DAWET SAWAH RIWAYATMU KINI

0
351
Pedagang dawet pikul (Foto dari Google)

Oleh: Fitrianti Agustina

Dawet pikulan yang berkeliling sawah di Jenar, Purwodadi, Purworejo saat panen, aku merindukanmu. Teringat aku akan rasa khas dawet pikulan, panas-panas langsung segar dengan dinginnya dawet. Sudah lama tak kurasakan kenikmatanmu. Setiap panen tiba, selalu ku bawa tempat khusus untuk dawet ini.

Rasa manis juruh gula merah dengan potongan nangka kecil-kecil menambah kenikmatan tersendiri. Aku ingat saat saudara-saudara dari Jakarta datang saat musim panen. Mereka selalu pergi ke sawah untuk membeli dawet.

Baca Juga  Kopi Cap Muntu: Legenda Kopi dari Kutoarjo

Kini, semua tinggal kenangan. Suara tukang dawet tak pernah ku dengar lagi. Setiap panen tidak ku rasa khas manis segarnya.

Pembayaran unik pun sudah punah, ya unik karena membayarnya dengan padi yang sudah dipanen. Untuk pembayaran sesuai dengan kesepakatan atau standar yang berlaku.

Dawet sawah sudah tergerus oleh ego kaum muda yang malu untuk berdagang seperti ini. Segala hal yang mereka sebut kekinian membuat dawet sawah tinggal kenangan. Dan kini, lidah-lidah tua ini merindukannya.

Baca Juga  Kuliner Tersembunyi, Rica-rica Menthok yang Menggugah Selera

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here