‘INSIDE OUT’ DALAM TEORI SIGMUND FREUD

0
342
Poster by indianekspres.com

Oleh: Budi Ceasar

Ada yang pernah nonton film “Inside Out?” Kalau yang maniak film apalagi kartun atau animasi pastilah tidak akan ketinggalan. Ya benar, film jebolan dari Disney ini menceritakan tentang sesosok gadis yang bernama ‘Riley’.
Uniknya dari film yang di sutradarai oleh Pete Docter sekaligus pencerita ini ketika ‘Riley’ baru lahir dan pertama kali membuka matanya begitu juga dibarengi dengan (kalau saya menyebutnya panel pikiran) yang sederhana yang dikemudikan oleh sebuah perasaan. Lebih sederhananya tubuh ‘Riley’ dikendalikan oleh beberapa perasaan yang akan muncul satu persatu setiap ‘Riley’ beranjak dewasa, yang dalam film ini diwujudkan dalam bentuk seperti orang (atau sebut saja ‘ada orang lain yang mengendalikan tubuh orang).

Nah, beberapa perasaan yang mengendalikan panel pikiran itu ada 4 (empat) jenis perasaan, yang mempunyai nama : Joy atau Periang/Bahagia yang berwarna emas, Sadness atau sedih yang mempunyai warna biru, Fear atau takut yang mempunyai warna abu-abu, Anger atau marah yang mempunyai warna merah dan Disgust atau jijik yang mempunyai warna hijau. Sesuai dengan namanya mereka mengendalikan panel pikiran, dengan tugasnya masing-masing.
Setiap hari panel pikiran ini menghasilkan memori pikiran dalam bentuk bola sesuai yang mengendalikan, misalkan Joy berperan dalam kehidupan hari Senin, maka hari itu juga panel pikiran menghasilkan bola berwarna emas begitu juga yang lainnya.

Panel pikiran ini ibaratkan seperti perusahaan yang dioperasikan oleh perasaan yang kemudian menghasilkan tingkah laku Riley dalam bersosialisasi di masyarakat. Jika panel pikiran ini menghasilkan bola berwarna emas bercahaya ini pertanda bahwa panel pikiran menghasilkan memori jangka panjang. Yang dalam film ini diwujudkan dalam sebuah bangunan, semisal memori jangka panjangnya tentang hobi bermain Hoki maka panel pikiran akan secara otomatis membangun bangunan Hobi bermain Hoki, begitu selanjutnya.

Riley seorang anak gadis yang selalu periang selalu bahagia, Joy yang selalu mengendalikan panel pikirannya Riley, hingga suatu saat keluarga Riley dipindahkan kesebuah kota yang kecil dan tidak nyaman bagi Riley, perasaan tidak nyaman tersebut dikendalikan oleh Sadness yang menghasilkan bola berwarna biru. Pada saat inilah lima perasaan ini beradu argument (bayangkan saja jika kita pindah rumah yang di sana lingkungannya 180 derajat berbeda).

Baca Juga  Film Dokumenter: Lentera Jawa (The Passion of Dolalak)

Ketika kelima perasaan itu beradu dan berebut untuk mengendalikan panel pikiran tiba-tiba si Sadness mengambil dan memegang salah satu memori jangka panjang (sebut saja memori inti) untungnya si Joy tahu akan hal itu, tapi celakalah alat untuk menyimpan memori inti rusak dan alhasil Joy dan Sadness terlempar dari panel pikiran ke (sebut saja dunia  pikiran).

Dunia pikiran ini berwujud seperti perpustakaan yang sangat rapi, tersusun dalam rak-rak yang amat sangat luas. Di dalamnya ada bola-bola warna sesuai yang dikendalikan oleh kelima perasaan tersebut. di dalamnya ada petugas yang membersihkan bola memori yang sudah usang untuk dibuang ke jurang, jurang tersebut amat sangat luas (sebut saja jurang alam bawah sadar), yang sangat menakutkan, gelap. Joy dan Sadness terlempar ke dunia pikiran dengan membawa memori inti, nah di situlah tragedinya, memori inti hilang, Joy dan Sadness pun hilang, yang tersisa hanya tiga memori yang tidak tahu akan dibawa kemana si Riley ini (Joy yang 80 % mengendalikan panel pikiran).

Sampai di sini sempat terpikir bahwa film “Inside Out” ini sangat beririsan dengan teorinya Sigmund Freud, dalam Psikoanalisisnya. Freud membagi tiga alam pikiran, yang pertama id dapat diartikan sifat dasar manusia atau sifat hewani dari manusia misalkan ‘manusia lapar harus makan’, Freud kurang lebih menyebutkan bahwa id itu pertama kali dimiliki saat manusia baru lahir. Bayi jika lapar dia akan menangis, meminta makan, begitu juga tertawa atau ketakutan, Joy dan Sadness berperan aktif di sini, juga ketiga sifat dasar dalam tubuh Riley. Merekalah kelima perasaan yang menurut saya mewakili istilah id dalam teori Freud.

Baca Juga  Kerjasama NSC dengan Sushi Tei

Seiring berjalannya waktu ego akan terbentuk, mereka atau kelima perasaan dasar (sebut saja id) akan menyaring sifat dasar mereka, manusia tak lagi menangis (Sadness) saat dia lapar, tetap lebih mencari di mana manusia itu dapat mencari makanan, begitu juga dengan takut (Fear) kemungkinan manusia akan berlari atau menghindarinya. Dapat dikatakan bahwa ego ini berupa tindakan realitas yang wajar bagi masyarakat.
Begitu juga pada fase-fase di mana manusia itu belajar menghormati dan menghargai sesuatu, maka teori yang ketiga Freud akan muncul, disebut dengan Superego, inilah yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, boleh dan tidak boleh, benar dan salah, yang membuat manusia beradab. Panel pikiran inilah yang menurut saya sebagai jembatan bahwa id dapat mengendalikan ego dan superego, kalau diperhatikan dalam film ini, panel pikiran sejak Riley lahir sampai Riley dewasa akan berubah, yang awalnya hanya satu tombol panel berubah menjadi panel dengan beberapa tombol yang rumit.

Dari film ‘Inside Out’ inilah kita bisa melihat teori Sigmund Freud bekerja, karena beririsan walau ada sedikit perbedaan. Dari beberapa artikel yang didapat alam pikiran diibaratkan seperti gunung es yang terapung dilautan, lautan yang dalam sering disebut dunia id sedangkan gunung es sering disebut ego dan pucuk dari gunung es itu sering disebut superego. Tapi sudut pandang lain diciptakan oleh film ini, panel pikiranlah yang menurut saya sebagai kunci atau jembatan id mengoperasikan ego dan superego.

Film animasi ini menyuguhkan drama, dan akan membuat anda sedikit meneteskan air mata, dari sinilah kita bisa belajar model sederhana dalam mempelajari alam pikiran kita. Jika  belum nonton film Animasi ini tontonlah kalian akan menikmati sensasi dari film Animasi yang berbeda.

Comments

SHARE
Previous articleSaat Ibu Guru Manis Datang
Next articleMalaikat-malaikat Langit
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here