Bisik Kecil Aida

0
448

Karya: Raudhoh El-Jannah

 

Aida adalah seorang gadis sarjana pendidikan, parasnya ayu, tidak hanya cantik, ia juga orang yang mempunyai prinsip serta pandangan tersendiri mengenai sebuah pemasalahan. Ai begitulah teman-teman memanggilnya. Semenjak ia menjadi seorang pendidik di salah satu sekolah dasar swasta di desanya, rasanya ia ingin selalu memberontak dengan apa yang ada di depannya kini. Sepatu, pakaian rapih, sama sekali tidak terbesit oleh benaknya dulu. Risih, itu yang ia rasakan ketika berada pada sepetak ruangan berbangku-bangku, berjajar rapih tangan-tangan mungil yang akan menurut perintah tuannya. Pada pandangannya terpendar sebuah kerisauan yang baginya begitu nyata ia rasakan. Wajah anak-anak yang begitu lugu, yang masih sangat polos termindsetkan oleh sebuah doktrin bahwa “kau pandai nak, jika nilaimu 100, 90, 80”. Akankah ada yang mengatakan:

“Tidak mengapa nak kau belum pandai berhitung. Tapi, coba kau lihat, kau pandai bermain sepak bola, kau terpilih masuk dalam sebuah club”. Adakah yang mengatakan seperti itu?

Aida semakin merasa tersiksa, seolah ini adalah sebuah diskriminasi pada tubuh-tubuh yang tidak berdosa.

“Tuhan, akan aku arahkan ke mana anak-anak ini?”, berontak Aida.

Di tengah persaingan zaman yang tidak lagi mudah, di tengah orang-orang yang masih mendewakan selembar kertas bercap bertuliskan nama diri, berlomba untuk menjadi siapa yang akan menjadi teratas serta terhormat. Pernahkah seorang di antara mereka menerapkan pada diri anak-anaknya?

“Nak, angka ini hanyalah sebuah angka. Kemampuan serta keterampilanlah yang tetap akan membuatmu hidup di tengah persaingan zaman ini”.

Mata Aida masih memblaur, sebuah sistem yang memakan potensi-potensi kini tepat berada, beradu di depan wajahnya. Langkah kecil itu masih terlalu lugu untuk berbicara pada sebuah keadaan.

“Oh, nak kasihan engkau”, begitu terus kerisauanya mengalir.

Aida merasa sendiri dengan segala apa yang ada di benak. Entah akan bermuara di mana segala pikirannya ini.

Lain daripada persoalan itu. Aida memiliki kegamangan yang juga belum lagi ada ujungnya. Kegamangan tentang bagaimana ia harus berjalan membelokan sebuah presepsi yang telah berpuluh tahun ada dan telah menjalar menjadi sebuah akar yang begitu kokoh. Pada sebuah gubug, ia ingin bicara, ingin mengatakan pada setiap orang yang berjalan. Bahwa pelajaran hanyalah sebuah pelajaran, angka hanyalah sebuah angka. Tapi, setiap anak telah membawa bakatnya masing-masing dan ini yang akan membuatnya dapat bertahan oleh seleksi alam, oleh persaingan zaman.

Gambaran sekolah yang masih jauh dari angannya kini harus ia hadapi. Berbeda dengan zamannya dulu. Ia masih ingat, ketika ia berada di kelas 1 sekolah dasar buku yang wajib dibawanya hanya dua: buku berhitung serta buku baca dan tulis, tidak juga dapat terpungkiri bahwa hasil dari itu mampu menghasilkan individu-individu yang berkompeten. Jika dibandingkan dengan sekarang, buku yang harus dibawa oleh anak kelas 1 sekolah dasar sudah seperti anak sekolah menengah, sudah bermain pada lembar kerja siswa. Dapatkah kita tahu? Untuk mengejakan sebuah huruf saja mereka masih harus mengumpulkan sebuah tenaga.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here