Kemerosotan Moral

0
238
Illustrasi dari Google

Oleh: Yan Budi Nugroho
Beberapa hari terahir ini, fenomena LGBT menjadi tranding topik di berbagai media pemberitaan. Entah itu online maupun elektronik, khususnya di Indonesia. Memang kita tidak bisa menyalahkan kaum LGBT tersebut, tapi setidaknya kita dapat meminimalis hal itu. Mereka-mereka itu korban, korban dari ketidakmampuannya dalam membangun kehidupan yang bermoral.

Saat ini negara kita memang dalam ambang batas terpuruk dalam hal moral. Kenapa saya berani bilang seperti itu? Alasannya adalah, kita lebih enak menerima kebudayaan dari luar ketimbang mempertahankan dan melestarikan budaya sendiri. Saya rasa itu penyebab utama terjadinya kemerosotan moral.

Banyak anak-anak sekarang pintar melantunkan lagu-lagu barat, tapi terlihat bodoh ketika menyayikan lagu-lagu daerah. Banyak yang fasih berbahasa inggris, tapi terbata saat berbicara menggunakan bahasa jawa kromo inggil, atau bahasa daerah lain di nusantara ini. Sungguh tidak menghargai kekayaan bahasa sendiri.

Itu hanya salah satu contoh saja, yang lain masih banyak lagi. Memang ironis negara ini, artis di bayar mahal hanya untuk merusak generasi muda. Sedangkan tenaga pendidik, guru misalnya di bayar murah untuk mencerdaskan bangsa.  Sebenarnya  negara ini bagaimana? Mau di bawa  ke arah mana negara ini, itu tergantung dari diri kalin sendiri. Jangan anggap sepele lho.. permasalahan moral ini. Coba lah menerawang kedepan 10 tahun saja, tak usah 30 tahun atau 50 tahun. Indonesia ini akan seperti apa?, kalau anak-anak muda moralnya tidak baik. Kita mengetahui segala sesuatu yang negara-negara barat lakukan itu enak-enak. Tapi apakah yang enak-enak tadi itu baik buat kita? Jawabannya tidak, mereka itu sengaja membuat situasi seperti ini. Supaya negara kita ini lemah dari dalam.

Baca Juga  Cara Keledai Membaca Buku

Ahirnya keropos dan negara ini tumbang dengan sendirinya, horeee kata itu yang akan keluar dari mulut mereka. Setelah itu penjajahan di indonesia terjadi kembali. Dan kita semua bisa apa, cuma bisa meratapi nasib, sambil bilang kapan kita merdeka lagi? Apakah kalian mau itu terjadi? Tanya pada hatimu sendiri.  kita ini punya identitas sendiri.

Baca Juga  AiU Ratna: Musik Tak Terpisahkan dari Hidupnya!

Kebudayaan kita lebih kaya dari mereka, jauh-jauh lebih beragam. Harusnya kita yang menginvansikan kebudayaan kita, bukan mereka. LGBT jelas-jelas akan merusak moral anak-anak kita, maka dari itu. Sepertinya pemerintah harus bergerak cepat. Bagaimana pun harus membuat luntur LGBT tersebut. Di karena kan kaum-kaum yang menderita penyakit sosial ini dapat menular. Menular di maksudkan bukan lewat cairan tubuh (tapi lebih dalam sistem pergaulannya).  Harus ada kerjasama antara kementrian pendidikan dan kementrian sosial dalam meminimalisir kaum LBGT. mau tidak mau, suka tidak suka pesona LGBT wajib dinetralkan.

Selain pemerintah, kita sebagai warga negara yang baik sebaiknya juga membantu pemerintah dalam meminimalisir penyakit sosial ini demi masa depan moral anak bangsa.

Comments

SHARE
Previous articleBanyak Omong
Next articleKegigihan Seorang Pemuda dalam Meraih Mimpi
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Yan Budi Nugroho, itulah kombinasi nama yang diberikan orang tuanya dan bapak Soekoso DM, seorang budayawan kota kecil Purworejo. Saat ini ia sedang menempuh perguruan tinggi jurusan pendidikan. Hobi: sepak bola, cita-citanya bisa nerbitin buku seperti novelis idolanya Habiburahman el-Zhirazy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here