Tradisi Wayangan dalam Merti Desa

0
760

Oleh: Muh Khoirudin

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Kamis pagi, 5 Mei 2016 mulai pukul 09.00 WIB Panitia Merti Desa, Perangkat Desa, dan Karang Taruna Desa Popongan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo disibukkan dengan persiapan acara merti desa. Merti desa atau sering disebut juga bersih desa, sejatinya adalah simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan karunia yang telah Ia berikan. Kegiatan merti desa tampak menarik antusias masyarakat untuk nguri-uri kebudayaan. Walau kadang ada satu dua orang yang acuh karena alasan tertentu, namun terhitung lebih banyak yang mendukung kegiatan ini.

Kegiatan Merti Desa tahun ini kembali menyuguhkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Panitia memilih dalang Ki Wisnu Hadi Sugito dari Toyan Wates Yogyakarta untuk memeriahkan kegiatan merti desa . Selain wayang, panitia Merti Desa Popongan juga menyelanggarakan pengajian akbar pada siang hari sebelum acara wayangan semalam suntuk berlangsung. Uniknya, pengajian akbar juga diisi oleh kiai yang ahli dalam pewayangan. Kiai Nayla Hilmy Tunjung dikenal dengan dakwahnya dengan metode wayang. Tausiah yang beliau sampaikan saat mendalang
menjadikan kesan tersendiri bagi hadirin yang datang.

Pengajin akbar dimulai setelah sholat dhuhur. Penceramah langsung naik ke atas panggung. Beberapa tausiah disampaikan oleh kiai pada awal ceramahnya, kemudian dilanjut dengan ia mendalang hingga acara selesai. Jeda ke acara wayang masih cukup panjang, sebentar ku luangkan waktuku untuk melihat beberapa alat yang digunakan untuk pertunjukkan wayang. Jarang sekali mendapat kesempatan seperti ini menurutku. Mungkin jika tidak ada kegiatan merti desa, tidak mungkin aku bisa melihat alat musik tradisional secara langsung.

Sedari pagi ikut wara-wiri dalam kegiatan ini akhirnya waktu senjaku aku putuskan untuk istirahat sejenak, mengingat nanti malam masih ada kegiatan lagi. Waktu memang seperti tak bersahabat denganku, baru saja aku melemaskan otot-otot yang terasa kaku waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 pertanda aku harus segera ke Balai Desa tempat dimana kegiatan merti desa dilangsungkan.

Sampai di sana pengunjung sudah terlihat mulai memadati kursi-kursi yang disiapkan panitia. Sementara di atas panggung masih terlihat sepi, hanya tampak beberapa orang yang entah sedang apa karena aku melihatnya dari kajauhan. Singkat cerita pertunjukkan wayang pun dimulai. Penonton tampak hikmat memandangi pak dalang yang sedang memainkan wayangnya. Beberapa suguhan pun disuguhkan kepada para penonton. Tidak terasa waktu begitu cepat, malam semakin larut. Aku tengok penonton tampak jarang yang belum beranjak meninggalkan tempat duduknya, mereka masih fokus pada pak dalang. Hal ini tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena banyak yang pulang awal.

Angin berhembus pelan, dingin menyapa perlahan. Tiba-tiba terdengar sayub-sayub Adzan Subuh berkumandang, tak lama kemudian Pak Dalang mengakhiri cerita tentang lakon wayangnya. Dan aku pun pulang.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here