I HATE FUHRER “THE BOOK THIEF”

0
273
Illustrasi oleh Google

Oleh: Budi Cheasar

Film yang realease sudah cukup lama ini agaknya percuma untuk kita tonton, tetapi saya pikir kembali tak mengapa mencoba menuliskan resensi pada film yang cukup lawas, tahun 2013. Dan saya rasa ini adalah salah satu film yang menggambarkan situasi sejarah, dengan sudut padang keadaan psikis dari warga di sebuah negara saat perang berkecamuk.


Sebenarnya saya sulit memberikan judul pada resensi film ini, film naungan 20th Century Fox ini memiliki alur yang biasa, dan cerita yang biasa pula. Saya pun tidak bisa mengambil akhir dari film tersebut, karena saya pikir cerita dalam film ini tidak punya akhir. Hanya sebuah perjalanan hidup dari seorang anak angkat keluarga Hubermann dengan dua ‘n’, Liesel Meminger nama seorang gadis dalam film ini.

The Book Thief (Pencuri Buku) adalah film yang menceritakan perjalanan hidup seorang Liesel Meminger, berlatarkan Perang Dunia II saat Inggris menyatakan Perang pada sang Fuhrer. Hans Hubermann dengan dua ‘n’ menerima Liesel dengan sangat baik, sedangkan istrinya Rosa sedikit sewot tetapi berhati lembut, karakter seorang Rosa Hubermann (baca : Ibu) yang sebenarnya (truly mother) diperankan dengan apik oleh Emily Watson.
Liesel mempunyai seorang adik laki-laki yang juga diadopsi oleh keluarga Hubermann, tetapi terbujur kaku saat mereka dalam perjalanan ke Himmel Street, Molching, Jerman tempat kediaman keluarga Hubermann karena kedinginan dan kelaparan, sehingga Ibu Liesel menguburkannya di tengah-tengah perjalanan. Saat acara pemakaman itulah Liesel menemukan sebuah buku dan dia menyimpannya.

 

Keluarga Hubermann menerima dan mengurus Liesel dengan baik, seperti anak kandungnya sendiri. Hans mengajarkan Liesel membaca dan menulis, dia memberikan ruang bawah tanah rumahnya untuk tempat belajar Liesel dan Liesel pun menggunakannya dengan baik. Liesel kembali menjalani kehidupan anak-anak seperti pada umumnya, sekolah, belajar dan bermain dengan sahabatnya Rudy Steiner.
Akhirnya Liesel bisa membaca dan menamatkan buku yang ia temukan saat acara pemakan adiknya, walaupun buku berjudul “The Grave Diggers Handbook” tersebut dibacanya dengan terbata-bata. Dari situlah Liesel tertarik dengan buku, dan Hans memberikan kesempatan itu kepada Liesel dengan memberikan buku-buku untuk dibacanya. Gadis yang selalu penasaran ini mencoba mencuri sebuah buku setelah acara Parade Pembakaran buku-buku Yahudi dan Komunis, setelah Franz tokoh Antagonis dalam film ini menyebut Ibu kandung Liesel adalah seorang Komunis.
Dia bertanya pada Hans, “Apakah Ibu saya seorang Komunis?”, “jika Ibu saya menghilang karena dia seorang Komunis, saya benci Fuhrer”, ketika Liesel berbicara seperti itu, Hans langsung menahannya, dan memohon pada Liesel agar tidak berucap seperti itu lagi, karena adanya kekhawatiran oleh Hans jika ada yang melihat Liesel mencuri buku yang dibakar dan berkata membenci seorang Fuhrer, maka tak akan selamat hidup keluarganya.

Ketakutan serupa juga dirasakan oleh keluarga Hubermann saat kedatangan Max Vandenburg, seorang Yahudi yang menghindari pengejaran tentara Fuhrer. Keluarga Max sangat berjasa buat Hans dan keluarganya, karena Ayah Max adalah sahabat Hans yang saat Perang Dunia I tertembak karena melindungi Hans, mungkin Hans akan terbunuh saat itu jika tidak ada Ayah Max. ketika itulah Hans berjanji untuk melakukan apapun untuk membayar jasa dari ayah Max, salah satunya adalah menyembunyikan Max saat tentara Fuhrer mengejarnya, atau lebih tepatnya mengejar orang-orang Yahudi dan Komunis.
Saat itu Jerman dikuasai oleh Hitler, Negara ini adalah Negara yang menganut faham Fasis, yang Nasionalis tetapi Otoriter. Fasis sangat menolak Komunisme, menolak Liberalisme, menolak Materialisme. Hitler sangat percaya bahwa kaum Yahudi, adalah kaum yang dapat membawa kehancuran, karena kelicikannya. Maka dari itu Hitler memberi kebijakan untuk membuat camp konsentrasi bagi kaum Yahudi, dari camp itulah tindakan pembantaian dimulai, kita sering menyebutnya Holocaust.

Benar tak hanya kaum Yahudi saja, tetapi pengemis, orang cacat, dan Komunis pun tak lepas dari nya. Karena pemimpin dari Nazi (partai tunggal Jerman) ini beranggapan bahwa mereka adalah penghambat dari kemajuan Negara Jerman.
Rasa takut inilah yang menghantui warga Jerman di bawah kekuasaan Fasisme Partai Nazi, mereka takut bersuara, mereka sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu, termasuk saat pasukan berlambang Swastika ini memeriksa ruang bawah tanah rumah keluarga Hubermann, yang saat itu merupakan tempat persembunyiannya Max.
Ketakutan juga dirasakan warga ketika Tentara Nazi menemukan seorang Yahudi, di sebuah rumah, orang tersebut bernama Lehman dengan satu ‘n’. dia diseret utuk dikirim ke camp konsentrasi, tak ada seorang pun yang berani memberikan pertolongan walau Lehman meronta minta tolong, tetapi sisi kemanusiaan tak bisa ditahan lagi oleh Hans, dia mencoba bernegosiasi dengan seorang tentara, walaupun gagal.
Film ini menyuguhkan sebuah drama yang akan membuat anda memahami kehidupan sulit saat Perang, dan gambaran ketakutan warga di sebuah Negara yang berpaham Fasis, yang memaksa mereka untuk bersuara mendukung semua tindakan Pemimpinnya, Hitler Sang Fuhrer (Kejam).

Drama yang akan mengiris hati, yang membuat jantung anda berdegup kencang dan membuat kantong mata anda menahan air mata yang ingin keluar, apalagi ditambah dengan ungkapan Sang Juru Kematian “the Death” yang terbilang angker.
Di atas adalah sedikit review dari saya mengenai film ini, dan pastinya pembaca artikel ini belum mengetahui bagaimana film ini bisa berjudul “The Book Thief”. Tak habis disitu, saya mencoba menelusuri beberapa artikel berkenaan denga film ini, alhasil saya menemukan bahwa film ini diangkat dari sebuah Novel karya Markus Zusak seorang Australian, yang meraih beberapa Award salah satunya pada tahun 2006 : Commonwealth Writers penghargaan buku terbaik (sumber : Wikipedia).
Dari film ini kita dapat mengambil sesuatu dari seorang Hans Hubermann, Rosa Hubermann, dan Rudy Steiner. Terlebih seorang Max yang berkata pada Liesel “Ingatan adalah Juru Tulis jiwa”, dan berpesan pada Liesel untuk “Menulislah” dalam bahasa Ibrani.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaSAHABAT PETUALANG: Surga Di Gunung Ijo
Berita berikutnyaGerhana Matahari antara Mitos dan Pariwisata
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here