Ma, Anggi Hoyong Papanggih…

0
300

Oleh: Agung Rakhmad

 
“Biar saya duluan pak yang maju“ teriak Anggi saat lomba memperingati hari Kartini pekan lalu. Ia melangkah perlahan kedepan, menarik napas sejenak, ruangan riuh suara anak-anak yang masih tak menyangka Anggi akan maju, anak laki-laki yang tempramental ketika hal yang tak diinginkannnya tak terwujud. “ Silahkan Anggi “ ucapku pelan. Ia tersenyum, suara emasnya mengalaun, seisi ruangan bertepuk tangan. Aku terdiam, terdiam mendengar suara emasnya, terdiam dengan makna lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan. Lagu berjudul Ibu itu pun terus mengalun, mengantarkanku ke cerita Anggi yang ia tulis di buku diarynya, diary rutin setiap hari anak-anak didikku yang setiap hari aku baca dan periksa.

Lagu Ibu itu terus mengalun, “Kaulah ibuku, cinta kasihku“ anak-anak mulai ikut bernyanyi. Namanya Anggi Aderiana Husni, seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun, kelas tiga di tempatku mengabdi, MI Cibengang. Anak laki-laki yang saat berumur dua tahun ditinggal pergi ibunya entah kemana, Anggi kecil tinggal bersama ayah dan diasuh neneknya ketika ayahnya merantau. Kalimat yang masih teringat yang cukup menyayat hati, “Pak saya belum pernah melihat wajah ibu saya“ hari itu, hari yang mengingatkanku secara tidak langsung apa kabar ibu di rumah. Anggi kecil yang belum tahu apa-apa, tak pernah lepas dari senyum khasnya. Di tulisannya, ia bercerita bahwa ayahnya sampai harus meminta maaf tidak bisa mempertemukan ia dengan ibunya walaupun ia menangis setiap malam, betapa rindu itu sudah bertumpuk untuk anak berumur sembilan tahun.

Lagu ibu yang dilantunkan Anggi semakin membuat riuh ruangan, tidak malu-malu, Anggi bernyanyi dengan gerakan yang mengisyaratkan betapa ia rindu dengan ibunya, di sudut-sudut kelas, aku melihat beberapa anak perempuan menangis, menghayati lagu ini. Di akhir suratnya, kalimat yang terbang melayang ke segala penjuru semesta dan aku hanya bisa berkata “aamiin”, kalimat penuh harap dari seorang anak yang berjuang dibalik rindu yang mendalam, “Saya selalu ingat ibu saya pak, saya selalu berdoa, Ya allah semoga saya berjumpa dengan ibu saya, saya tidak sabar ingin bertemu ibu.. Ya Allah, Ma.. Anggi hoyong papanggih.. (Ma, Anggi ingin bertemu) “ . Lagu ibu itu berakhir, lagu yang menyinari kami di ruangan penuh haru yang dibawakan Anggi. Riuh tepuk tangan untuk Anggi, ia tersenyum dan kembali duduk.

Sekuat apapun kita, sejauh apapun melangkah, doa ibumu adalah yang utama, kebahagiaan ibumu adalah harta yang paling berharga, bapak akan berdoa terus untuk Anggi, untuk semua anak di sini, setiap hari di sini selalu memberi pelajaran baru buat bapak, kalian senja yang tak pernah pudar.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaDisbudbar “Lemah Syahwat” Hadapi Pemandian Air Panas Gunung Pancar
Berita berikutnyaCara Membedakan Ladyboy dengan Wanita Asli Saat Berlibur di Thailand
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here