RAMUAN BUDAYA LOKAL, RESEP BUDAYA NASIONAL

0
321
Budaya Indonedia By Royyan

Oleh: Trimanto B. Ngaderi

 

Penyerbukan silang dalam satu pohon akan menghasilkan buah atau biji baru yang sama dengan induknya. Penyerbukan silang antara dua pohon dalam satu spesies tanaman akan menghasilkan buah baru yang sama dengan induknya, tapi dengan ukuran, rasa, atau warna yang berbeda dengan induknya.

Demikian halnya jika dua atau lebih budaya lokal dilakukan penyerbukan silang, maka akan menghasilkan satu budaya nasional yang luhur, unggul, dan berkualitas. Inilah setidaknya yang menjadi gagasan brilian Eddie Lembong tentang Penyerbukan Silang Antarbudaya (Cross Cultural Fertilization) pada Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) ke-15 di Yogyakarta tahun 2013 lalu. Inti dari ide tersebut adalah jika nilai-nilai positif yang ada dalam budaya lokal yang ada di Indonesia diserbuk-silangkan (dikawinkan, digabungkan), maka akan menghasilkan sebuah kebudayaan nasional yang akan menjadi identitas bangsa Indonesia.

 

Pentingnya Pemahaman Awal

Sebelum kita membahas secara panjang lebar mengenai strategi membangun kebudayaan nasional, maka sebaiknya kita memahami secara baik terlebih dahulu apa itu kebudayaan dan apa itu Indonesia.

Definisi kebudayaan sangat banyak sekali, baik definisi menurut pakar asing maupun pakar Indonesia. Menurut Koentjaraningrat (1923-1999) kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, serta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya. Dari definisi ini, kebudayaan dapat berwujud: 1) suatu kompleks dari ide, gagasan, nilai, peraturan, norma, dll; 2) suatu kompleks dari aktivitas dan perilaku manusia; dan 3) sebagai benda-benda hasil karya manusia. Intinya, kebudayaan menyangkut totalitas eksistensi manusia, yaitu pikiran, perasaan, jiwa, dan perilakunya.

Sedangkan Indonesia itu apa? Indonesia adalah kumpulan dari lokal-lokal. Masing-masing lokal memiliki bahasa, adat-istiadat, tradisi, nilai, dan sistem kepercayaan yang berbeda-beda. Sehingga kebudayaan Indonesia adalah kumpulan dari budaya lokal-budaya lokal. Kekayaan dan martabat bangsa Indonesia ada di lokal-lokal tadi. Setiap kita tak mungkin lepas dari lokalitas. Lokalitas itu telah terbawa dan tertanam dalam darah-daging kita. Takdir kita adalah lokalitas. Kita takkan mungkin mengganti lokalitas kita dengan lokalitas orang lain. Di sinilah pentingnya kesadaran tradisi dan wawasan budaya, baik budaya sendiri maupun budaya orang lain.

Dengan pemahaman yang benar akan definisi kebudayaan dan definisi Indonesia, maka tidaklah sulit untuk menyusun strategi dalam membangun kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, sejak awal para pendiri republik ini sudah menyadari akan arti pentingnya soal kebudayaan dalam pembangunan Indonesia ke depan. Maka pada tahun 1948 diselenggarakan Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) I di Magelang.

Selanjutnya, pada KKI II tanggal 6 Oktober 1951 di Bandung, Moh. Hatta selaku Wakil Presiden RI menyampaikan pidato kebudayaan, yang intinya menekankan bahwa dalam membangun Indonesia di bidang ekonomi tak bisa lepas dari lapangan kebudayaan. Sebab ekonomi bukan persoalan pikiran dan ilmu semata, tapi juga menyangkut jiwa, perasaan, dan kebiasaan rakyat.

Pada kenyataannya, setelah melewati setengah abad lebih, pembangunan Indonesia menjadi negara modern dan maju belum bisa tercapai. Berganti kekuasaan, berganti pula konsep membangun bangsa. Bongkar-pasang, kritik terhadap kekuasaan lama, pelaksanaan antikritik oleh penguasa pengganti masih terus berlanjut. Jalan pembangunan bangsa ini masih melingkar-lingkar, trial and error, dan eksperimen beragam gagasan. Kita belum memiliki strategi kebudayaan yang tepat dan mapan.

Oleh karena itu, gagasan Eddie Lembong tentang Penyerbukan Silang Antarbudaya kiranya merupakan strategi brilian dan amat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Pluralitas lokal yang dimiliki bangsa Indonesia seharusnya bisa dijadikan modal utama dalam pembangunan. Tapi yang terjadi selama ini, pluralitas budaya malah menjadi penghambat pembangunan dan perpecahan bangsa, di antaranya:

 

  1. Kelemahan Asimilasi dan Akulturasi

Proses asimilasi maupun akulturasi sudah berlangsung sejak zaman nenek-moyang dahulu, baik antara sesama budaya lokal maupun dengan budaya asing. Interaksi tersebut berlangsung lewat hubungan kekerabatan, urusan dagang, maupun hubungan diplomatik. Proses tersebut telah memperkaya budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan awareness of others pada diri bangsa.

Namun, ide asimilasi tidak selamanya berdampak positif. Hal ini dapat dilihat dari apa menimpa warga Tionghoa di Indonesia pada masa Orde Baru, sebagai minoritas ia diwajibkan melebur kepada budaya mayor, seperti perubahan nama menjadi nama Jawa dan lain sebagainya. Hal ini tentu akan menjadi masalah di kemudian hari. Dan benar, pada tahun 1998 pecah konflik Cina-pribumi.

Dengan demikian, walau proses asimilasi masih terus berlangsung hingga kini, ide asimilasi belumlah tepat diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang ini, terutama dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang kian rumit dan kompleks, termasuk ancaman perpecahan dan disintegrasi.

 

  1. Stereotip dan Labeling

Di era globalisasi dimana interaksi dan komunikasi semakin intens dan mudah, sikap stereotip tak mudah dihilangkan. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan, prasangka, egosentrisme dan etnosentrisme, sikap primordialisme dan sentimen pribadi.

Seperti pengalaman penulis sendiri, ketika merantau di Jakarta sering mendengar bahwa orang Batak itu dipersepsikan sebagai keras, galak, kejam dan sejenisnya. Dan saya tidak pernah tahu pasti, apakah hal itu benar atau tidak, karena memang interaksi saya dengan orang-orang Batak hanya sepintas lalu.

Dan ketika Tuhan menakdirkan saya punya istri orang Batak, maka mulailah saya tahu banyak tentang perihal Batak (baca=Mandailing). Bahwa Batak masih terbagi menjadi lima subetnis lagi. Bahwa karena orang Mandailing mayoritas Muslim, mereka tak mau disebut Batak. Saya jadi tahu bagaimana alam pikirnya, cara memandang dunia, tradisinya, dan juga kelebihan-kelebihannya yang berpotensi sebagai modal penyerbukan silang untuk menuju kebudayaan nasional. Kesan keras atau galak sebenarnya lebih dipengaruhi oleh lingkungan alam yang bergunung-gunung dan sulit sehingga mengharuskannya bersuara keras dan tegas. Padahal boleh jadi hatinya selembut Danau Toba.

Sebagaimana kita ketahui bersama, stereotip dan sikap negatif terhadap budaya lain yang terus dipelihara dapat mengakibatkan perpecahan dan disintegrasi bangsa. Sejarah telah membuktikannya. Kisah pilu konflik Ambon, tragedi Madura-Dayak, kekerasan di Aceh, pembantaian Tanjung Priok, merupakan segelintir contoh luka bangsa berbau SARA. Kita semua tak mau jika hal itu terulang menimpa bangsa Indonesia. Kita tidak boleh saling menyalahkan, tapi yang terbaik adalah mengambil pelajaran dan hikmah sebagai evaluasi penting dalam membangun bangsa ke depan.

Baca Juga  Sego Bosok Makam Sembayut

 

  1. Masih Adanya Dominasi-Subordinasi vs Mayoritas-Minoritas

Penghalang lain dalam membangun budaya nasional adalah masih adanya dominasi-subordinasi dalam budaya tertentu. Di beberapa daerah masih ada indikasi satu budaya lebih dominan daripada budaya lainnya. Padahal, pada kenyataannya bisa jadi budaya dominan malah memiliki banyak kekurangan. Sedangkan budaya subordinasi yang memiliki nilai-nilai positif sulit berkembang dan menunjukkan diri. Bahkan, dalam beberapa kasus ruang gerak budaya subordinasi sengaja dipersempit, dan kelebihan yang dimilikinya sengaja ditutupi.

Dominasi dapat berupa dominasi dalam hal bahasa, sumber mata pencaharian, aspirasi politik, adat-istiadat, lahan ekonomi, dan lain-lain. Contoh nyata adalah kasus perebutan tahta keraton, pemekaran wilayah, pengusiran dan penggusuran kelompok tertentu, konflik pemilik perkebunan dan warga sekitar, klaim hasil budaya lain.

Padahal yang dibutuhkan dalam proses Penyerbukan Silang Antarbudaya adalah adanya pengakuan terhadap kelebihan budaya yang ada tanpa ada diskriminasi serta itikad baik untuk mau mempraktikkan nilai-nilai positif dari budaya subordinasi dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di dalamnya memberi ruang gerak dan tumbuh kembang kelompok budaya lain.

Berhubungan erat dengan dominasi-subordinasi adalah konsep mayoritas-minoritas. Biasanya hal ini lebih berkaitan dengan unsur SARA. Ada daerah tertentu dengan mayoritas etnis tertentu. Ada pula daerah tertentu dengan mayoritas agama tertentu. Tak jarang antara mayoritas dan minoritas timbul gesekan-gesekan yang menimbulkan perpecahan bahkan tindak kekerasan. Isu pelanggaran HAM sering dialamatkan dalam konflik ini.

Ide mayoritas-minoritas terkait dengan kuantitas. Padahal yang kuantitasnya banyak (mayoritas) belum tentu lebih baik dan lebih unggul dari yang kuantitasnya sedikit (minoritas). Padahal yang dibutuhkan dalam proses Penyerbukan Silang Antarbudaya adalah kualitas dari masing-masing kelompok budaya.

Konflik yang sering muncul seperti terkait mayoritas-minoritas seperti isu diskriminasi, kecemburuan sosial, pelanggaran hak, penindasan, pelarangan aktivitas kelompok tertentu dan sebagainya. Inilah yang sering menimbulkan konflik horisontal.

Contoh nyata konflik mayoritas-minoritas adalah kasus Ambon, penyerangan Ahmadiyah, konflik Madura-Dayak, Cina-pribumi, Timor-Timur dulu, rencana pembentukan Provinsi Tapanuli.

Sayangnya lagi, penyelesaian dari konflik tersebut sering memihak, dan tak jarang dilakukan dengan kekerasan pula. Pendekatan yang digunakan malah pendekatan politik atau militer. Padahal ada jalan tengah yang cukup ampuh untuk menyelesaikan persoalan di atas, yaitu pendekatan budaya. Di antaranya adalah dalam bentuk pendidikan, kegiatan sastra, pertukaran budaya, dialog, berbagi peran kehidupan. Semua itu diharapkan akan membentuk perilaku dan karakter yang mampu menangkis berbagai potensi konflik.

 

  1. Pengaruh Globalisasi

Pengaruh budaya asing lewat modernisasi dan globalisasi memang tidak bisa kita hindari. Banyak hal-hal positif yang bisa kita adopsi dan semakin memperkaya khasanah budaya bangsa. Misalnya, budaya disiplin, tepat waktu dan menghargai waktu, tidak munafik, antifeodal, hemat, cinta ilmu, dan masih banyak lagi. Termasuk juga adopsi dalam hal iptek, tata pemerintahan, dan militer.

Namun tidak sedikit juga budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, bahkan bisa merusak generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa. Ambil contoh, busana yang tidak sopan, pornografi, narkoba, kenakalan remaja, gaya hidup glamor, seks bebas, dan sebagainya.

Gempuran yang masif dan intensif itu terkadang tidak kita sadari atau kita tak mampu menyaringnya. Penyebabnya adalah kita lebih sering tidak siap untuk menghadapinya. Selain itu, mental inferior yang menganggap segala sesuatu yang berasal dari Barat adalah selalu baik masih bercokol di pikiran sebagian anak negeri ini. Sehingga yang terjadi adalah menelan mentah-mentah (adopteren) apa saja yang datang dari Barat tanpa menyaringnya terlebih dahulu.

Kita seakan menjadi “Malin Kundang” akan budaya sendiri. Belum juga kita memiliki budaya nasional yang tangguh, kita mau membuang dan melupakan lokalitas kita dan menggantinya dengan nilai global. Parahnya lagi, yang kita ambil dari global hanyalah kulit luar-nya saja, yang lahir, yang dangkal, tanpa pernah memahami dan mengambil isinya. Kita lebih banyak menerima daripada memberi.

Pada dasarnya, di era dunia yang tanpa batas lagi ini, kita tidak bisa mengelak akan adanya penetrasi dan difusi budaya asing. Namun jika kita bisa jeli dan bijak, hal ini adalah peluang untuk semakin memperkaya khasanah budaya nasional dengan cara memilih dan memilah nilai-nilai budaya asing yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Jadi budaya asing itu bisa membawa berkah, bukan malah musibah (merusak).

Kombinasi saripati nilai-nilai positif budaya lokal ditambah warna budaya luar yang baik akan semakin memperkuat karakter dan jatidiri bangsa Indonesia. Sehingga Penyerbukan Silang Antarbudaya tidak saja terjadi antarbudaya yang ada di Indonesia, tapi budaya Indonesia hasil penyerbukan dengan budaya asing. Lokal memperkuat nasional, dan nasional memperkaya global.

Budaya Indonesia yang kuat hasil dari Penyerbukan Silang Antarbudaya diharapkan mampu menahan laju gempuran budaya asing yang tidak baik. Hal ini akan lebih menguatkan posisi budaya Indonesia di mata internasional. Dengan begitu, syukur bangsa Indonesia bisa dijadikan model oleh bangsa lain yang negaranya majemuk. Karena sebagai negara besar dengan keragaman suku, agama, ras, dan adat-istiadat; Indonesia cukup mampu menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dan berhasil membangun negaranya setara dengan negara-negara berkembang lain di dunia.

 

Beberapa Langkah Strategis

Menurut saya, gagasan yang dilontarkan oleh Eddie Lembong tentang Penyerbukan Silang Antarbudaya adalah (mungkin) jalan terbaik sebagai sebuah strategi dalam membangun kebudayaan nasional untuk saat ini.

Baca Juga  Di Sebuah Pesta

Meski negara kita terdiri dari beragam jenis kebudayaan, namun kebudayaan yang ada belum benar-benar menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh dan kuat dengan segenap kemajuan yang telah dicapai. Padahal keragaman budaya tersebut dapat dijadikan modal cultural building dalam kerangka nation building untuk mengubah kehidupan rakyat menjadi lebih baik.

Pada kenyataannya kita masih lemah dan jauh tertinggal di antara bangsa-bangsa. Penyebabnya adalah etos kerja dan budaya negatif yang masih terus kita pelihara, seperti masih percaya takhayul, berjiwa feodal, tidak bertanggung jawab, berlaku hipokrit, santai, banyak mengeluh, membuang waktu, boros dan gaya hidup mewah, karakter yang lemah, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Untuk itulah diperlukan langkah-langkah strategis dalam rangka pembangunan kebudayaan nasional, di antaranya:

  • Prioritas perbaikan manusia itu sendiri. Perbaikan manusia hanya mungkin dilakukan dengan perbaikan kebudayaan. Kebudayaan adalah cermin sikap dan perilaku manusia secara menyeluruh. Sebuah perbaikan yang sifatnya menyeluruh. Yang sering terjadi adalah kita lebih membangun prasarana-sarana atau bersifat fisik semata, dan lupa membangun manusianya.

 

  • Perlunya kesadaran tradisi. Seperti yang diungkapkan Saini K.M., kita perlu mengenali the beginning. Dari mana kita berawal-dari mana kita berasal. Dalam berproses kita menuju ke suatu arah. Arah yang kita tuju ditentukan oleh awal kita bertolak. Di mana ada akhir, di situ ada awal (the end is the beginning). Kita bermula dari lokalitas. Masa lalu kita adalah lokal. Dengan menyadari hal ini, lebih baik kita menyerbukkan nilai-nilai positif berbagai lokal yang plural itu menuju budaya nasional daripada adopteren budaya asing yang justru merusak budaya sendiri.

 

  • Kampanye konsep ke-KITA-an. Selain aku, ada “yang lain” di sekitar kita, yaitu kau, dia, dan mereka. Hidup adalah bersama yang lain. Eksistensi adalah suatu koeksistensi. Keakuan kita berhadapan dengan keakuan orang lain. Di samping kebenaran kita, ada kebenaran yang lain. Maka, untuk keharmonisan bangsa, hindari ihwal keakuan: diriku, kampungku, daerahku, kelompokku, golonganku, dan sederatan keakuan lainnya. Hidup bersama adalah mendahulukan kewajiban daripada hak. Inilah sikap budaya yang akan membawa persatuan dan kemajuan bangsa.

 

  • Kemauan untuk saling belajar. Kita mencoba untuk mempelajari orang lain, belajar dari suku lain. Hal ini kita lakukan agar kita bisa mengerti dan memahami bahasa mereka, cara berpikir mereka, kebiasaan mereka, keunggulan-keunggulan mereka. Tujuannya agar kita terhindar dari prasangka, stereotip, maupun labeling terhadap budaya lain. Harapannya, mereka pun mau belajar kepada kita. Hal ini akan meningkatkan wawasan budaya lokal yang plural.

 

  • Mengakui kelebihan dan keunggulan budaya etnis lain. Praktiknya kita sering merasa lebih baik daripada yang lain. Padahal dalam diri budaya kita banyak kekurangan dan kelemahan. Maka, diperlukan sikap terbuka untuk mau mengakui kelebihan pihak lain dan mengadopsi kelebihan-kelebihan itu untuk menutup kekurangan sendiri dan memperbaiki diri. Bukan malah menonjolkan sikap primordialisme dan sentimen pribadi. Ada baiknya kita meniru semangat dagang dan tradisi merantau orang Minangkabau maupun Cina. Mengadopsi kesabaran dan ketabahan orang Jawa. Semangat juang dan pantang menyerahnya etnis Aceh. Kepribadian maritim dan kekerabatan orang Bugis-Makassar, dan masih banyak lagi. Apabila kelebihan-kelebihan ini diserbukkan, tentu akan melahirkan budaya unggul bangsa.

 

  • Perlunya “viagra” bangsa. Indonesia sekarang ini ibarat pria loyo dan tak bertenaga, padahal tubuhnya besar dan kekar. Kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia serta keanekaragaman budaya tak membuat bangsa ini maju dan berprestasi; tapi tetap lemah dan tertinggal. Bahkan, mulai banyak penyakit kronis yang menggerogoti bangsa ini, seperti ancaman disintegrasi, korupsi merajalela, tindak kejahatan yang makin meningkat, seks bebas dan kenakalan remaja, serta budaya keseharian yang tida produktif. Pengobatannya haruslah secara holistik dan komprehensif. Salah satunya adalah pengobatan lewat pendekatan budaya.

Kita membutuhkan orang semacam “Kaisar Jepang” yang strategi budayanya dipatuhi oleh seluruh rakyatnya dalam membangun Jepang modern. Bukan orang-orang yang bertikai dalam wacana strategi atau menonjolkan ego-ego bahwa pandangan sendiri paling benar.

  • Memaksimalkan potensi yang dimiliki. Kita punya kekayaan alam melimpah bukan untuk dinikmati segelintir orang saja, tapi dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kita punya sumber daya manusia yang besar bukan untuk menjadi pemalas atau penerima bantuan pemerintah, tapi digerakkan untuk kreatif dan produktif. Kemajemukan budaya bisa dijadikan modal kemajuan bangsa menuju level yang lebih tinggi.

Termasuk potensi dan peranan kota-kota dalam mendekonstruksi budaya, dalam arti menjadi penyaring budaya asing dan penyeimbang antara budaya asing dengan budaya lokal untuk membentuk budaya nasional. Sebab selama ini, kota-kota besarlah yang menjadi agen distribusi budaya asing. Sehingga kota memegang kunci strategis akan keberhasilan atau kegagalan dalam membangun kebudayaan nasional.

  • Pendidikan karakter sejak dini. Kesadaran akan pentingnya character building terutama bagi anak-anak harus menjadi kesadaran nasional. Tidak hanya guru dan para pendidik saja, setiap pihak dan elemen bangsa ini bertanggung jawab terhadap kelangsungan praktik pendidikan karakter. Jadisejak dini anak-anak diharapkan memiliki semangat belajar, terbuka dengan hal-hal baru, belajar sastra dan budi pekerti, kreatif dan mandiri, mampu beradaptasi dengan lingkungan heterogen. Modal pendidikan karakter inilah diharapkan nantinya akan melahirkan generasi baru Indonesia (termasuk pemimpin yang berkarakter) yang siap untuk melakukan Penyerbukan Silang Antarbudaya.

 

Referensi:

Jacob Sumardjo, 2003. Mencari Sukma Indonesia. AK Group, Yogyakarta.

Usman Pelly, 1994. Urbanisasi dan Adaptasi, Peranan Misi Budaya minangkabau dan Mandailing. PT Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta.

Prof. Dr. Deddy Mulyana, MA. 2004. Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Populer. Pustaka Bani Quraisy, Bandung.

http://web.budaya-tionghoa.net/

Comments

SHARE
Previous articleGelap di Balik Purnama
Next articleSusah itu tidak enak
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Lahir di Boyolali, tanggal tujuh bulan tujuh tahun tujuh-tujuh. Mulai aktif di dunia kepenulisan dari tahun 2006 ketika bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok. Karya-karyanya berupa artikel, esai, maupun cerpen dimuat di berbagai majalah dan surat kabar lokal maupun nasional. Sudah menulis 5 buku solo dan 8 buku antologi. Selain aktif menulis, juga menjadi pembicara pada berbagai workshop dan training kepenulisan, juri berbagai lomba menulis, pendamping kids writing, termasuk kegiatan yang bersifat sosial seperti pelatihan menulis dan mendongeng untuk yatim-piatu dan kaum dhu’afa. Tahun 2009-2011 dipercaya sebagai Ketua FLP Depok. Tahun 2011-2013 diamanahi sebagai Humas FLP Wilayah Jakarta Raya. Saat ini dipercaya lagi memimpin FLP Soloraya (2013-2015). Selain di FLP, juga aktif di organisasi keagamaan dan sosial-kemasyarakatan, organisasi nirlaba, komunitas, termasuk mendirikan taman baca di rumah sederhananya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here