IMPIAN GADIS MUDA & DUNIA TANPA PERANG In Memoriam Rachel Corrie

0
241

Oleh: Paox Iben ( Budayawan, Novelis & Pecinta Kopi)

Saat putus asa, aku selalu ingat bahwa jalan kebenaran dan cinta selalu menang. Di sana mungkin terdapat tirani dan pembunuhan, dan untuk beberapa waktu, mereka mungkin kelihatan terlalu kuat untuk dikalahkan; tapi pada akhirnya, mereka selalu gagal. Pikirkan ini, selalu.

—Mahatma Gandhi

Sekitar  7 November 2012 pukul 03.42, sebelum pecah perang Israel-Palestina yang entah jilid keberapa itu, saya mengunggah lagu Blowin in the windkarya Bob Dylan yang dibawakan oleh Ketie Meula. Video tersebut berlatar seorang aktivis perdamaian asal Amerika Serikat, Rachel Corrie yang tewas cukup mengenaskan dilindas oleh sebuah Buldozer yang dikemudikan warga (Tentara?) Israel. Gadis Cantik kelahiran Olympia Washington 10 April 1979 itu tewas setelah dua kali dilindas bulldozer. Tengkorak kepalanya remuk, dan tulang rusuknya hancur hingga menembus paru-paru.

Bersama delapan aktivis lainnya,Corrie yang mengenakan Jaket Neon warna Orange dan sebuah megapon yang masih tergenggam ditangannya itu nekad menghadang sebuah bulldozer yang akan menggusur pemukiman warga Palestina di daerah Rafah, wilayah Gaza Bagian Selatan. Dan seperti biasa, otoritas Israel menampik dan mengatakan bahwa itu adalah sebuah insiden karena operator bulldozer tidak mampu melihatnya.

Pada tahun 2005 orang tua Corrie mengajukan gugatan perdata dengan tuntutan 1dollar USkepada Israel sebagai bentuk protes “Simbolik” terhadap sistem peradilan yang menanganinya. Keluarga Corrie menuduh Israel tidak bertanggung jawab dan sengaja mengabaikan kasus tersebut dengan tidak melakukan penyelidikan yang kredibel atas kematiannya. Meskipun mendapat kecaman dari sana-sini, pada bulan Agustus 2012 lalu, pengadilan Israel menolak gugatan mereka dan bersikukuh bahwa Israel tidak harus bertanggung jawab atas tragedi yang mengenaskan itu. Mereka tetap mengacu pada hasil penyelidikan militer Israel tahun 2003.

Baca Juga  Realitas Sosial & Ekonomi dalam Sajak-sajak Aren

Mungkin bagi sebagian orang yang berpikir waras, menganggap apa yang dilakukan oleh Corrie adalah sebentuk kekonyolan lain; Buldozer kok dilawan! piye to? Tetapi, adakah cara lain untuk melawan teror dan kehancuran selain berdiri menentangnya dengan keberanian dan hati terbuka? Mungkin sebagian orang akan berpendapat, kenapa tak mengangkat senjata saja? Ya, sungguh konyol jika anda berpendapat demikian. Apalagi bila menggunakan logika aktivis perdamaian seperti yang dijalani Corrie. Senjata dilawan dengan senjata? Kekerasan dengan kekerasan? Sampai kapan? di era perlombaan senjata pembunuh masal yang sanggup menghancurkan dunia dalam beberapa kejap ini?

Siapapun tahu, siapa dibalik kegagahan Israel, tentu saja ada Amerika, negara super power yang tak hanya pandai membuat senjata penghancur, tetapi juga selalu memproduksi perang, teror dan kebencian. Sebuah negara “makmur” tempat Corrie lahir dan dibesarkan. Negara yang hidup dari menghisap kekayaan dan nyawa jutaan, bermilyar manusia di negara-negara lainnya.

Sebagai anak muda yang besar di negeri modern, Corrie tak beda dengan gadis-gadis lainnya. Ia juga seringkali tampil modis dan trendi. Tetapi rupanya ia dari jenis yang cukup kritis dan peduli terhadap sesama. Ia juga muak dengan system perpolitikan negaranya yang dianggapnya penuh kepalsuan. Iapun mencoba melawan. Melakukan berbagai bentuk protes. Bergabung dengan sebuah aktivitas perdamaian dan menentang peperangan. Ia tidak sekedar berteriak dan menenteng poster. Ia hadir. Ia datang ke Gaza dan menyerap penderitaan masyarakat Palestina. Iapun menjadi bagian dari mereka yang menentang kedzaliman. Bahkan beberapa bulan sebelum kejadian tersebut, Corrie secara terang-terangan membakar bendera Amerika dan Israel dalam sebuah protes untuk menghentikan invasi Amerika di Iraq. Banyak kalangan yang berpendapat, Corrie di”habisi” karena aksinya membakar bendera yang sempat tersebar lewat berbagai media itu.

Baca Juga  Joko Tingkir dan Wajah Politik Indonesia

***
​Siapapun tentu sangat prihatin tentang apa yang terjadi di Palestina. Tetapi jujur, saya cukup terganggu dengan sebuah gambar propaganda tentang Hitler yang beredar di jejaring maya dengan sebuah pesan yang seolah-olah mengabsahkan pembunuhan besar-besaran terhadap kaum Yahudi di eropa pada perang dunia kedua itu. “Saya bisa memusnahkan semua orang Yahudi di dunia ini, tapi saya meninggalkan beberapa dari mereka hidup, sehingga anda akan tahu mengapa saya membunuh mereka…”.

Dalam sebuah pidatonya—yang sempat saya cuplik dalam video montage Novel Gadis Gurun—Presiden Iran Ahmadi Nejad justru mengatakan…Saya sama sekali tidak membenci Yahudi. Sebab Nabi-nabi kita menyembah Allah yang sama. Tetapi Israel tidak sama dengan Yahudi. Mereka hanyalah segelintir orang-orang korup, Zionisian, gerombolan penjahat yang mengatasnamakan Yahudian, Agama Tuhan, untuk menutupi kebohongan mereka. ”

Ya, seorang Ahmadinejad, Presiden Iran, Negara yang paling di benci oleh Amerika, Israel dan sekutunya. Ia tetap mencoba berfikir rasional, mengedepankan akal budi daripada kebencian dan omongkosong tentang penistaan sebuah ras atau agama tertentu yang—mungkin saja sebagaian besar penganutnya membenci dirinya.

Perang dan kebencian. Bukankah keduanya memang memuakkan? Kitapun lantas teringat Sosok lain. Tentu saja, Mohandas Karamchand Ghandi, yang berjuluk Sang Mahatma; tokoh spiritual India yang menginspirasikan gerakan Ahimsa, sebuah gerakan cinta damai; melawan tanpa senjata. Dengan rendah hati, Gandi mengatakan; Ini bukanlah perjuangan mengenai spiritual (agama) atau nasionalisme. Kami tidak menentang apapun. Idenya hanya bagaimana semua manusia dapat hidup bersama.

Comments

SHARE
Previous articleMengingat Sutan Takdir Alisyahbana
Next articleAlunan Suara Dari Surga
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here