REVIENSMEDIA.COM – Alasan carut marutnya negara ini masih banyak yang mempertanyakannya. Jika kita kaji melalui fakta yang terjadi maka akan kita lihat simpulan masalah tersebut. Satu masalah kecil jangan lagi disepelekan, karena dapat mengakar dan membudaya. Jika masalah itu mengakar dan semakin kuat butuh energi besar untuk mengatasi masalah tersebut. Maka pola pikirlah sebenarnya yang harus dibenahi terlebih dahulu. Jangan menganggap masalah kecil itu sebagai hal yang sepele.

Sebagai warga negara yang katanya merdeka, tapi masih saja terasa seperti dijajah. Bagaimana tidak, mau mencari sesuap nasi saja susahnya bukan main. Lari kesana kemari, ujung-ujungnya ada persyaratan duit. Kenapa harus serba duit yang justru akan menjadikan bomerang di akhirat kelak. Hidup di dunia hanya sebentar, tapi tidak untuk di akhirat. Kita akan abadi di sana.

Tanpa disadari untuk mendapatkan pekerjaan yang mentereng seperti kantoran, pegawai pemerintah dan banyak lagi yang lainnya, beberapa orang memilih jalan pintas agar dapat diterima kerja di tempat tersebut. Uang lagi-lagi yang berbicara melicinkan jalan. Sungguh benar-benar merusak tatanan keprofesionalan dan moral. Kenapa, jika kita lihat efek dari si pemberi uang pelicin yang diterima di pekerjaan tersebut, maka sejatinya ia tidak dapat bekerja atau mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Karena sudah diterima maka konsekuensinya ia harus tetap bekerja dengan kemampuan yang minimalis, dan akibatnya pekerjaan yang ia kerjakan tidak maksimal atau malah berantakan.

Baca Juga  Ada Apa dengan 9 Maret 2016?

Jika kejadian di atas terjadi di tempat pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintah, maka sudah jelas bagaimana yang akan terjadi. Instansi pemerintah yang dipekerjai oleh orang-orang yang doyan pakai pelicin dalam segi moral saja sudah mempunyai nilai nol. Belum lagi mereka tidak profesional karena bukan bidangnya, lalu apa yang terjadi.

Kita coba pikirkan lagi, seandainya para pekerja di manapun tempatnya deterima karena lolos tes maka ia benar-benar mumpuni dalam bidang pekerjaan tersebut. Berbeda dengan orang yang diterima kerja karena mereka memberikan uang, sebenarnya ia tidak mampu dalam bidang pekerjaan itu.

Lebih meruncing lagi, untuk pribadi para pemberi uang. Apakah tidak berfikir lurus dan berhati nurani. Efek dalam kehidupan di dunia sudah sangat terasa. Pemberi uang kita sebut saja suap, suap dalam ajaran Islam hukumnya haram. Cara kita mendapatkan pekerjaan saja sudah haram, bagaimana uangnya akan berkah. Jika nekat mau menempuh cara tersebut akibatnya anak dan istri kita di nafkahi dengan uang haram karena pekerjaan yang kita dapat dengan cara yang haram. Bukan sehari dua hari kita memberikan nafkah yang haram tapi bertahun-tahun.

Baca Juga  Kaligesing the Amazing Village

Miris, bagaimana moral anak-anak nanti jika kita menafkahinya dengan uang haram. Semua jauh dengan keberkahan, bisa jadi anak-anak akan tidak berbakti kepada orang tuanya, susah diatur, bandel, nakal dan sebagainya.

Sebenarnya semua saling berkaitan, dengan terbentuknya pribadi anak yang kurang benar maka bisa apa mereka untuk negara ini. Proses itu akan berputar terus, lalu kapan kita akan menikmati negeri yang damai. Seharusnya kita lebih bisa instropeksi diri lagi, sehingga kelak anak-anak kita akan menjadi anak yang berguna untuk bangsa dan negara. Mereka akan tampil sebagai pemuda yang hebat dan beretika sehingga mampu mengubah negara ini menjadi lebih bermartabat.

Comments

SHARE
Previous articlePaijem Sudah Jadi Monalisa
Next articleSuraunya Pak Mudin
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here