TEMAN BUKAN TEMAN

0
154
Illustrasi by google

KARYA: CHODRI AL-ROSYD

Sang fajar mulai menunjukkan wajahnya
Suara mesin kendaraan terdengar bising di  jalanan
Asap kenalpot kendaraan pun kian menebal
Lalu lalang pekerjapun mulai rumit”

Itulah beberapa penggal kata yang selalu menemani hari-hariku menjalani aktifitas di ibukota Negara kita tercinta, ya Jakarta namanya kota itu. Di kota yang terkenal dengan multi etnis dan multi budaya penghuninya, kemacetan selalu menemani langkahku menuju tempat bekerja. Oh iya sebelumnya, perkenakan namaku Nanda, teman-teman kerja memanggilku dengan nama Kacong, memang jauh dari nama asliku sih. Itulah teman-temanku yang aneh memberikan nama ke orang lain. Aku sendiri juga nggak tau kenapa mereka memberikan nama itu, tapi ya sudahlah biarkan saja, biar mereka senang.

Aku sendiri bekerja di sebuah media online yang belum terlalu besar dan berbasis di Jakarta, namun bersifat feature berita yang kami hasilkan. Oleh sebab itu kita lumayan lama dalam membuat tulisanya. Sudah segitu saja perkenalannya, ya..! Setiap hari aku bekerja dari pagi hingga malam hari, maklum pekerjaanku mencari sebuah berita yang selalu dicari oleh masyarakat banyak.

Di tempatku bekerja aku memiliki tiga orang teman, dibilang dekat enggak, dibilang sahabat enggak. Kami dipertemankan karena kami satu divisi yang mencari berita tentang gaya hidup. Satu di antara mereka umurnya 5 tahun di bawahku, dia bernama Aji, dan yang lain seumuranku. Walaupun demikian kami berempat cukup akrab kalau di kantor, namun tidak jika sudah di rumahnya masing-masing. Maklum saja aku rumahnya paling jauh dan malas main jauh-jauh, karena sudah dicapekkan dengan pekerjaan sehari-hari.

Dalam menghasilkan berita yang berkualitas, kami hampir setiap hari meeting untuk menentukan informasi apa yang harus kita naikkan setiap harinya. Dengan setiap harinya berinteraksi, kami sudah seperti layaknya sahabat, namun bukan. Ceng-cengan sudah menjadi makanan sehari-hari. namun terkadang mereka lupa ceng-cengan juga ada batasannya, terlebih jika kita bercanda dengan orang yang lebih tua dari kita. Kata itu yang selalu terbesit di pikiranku jika berada di kerumunan rekan kerjaku itu. Tidak hanya itu teman yang jabatanya masih sama dengan kita dan tergolong junior kita memilliki sifat yang berbeda dengan yang lainnya.

Temanku yang usianya terpaut 5 tahun di bawahku selalu memanggil ku dan yang lainnya hanya cukup dengan nama saja, secara usia jauh di bawah kami dan hitunganya masih baru dibanding kita dalam bekerja di tempat ini.

Baca Juga  Angan Kelana

“Cung gimana liputannya tadi dapat apa saja, celetuk Aji dengan enaknya. Saat aku balik dari liputan. Aku tak menjawab dan masih melanjutkan pekerjaanku membuat tulisan. Biasa rutinitas habis liputan, di kantor aku membuat tulisannya. Aji pun masih belum diam dan bertanya, dengan nada cukup keras..Cungg..kamu dapet berita apa??? Aku pun tak bergumang. Aji nampak kesal dan meninggalkanku entah kemana.

Aku pun masih melanjutkan menulis karena sudah dateline tinggal berapa jam lagi. Tak lama, ada satu teman yang baik banget sama aku, namanya Evi. Dia seorang wanita yang cerdas, cantik, dan baik hati memanggilku dengan nama Kacung, namun lembut. Cung…! Aku langsung menoleh karena sudah hafal dengan suara lembutnya. Iya Vi, ada apa? Evi menjawab, tadi si Aji kenapa triak-triak manggil kamu begitu? Sampek kedengeran suaranya dari luar. Aku pun menjawab dengan santai, biasalah Vi kamu tau sendiri dia bagaimna orangnya, mentang-mentang…….!! Jadi belagak kayak bos.

Evi menanggapi ucapanku, Udah Cung biarin aja, nanti juga akan kena batunya dia, Iya Vi, jawabku. Ya sudah aku lanjutin nulis dulu ya Vi, aku dah mau dateline ni, Evi masih menjawab dengan lembut. Iya Cung, semangat ya (dalam hatiku berkata senengnya Evi bilang gitu..heheh, tersenyum lirih)

Tulisan kelar, kerjaan beres, hati pun senang karena mendapat semangat dari Evi. Yuhuuu…saatnya pulang. Namun saat melihat jam, ternyata belum jamnya pulang kantor dan jalanan pasti masih “lucu-lucunya” ya sudah aku memutuskan untuk nongkrong dulu di teras kantor. Saat itu temen-teman satu tim lagi ada kesibukan masing-masing jadinya nggak ada temanya, namun aku coba menchat mereka lewat grup yang kami punya.

Hallo every body, pada di mana kalian? Chatku di grup itu. Belum ada yang menjawab, aku tunggu, dan tunggu sampai 15 menit baru ada yang jawab..twing twing twing..bunyi nada dering grup di smartphoneku..ternyata si Evi yang menjawab. Ini aku masih di ruangan Cung, ada apa? Aku pun dengan sigap membalasnya, iya nongkrong yuk sini, aku di teras depan sendirian, mau pulang belum waktunya pulang. Hehe (tersenyum dikit). Evi lumayan lama menjawab..ya sudah Cung aku ke situ, tunggu ya. Oke Vi, balas ku.

Dan ternyata yang lain termasuk Aji membaca chatku dari tadi namun males manjawab, berhubung Evi yang menjawab dan mendatangiku, yang lainpun juga ikutan. Cung.. Suara lebut Evi memanggilku dari belakang, aku pun menoleh. Sini Vi, jawabku.. Dan tidak lama Aji dan yang lainya datang dan memanggil Evi..heyy Evii dan aku sedikit tidak dihiraukan. Evi menjawab hay…Evi langsung duduk di sampingku dan Aji serta yang lainnya duduk di depanku.

Baca Juga  Ma, Anggi Hoyong Papanggih...

Evi kok belum pulang, tanya Aji. Belum Ji, masih pengen di kantor aja. Aji belum begitu ngeh atau mungkin berpura-pura kalau aku duduk di depannya dan berada di samping Evi. Wehhh ternyata ada Kacung tohh, celetuk Aji dengan nada agak tinggi.  Mulailah kami bercengkrama membahas banyak hal, ngobrol ngalor ngidul, semuanya dibahas, baik kerjaan, tentang atasan kita dan banyak lagi. Aji pun teringat kejadian tadi siang saat aku tidak menjawab pertanyaannya dan dia masih bergeming ingin tahu berita apa yang aku peroleh. Ehhh.. Cung…! Tadi loe dapet berita apa? Tanya aji dengan nada yang nggak pantas diucap ke orang yang lebih tua dibandingnya. Aku pun masih diam dan mengalihkan pembicaraan ke Evi,, Eeeee… ditanyain kagak jawab loe malah ngobrol sama Evi, celetuk Aji lagi Aku pun jawab, ada dehh..! Memang aku agak malas menjawab pertanyaannya yang hampir tiap hari selalu menanyakan hal itu sama aku dan yang lainnya. Yang seakan-akan dia seorang bos, padahal dia masih junior kita.

Aji pun semakin kesal dan mulai emosi… eloo ini ditanyain bukanya jawab malah diem aja dan jawabnya gitu..!! Ucapnya dengan nada marah.. Aku pun tetep santai dan tidak berguming. Aji pun makin emosi.. ngeselin juga lo ya lama-lama Cung.. Situasi yang tadinya adem ayem penuh canda tawa mulai memanas karena emosi Aji. Evi yang di samping kami pun mulai berusaha mendinginkan suasana. Udahh udahh Aji..

Ngapain sih ngeributin gituan, nggak penting dan kayak anak kecil aja kamu. Bukannya dingin Aji malah makin menjadi dan lebih marah, lalu berusaha meninggalkan kita bertiga. Udah gak usah diambil ati Cung, ucap Irfan, temanku satunya lagi. Enggak kok Fan aku mah biasa aja, kitakan dah sama-sama tahu bagaimana dia yang sok-sokan jadi bos dan bersikap tidak pantas kalau ngomong sama kita. Padahal dia lebih junior dari kita, hanya mentang-mentang manajer kita saudaranya. Evi pun tersenyum dan menatapku dengan tatapan indahnya, aku pun membalas tatapan dan senyumannya.

Comments

SHARE
Previous articleDua Muka
Next articleSaat Ibu Guru Manis Datang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here