci maki.

Keberhasilan relawan dalam tugas menjadi tujuan utama, lalu apa yang mereka dapatkan secara personal? Enggak ada selain kepuasan. Paling mentok dapat ucapan terima kasih kalau ada konferensi pers. Nama kamu disebut? Mbelgedes, lha sapa sih koe. Organisasimu dab yang dapat penghargaan terima kasih (itu kalau kamu ikut organisasi).

Sebaliknya, jika relawan gagal dalam melaksanakan tugas, apakah ada permakluman? Tidak ada. Masyarakat secara seporadis dan berjamaah mengomentari sebuah kegagalan seolah mereka wakil malaikat yang luput dari kesalahan.

Lalu komentar-komentar itu membuatmu tersungkur jatuh dan berkata “Ya Tuhan, hamba gagal, ampuni hamba, hamba sudah melakukan yang terbaik Tuhan” (Back sound: instrumen lagu doaku”.

4. Berkorban, namun belum tentu dihargai.

Apa yang dikorbankan relawan saat bertugas? Banyak dab. Dari materi, waktu, keluarga, istri, pacar, selingkuhan, sampai hewan peliharaan pun harus ditinggalkan.

Jika sudah dilapangan, korban tak melihat apa yang kamu korbankan, tapi apa yang kamu lakukan terhadap mereka. Menjadi relawan harus siap di “Asu-asukan” oleh mereka masyarakat. Bertugas dilapangan memang membutuhkan keahlian yang komplek, dari keahlian negosiasi, orator, politik, renang, pertolongan pertama, manajemen bencana, ilmu masak, cuci piring, survival, pdkt, mbribiki #ehh pokoknya banyak lah.

Dengan memiliki keahlian di lapangan secara kaffah sekalipun, kamu masih bisa salah di mata mereka.(mungkin karena kebanyakan pengungsinya perempuan yang selalu memandang laki-laki penuh kesalahan) #Kasiaaannn

Bagaimana teman-teman? Masih minat jadi relawan? Lebih baik jangan, kecuali nuranimu berkata lebih keras dari logikamu, rasa kemanusiaanmu lebih besar dari egoismu, dan kamu percaya hanya Tuhan yang bisa menilai kepedulian, cinta dan kasih sayangmu.

Selamat hari relawan, Totalitas tanpa batas!!!

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here