Kereta Malam

0
378

Karya: Setiyo Bardono

 

Menggapai lantai dua Stasiun Kotakita, sebuah perjuangan melelahkan bagi ibu hamil. Ada puluhan anak tangga yang harus dilewati. Tiga puluh dua anak tangga dari lantai dasar menuju lantai satu. Empat puluh empat anak tangga menuju lantai dua.

Tangga berjalan di sisi kanan anak tangga hanya membisu. Sebuah papan pengumuman setia menghadang langkah: Mohon maaf! Eskalator masih dalam perbaikan. Fasilitas umum itu memang sesekali berfungsi sesudah itu mati.

Seraya menghitung jumlah anak tangga, beberapa kali langkahku berhenti. Menghela nafas sambil mengusap perut buncit.  Enam bulan sudah usia janin dalam kandunganku. Sabar anakku, ibu akan terus berjuang menjagamu.

Suara langkah-langkah kaki tergesa membawa tubuh-tubuh menyalip lamban langkahku. Mereka berlomba mengejar gemuruh suara kereta yang mulai terasa menggetarkan lantai stasiun. Pengumuman bergema menjelaskan tujuan kereta yang akan datang. Tenang saja Nak, masih ada kereta berikutnya.

Lengang peron lantai dua menyambut kedatanganku. Satu rangkaian kereta sudah menyapu tubuh-tubuh. Hanya beberapa gelintir orang masih bertahan. Mungkin kereta yang melintas tadi beda jurusan atau mereka sedang menunggu seseorang.

Kusadarkan lelah di bangku tunggu yang terbuat dari dua batang besi bulat anti karat, seakan membantah kata penyair: menunggu seperti berjuang melawan karat. Beberapa teguk air putih perlahan terasa menghapus dahaga. Sunyi malam merayapi sekujur peron. Jam stasiun menunjukkan pukul sepuluh malam.

Pada jam-jam sibuk, peron tak pernah sepi. Calon penumpang seperti amuba, berkembang biak cepat dengan cara membelah diri. Seandainya tak ada tugas kantor yang penting dan mendesak, aku pasti sudah berada di rumah, merebahkan lelah sambil nonton sinetron yang tak pernah letih berkutat pada pertengkaran-pertengkaran.

Mas Bramantyo, berkali-kali mengirim pesan ke akun WhatsApp-ku.  Sebagai suami, ia sangat mengkuatirkan kondisiku yang masih berada di perjalanan. Sebenarnya Mas Bram ingin menjemput, namun aku larang karena tempat kerja kami memang berbeda arah. Kalau orangtuaku di kampung tahu pasti akan marah. “Perempuan hamil kok kelayaban sendirian malam-malam. Gak ilok.”

“Perhatian jalur dua dari utara, akan masuk KRL jurusan Stasiun Tepi Kota. Rangkaian terdiri dari 10 kereta. Kereta pertama dan terakhir dikhususkan untuk wanita. Perhatikan tiket dan barang bawaan Anda. Jangan sampai tertinggal atau merasa kehilangan.”

 Aku beranjak, mencari posisi berdiri di peron tengah. Sebenarnya aku bisa melangkah ke ujung peron, agar bisa naik Kereta Khusus Wanita atau KKW yang ada di awal dan akhir rangkaian. Pengalaman beberapa kali naik KKW, justru aku kesulitan mendapat tempat duduk. Ketika wanita berkumpul, mungkin semua merasa sebagai makhluk lemah hingga tak ada yang mau mengalah.

Selain itu, aku harus menjalankan pesan Mas Bram: hindari gerbong paling depan dan belakang. Tragedi kecelakaan kereta listrik yang menyeruduk truk tangki pengangkut bahan bakar gas begitu mencemasnya. Karena KKW berada di kereta terdepan, banyak penumpang perempuan yang menjadi korban luka-luka. Bahkan ada yang meninggal dunia.

“Memang musibah bisa menimpa siapa saja dan dimana saja. Tapi tak ada salahnya berhati-hati. Sebagai laki-laki, aku tak akan membiarkan istriku dalam posisi yang membayakan jiwanya. Apalagi sekarang ada buah hati kita di dalam kandunganmu,” kata Mas Bram.

Aku pernah mencoba memberi pembelaan: KKW berada paling depan sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan, istilahnya “lady first.”

Baca Juga  Ma, Anggi Hoyong Papanggih...

“Maksud mama, kalau terjadi kecelakaan biar wanita jadi korban pertama?” cibir Mas Bram.

“Terus kalau berada di buntut kereta, wanita itu sekedar teman belakang. Kalau kata orang tua jaman dulu, istri sekedar kanca wingking, teman yang mengurusi urusan belakang di sumur, dapur, dan kasur,” lanjutnya.

Mas Bram kemudian memegang telapan tanganku dan menuntun ke dadanya. “Tempatmu yang layak adalah di sini, di dalam hatiku, di segenap jiwa ragaku.”

“Gombal ah,” sahutku dengan manja. Kubenamkan kepala dalam dadanya. Perlahan jemari tangan Mas Bram terasa lembut membelai rambutku. Ah, Mas Bram memang selalu bisa menentramkan hatiku.

Dari kejauhan, lampu kereta mulai terlihat terang menyinari malam. Semoga keretanya tidak terlalu penuh hingga aku bisa duduk dengan nyaman. Perlahan kereta listrik berderak memasuki stasiun. Kemungkinan salah satu pintu kereta keempat atau kelima yang akan berhenti di dekat posisi berdiriku.

Di kereta biasa bukan KKW, ibu hamil lebih dihargai. Ada saja lelaki yang bermurah hati memberikan tempat duduknya. Apalagi di tiap kereta juga tersedia tempat duduk prioritas atau TDP untuk ibu hamil, ibu membawa bayi, lansia, dan penyandang cacat.

Sayangnya, mengapa TDP harus ditempatkan di dekat persambungan, dimana derak roda kereta begitu terasa. Tapi jika tempat duduk biasa sudah penuh dan tak ada satupun yang mau memberi tempat, mau tak mau kakiku harus melangkah mendekati TDP.

— oOo —

Alhamdulillah dapat tempat duduk Pa.

Dengan posisi berdiri, kujawab pesan Mas Bram yang bertubi-tubi merasuki telepon genggamku. Semoga jawaban itu bisa menenangkan perasaannya. Maaf Mas Bram, aku membohongimu.

Sip. Papa akan meluncur ke stasiun menjemput mama. Hati-hati.

Sejak ada berita tentang seorang perempuan keguguran akibat berdiri berdesakan di dalam kereta listrik, Mas Bram selalu mencemaskan kehamilanku. Ia menganjurkan agar aku segera mengambil cuti panjang. Bahkan kalau perlu berhenti bekerja. Aku dapat memaklumi kecemasannya. Apalagi janin dalam kandunganku ini adalah calon anak pertama, buah hati dari perkawinan yang sudah terjalin selama tiga tahun.

Maaf Mas, malam ini nasibku tidak begitu bagus. Biasanya begitu tubuh memasuki relung kereta, tak lama kemudian ada saja penumpang yang berbaik hati memberikan tempat duduknya. Tapi kali ini sudah tiga stasiun tak ada tanda-tanda gerakan baik dari penumpang yang duduk.

Memang suasana kereta tak padat, bahkan bisa dibilang lengang. Tapi seluruh tempat duduk sudah terisi oleh tubuh-tubuh berwajah lelah. Beberapa orang berdiri menyandar di pintu. Terlihat juga tiga pasang muda-mudi yang asyik berangkulan di dekat persambungan. Beberapa penumpang tampak duduk lesehan beralas koran pagi. Sejauh pandangan mata,  kondisi kereta sebelah terlihat hampir sama.

Aku hanya pasrah berdiri menatap stiker yang tempel di kaca dekat persambungan: Tempat Duduk Prioritas. Gambar ibu hamil, ibu membawa bayi, orang tua memegang tongkat dan penyandang cacat menempel jelas di kaca kereta. Rupanya, malam ini nasib kami serupa tapi tak sama. Kalau aku berdiri di kereta, mereka tercetak berdiri di stiker.

Tempat duduk di depanku disesaki penumpang lelaki dan perempuan dalam beragam usia. Sebagian penumpang tertidur lelap atau pura-pura tidur entahlah. Sepertinya guncangan kereta malam serupa ayunan. Sementara earphone yang menyumpal sepasang telinga, mungkin sedang mendendangkan lagu pengantar tidur.

Baca Juga  BERKAH DI UJUNG DERITA

Penumpang yang masih terjaga, matanya lekat menatap layar telepon genggam. Jemari tangannya sibuk menari di atas permukaan layar sentuh. Sepertinya sekarang ini, dunia hanya selebar telepon gengam. Benar juga kata orang, kemajuan teknologi tak hanya mendekatkan yang jauh, tapi juga menjauhkan yang dekat.

Kupandangi wajah-wajah yang menduduki bangku kereta. Berharap ada yang mau berbaik hati. Namun harapanku sia-sia. Apalagi melihat juluran kabel di sepasang telinga mereka. Kenapa malam ini semua penumpang kompak memakai earphone. Apakah mereka takut aku merajuk meminta tempat duduknya?

Melihat wajah-wajah yang kelelahan, aku merasa tak enak hati untuk mencolek salah satu penumpang.  Sempat terbersit untuk mendekati TDP, tapi rasanya akan sama saja. Kalau mereka terjaga, harusnya penumpang yang duduk di TDP tahu kalau ada ibu hamil berdiri.  Haruskah aku berteriak menuntut hak?

Seketika aku teringat, Mas Bram pernah memintaku menyematkan pin bertuliskan “Saya Ibu Hamil! Tolong Dibantu.” Nurul, teman sekantor menawari baju ibu hamil dengan gambar bayi mengintip di perut. Ada juga teman fesbuk yang memakai topi bergambar ibu hamil.

Ah, begitu sudah begitu rumitkah cara orang berkomunikasi agar bisa dipedulikan. Jangan-jangan nanti aku harus seperti pendemo, membawa spanduk atau standing banner bertuliskan: Saya Ibu Hamil! Tolong beri tempat duduk.

Kereta terus berderak menyibak dingin malam. Biasanya, di stasiun ke tujuh, penumpang satu persatu mulai turun. Namun hingga stasiun ke sepuluh, kondisinya tak juga berubah. Apakah semua penumpang turun di stasiun Tepi Kota? Berarti aku harus kuat berdiri dua belas stasiun lagi.

— oOo —

Walau kaki terasa pegal karena berdiri hampir satu jam, aku mulai bernafas lega saat kereta hendak memasuki stasiun Tepi Kota. Kembali kuminum beberapa teguk air putih dan menghabiskan potongan roti, mengabaikan peringatan yang tertempel di dinding kereta: Dilarang makan dan minum. Maaf, bukan hanya aku yang membutuhkan asupan makanan dan minuman ini.

Seperti dugaan semula, ternyata malam ini semua penumpang turun di stasiun terakhir. Biasanya mendekati stasiun Tepi Kota, penumpang tinggal beberapa gelintir. Malam ini sungguh malam yang tak biasa.

Penumpang satu persatu mulai terjaga. Namun ekspresi mereka datar-datar saja saat melihat seorang ibu hamil berdiri. Justru aku yang terhenyak menatap wajah-wajah pucat dengan tatapan mata kosong. Mungkin pekerjaan hari ini benar-benar melelahkan bagi mereka.

Saat mencermati salah satu penumpang yang berkemas, pemandangan tak wajar menguncang kesadaranku. Penumpang lelaki yang duduk depanku santai melepas earphone dan memasukkannya ke dalam tas. Awalnya nampak biasa saja, namun ketika kulihat ada benda lain yang tersangkut di earphone, hatiku diliputi tanya. Benda itu mirip sekali dengan telinga.

Kupandangi wajahnya, mataku terhenyak ketika melihat kedua belah telinganya tidak ada. Namun tanpa tetesan darah sedikitpun. Jadi lelaki ini mencopot earphone sekaligus telinganya? Kesadaranku semakin terguncang saat menatap penumpang lainnya. Tak ada telinga di kepala mereka. Dengan wajah pucat dan pandangan kosong, manusia-manusia tanpa telinga berdiri mendekati pintu kereta.

Seketika pijakan kakiku goyah. Kepalaku terasa pusing. Langit-langit kereta mulai berputar-putar.

Comments

SHARE
Previous article[PURWOREJO BAGUS] – GULA SEMUT ASLI PURWOREJO
Next articleTARIAN KABUT DI PUNCAK SAGA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Setiyo Bardono: Penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here