Ketika Kartini Berkata (Wanita Jawa Lebih Hebat dari Wanita Eropa)

0
547
Foto by szaktudas.com

Hari demi hari kulewati, tapi tak pernah ada titik terang yang akan membawaku ke kehidupan yang lebih baik.

Mungkin itu sedikit gambaran dari seorang Kartini, ketika melihat wanita – wanita Eropa yang begitu bebas berekspresi. Bisa bersekolah tinggi, mempunyai pemikiran luas, dan mempunyai banyak teman. Seadainya aku bisa seperti wanita – wanita Eropa itu, aku pasti akan sangat senang dan hari – hariku pasti penuh warna. Pemikiran – pemikiran itu terus – menerus tumbuh di akal Kartini, dan sedikit banyak telah merubah pola berpikirnya tentang bagaimana seorang wanita Jawa bisa bebas berekspresi seperti wanita – wanita eropa.

Dalam berbagai surat yang dikirimkan untuk temannya di Belanda ia mengungkapkan.
Harus aku mulai dari mana, semua terasa sesak memojokkanku. Entah sudah berapa lama aku tak bisa memperlihatkan gigi putihku untuk sekedar tersenyum. Banyak pertanyaan yang ada di kepalaku ini, apakah semua orang merasakan hal yang sama? Kata – kata itu terus terngiang mengulang – ulang di akal sehatku. Terkadang sampai lupa hanya sekedar untuk mengingat hidup, saat kulihat mereka – mereka tersenyum. Tubuhku terasa remuk redam, hancur berserakan. Kenapa hidupku tak sama dengan mereka, tak semanis gula yang mereka rasa. Sedang aku dan mereka sama – sama memakan nasi.

Betapa kaku kehidupan bersama keluarganya ” kepala saya merupakan yang terhormat, adalah larangan keras untuk mereka sentuh, kecuali dengan izin dan setelah beberapa kali menyembah ” bahkan diceritakan pula, ketika ada makanan di meja, jika beliau ( Kartini ) belum menyentuh makanan itu, maka adik -adiknya juga tidak boleh menyentuh, tidak dapat dipungkiri memang Kartini adalah kaum priyayi, dalam keluarga ningrat ( bangsawan ) tatakrama sangat – sangat dijaga. Beliau adalah putra dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dari istri pertama M.A Ngasirah. Kartini lahir 21 April 1879 di Jepara. Kartini mulai berfikir betapa deskriminatif kehidupannya saat ia tidak boleh sekolah lagi dan itu dilarang oleh orang terdekatnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang berarti adalah ayahnya. Karena wanita Jawa pada masa itu harus dipingit dipersiapkan untuk menikah, dan itu ketika umurnya mencapai 12 tahun.

Pimikiran – pemikiran kartini bertambah lebih luas lagi setelah mengalami perilaku – perilaku dari keluarganya yang di rasa sangat mengekang. Kartini mulai berfikir bagaimana cara untuk menyetarakan kedudukan antara pria dan wanita, dalam benaknya ia berfikir, mungkin enak ya jadi wanita – wanita Eropa tidak ada pengekangan, bebas berekspresi tidak seperti wanita – wanita Jawa yang harus hidup dengan tetek bengek norma adat istiadat. Diceritakan pula Kartini tidak mau lagi belajar mengaji dan belajar agama, hal ini tertulis dalam suratnya untuk Helena Estella Zihandelaar ” aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa – apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella? ”

Dari isi surat di atas dapat disimpulkan bahwa pikiran Kartini mulai ke barat – baratan ia menganggap bahwa Eropa adalah peradaban termaju, yang menciptakan wanita – wanita yang memiliki pola pikir.
Tapi hal itu mulai terbantahkan ketika ia bertemu ulama besar dari Semarang, yang dalam cerita lain disebutkan ulama itu menjadi guru spiritual Kartini. Setelah pertemuannya dengan ulama itu, pola pikirnya semakin matang, ia kembali mau untuk belajar agama, malah semakin tekun yang kemudian membuka mata hatinya. Dalam surat untuk Ny Abendanon tertulis ” semula kami mengira masyarakat Eropa benar – benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami, tidak sekali – kali kami hendak menjadikan murid – murid kami sebagai orang setengah Eropa. Atau orang Jawa ke barat – baratan”.

Dari surat itu bisa disimpulkan Kartini mulai berfikir kritis, mulai membandingkan bahwa wanita – wanita Jawa lebih hebat dari wanita – wanita Eropa. Dari semua hal yang dialami kartini entah lewat pemikirannya, bertukar pengalaman dengan sahabat penanya, dan dari berbagai media cetak yang ia baca. Maka ia menyimpulkan pemikiran – pemikiran yang bersumber dari kedeskriminatifnya yang Kartini rasa, bahwa tidak ada jalan yang terbuka lebar tanpa adanya buah dari pemikiran – pemikiran itu sendiri. Dengan begitu habis gelap terbitlah terang.

Kata habis gelap terbitlah terang itu sebenarnya adalah buah pemikiran Kartini, bukan sekedar dari kumpulan – kumpulan surat -surat yang ia kirim dengan sahabat penanya di Belanda, tapi lebih ke terbukanya matahati atas kegelapan yang ia rasa, bahwa wanita – wanita Eropa lebih hebat dari wanita – wanita Jawa, padahal malah justru sebaliknya, wanita Jawa adalah wanita yang memiliki tatakrama, sopan santun, beragama, dan berpikir kritis. Wanita Eropa tidaklah lebih sempurna dari wanita Jawa. Itu yang sebenarnya ingin Kartini ungkapkan, dan wanita hebat itu adalah Kartini sendiri.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaMengenal Beladiri Wing Chun Ki Kusumo
Berita berikutnyaHari Kartini, SMA N 2 Purworejo Suguhkan Beragam Acara Menarik
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Yan Budi Nugroho, itulah kombinasi nama yang diberikan orang tuanya dan bapak Soekoso DM, seorang budayawan kota kecil Purworejo. Saat ini ia sedang menempuh perguruan tinggi jurusan pendidikan. Hobi: sepak bola, cita-citanya bisa nerbitin buku seperti novelis idolanya Habiburahman el-Zhirazy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here