Sudut Pandang Pendidikan Saat Ini

0
472
Illustrasi oleh Google

Kiriman Oleh: Hegar Krisna Cambara

 
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI). Kata yang perlu kita garis bawahi adalah usaha mendewasakan manusia. Pertanyaan saya, apakah sudah tercermin sempurna pengertian tersebut pada penyelenggaraan pendidikan di negara kita tercinta ini?
Label kecerdasan yang tertanam di masyarakat kita umumnya hanya melekat pada nilai akademis saja.

Seseorang dikatakan cerdas bila berbanding lurus dengan angka akademisnya saja. Alat ukurnya dibebankan pada mata pelajaran ilmu-ilmu eksakta. Sebagai contoh, seorang anak dikatakan cerdas, pandai, pintar bila mahir atau jago di mata pelajaran matematika. Kecerdasan tersebut termasuk ke dalam ranah kecerdasan logika-matematika, yakni salah satu dari kecerdasan majemuk. Matematika seolah-olah menjadi alat ukur kecerdasan yang mutlak padahal jika kita kaji bukankah untuk mencapai nilai akademis tertentu pada mata pelajaran lainnya dibutuhkan pula tuntutan kecerdasan.

Merujuk pada konsep kecerdasan majemuk yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dari Amerika, bahwa selain kecerdasan tersebut, terdapat pula kecerdasan spiritual atau eksistensialis, kecerdasan interpersonal atau antarpribadi, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan natural, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan spasial, kecerdasan verbal/lisan linguistik.
Sepertinya pemahaman masyarakat umum tersebut sudah mengakar, di samping hal tersebut sudut pandang masyarakat terhadap pendidikan dirasa telah bergeser nilai bukan lagi pada usaha mendewasakan manusia melainkan justru seolah menjadi usaha mempersiapkan manusia (siswa) untuk lulus Ujian Nasional atau lulus Test Perguruan Tinggi Negeri.

Proyeksi penyelenggaraan pendidikan seolah bermuara pada dua hal tersebut. Dampaknya bermunculanlah lembaga-lembaga pendidikan nonformal (lembaga bimbingan belajar) di negeri ini. Lembaga-lembaga bimbingan belajar menjadi pilihan untuk reinforcement konsep yang diajarkan dalam mata pelajaran di sekolah. Dari sudut pandang yang lebih luas, guru-guru atau tenaga pengajar berpotensi mendapat peluang berpenghasilan di luar jam kerja formalnya, murid-murid pun berpotensi lebih cepat memahami materi-materi yang diajarkan di sekolah. Umumnya siswa yang menjalani pendidikan formal juga mengikuti pendidikan nonformal yang sifatnya reinforcement materi-materi yang diajarkan di sekolah menjadi lebih pandai atau unggul dalam segi pemahaman dibanding kawan-kawannya yang tidak mengikuti kegiatan pendidikan nonformal di Bimbingan Belajar.

Baca Juga  Jero Wacik, “Dijebak” Kasus dalam Ketidaktahuan

Fenomena menjamurnya lembaga-lembaga bimbingan belajar bukanlah tidak beralasan. Lembaga-lembaga bimbingan belajar selain berorientasi untuk ikut mencerdaskan anak bangsa, tidak dapat dipungkiri berorientasi pula pada profit bisnis. Ditilik dari eksistensinya, lembaga-lembaga bimbingan belajar tersebut bukanlah milik pemerintah melainkan pribadi maupun yayasan yang berarti terkategorikan swasta. Dalam arti lain, tidak mendapatkan subsidi apapun dari pemerintah. Sebuah lembaga bimbingan belajar secara otonom mengelola eksistensi lembaganya agar tetap bertahan. Bila dilihat dari kacamata ekonomi tentu saja hal ini berkaitan dengan alasan administratif mengapa ada biaya penyelenggaraan yang dibebankan pada peserta didik. Biaya yang dimaksud tentu saja disesuaikan dengan paket dan fasilitas yang ditawarkan.

Fenomena kemunculan Lembaga-lembaga Bimbingan Belajar, keberadaannya hingga saat ini masih diminati oleh masyarakat akademis di negeri ini. Para orang tua yang peduli terhadap prestasi anaknya di sekolah dan bermuara pada kekhawatiran atas nilai raihan Ujian Nasional akan mendaftarkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran di Lembaga Bimbingan Belajar. Hal ini seolah menjadi lemparan bumerang atas apa yang sudah dirumuskan. Kurikulum yang digunakan tidaklah cukup memenuhi kebutuhan pemahaman konsep bagi siswa. Di sudut pandang lain, fenomena ini seolah menjadi tamparan halus bagi kompetensi guru-guru sekolah yang secara tidak langsung dianggap tidak mampu memenuhi pemahaman konsep bagi para siswanya dengan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Logikanya bila kebutuhan tersebut terpenuhi, orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk mengikutsertakan anak-anaknya di lembaga bimbingan belajar meskipun tentu saja pasti ada alasan lain selain alasan tersebut.

Penulis rasa ini sebuah pekerjaan rumah bagi penyelenggara sekolah. Guru merupakan profesi mulia yang idealnya dapat mengakomodasi kebutuhan pemahaman konsep siswa-siswanya. Pada dasarnya materi-materi yang diperoleh di sekolah dipelajari kembali di lembaga bimbingan belajar, artinya hanya merupakan reinforcement materi-materi yang didapat dari guru sekolah (siswa diberi keleluasan eksklusif untuk bertanya dan mendapat pembahasan dan pemaparan mengenai materi yang dimaksud). Reinforcement yang dimaksud dikhususkan hanya pada mata pelajaran yang diujikan di Ujian Nasional.
Jika pada realitasnya seperti itu, bagaimana dengan orang tua yang taraf perekonomiannya tidak mampu mengikutsertakan anaknya pada lembaga bimbingan belajar? Bukankah harapan yang sama pun ada di benak mereka? Atau bagaimana dengan siswa-siswa di sekolah-sekolah yang keberadaannya bukan di kota-kota besar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah menjadi bahan kontemplasi bagi kita semua, terutama kawan-kawan akademisi.

Baca Juga  KELAHIRAN KEMBALI ZAMAN BAHARI

Tidak ada yang salah dengan kurikulum, karena kurikulum hanya sebuah perangkat. Strategi terletak pada insan-insan pendidik yang menjalaninya. Penulis hanya beranggapan berdasarkan premis-premis yang penulis sampaikan, bila sekolah-sekolah yang ada di negeri ini dapat mengakomodasi kebutuhan akan pemahaman konsep dari materi-materi yang diajarkan, yang tentu saja dengan strategi yang tepat, mungkin para orang tua tidak perlu khawatir akan kompetensi anaknya dalam menghadapi ujian yang bertaraf nasional tersebut.
Orang tua ataupun orang-orang yang berada satu atap dengan si anak di rumah alangkah baiknya berperan sebagai pendukung, fasilitator, mentor, tutor belajar, ataupun pihak yang selalu menjadi stimulan bagi kesadaran si anak untuk selalu belajar bahkan mengaplikasikan pemahamannya. Hakikatnya pembelajaran dapat diperoleh si anak di manapun, kapanpun, pada siapapun, apapun, bagaimanapun.

Idealnya lembaga-lembaga nonformal yang bermunculan seharusnya bergerak di bidang kecerdasan lainnya yang berkaitan dengan keahlian praktis. Di satu sisi kebutuhan akademis terpenuhi di sekolah, di sisi lain kubutuhan keahlian pilihan akan terpenuhi di lembaga nonformal. Kombinasi dari hal tersebut akan sangat membantu si anak dalam menjalankan kehidupannya pascakelulusan. Pernahkah kita bertanya secara introspektif “”Setelah lulus nanti, saya mau jadi apa? Apakah bekal saya selama bersekolah dapat berguna pada pascakelulusan saya? Apakah saya sudah benar dewasa dalam berpikir, berucap, dan bertindak setelah saya lulus mengenyam pendidikan ini?”

Semoga pendidikan di negeri tercinta ini dapat mengakomodasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut. Amin.

Comments

SHARE
Previous articleKyai Merah: Bersahaja, Nyentrik dan Apa adanya!
Next articlePURWOREJO KOTA PENCIPTA LAGU INDONESIA RAYA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here