Jero Wacik, “Dijebak” Kasus dalam Ketidaktahuan

0
194
Foto by rmol.co

Oleh: Jun Winanta

Apa yang terucap dari isi kepala mereka tentang Jero Wacik? DOM, Pemerasaan, dan Gratifikasi, apakah ada bukti-bukti lagi?

Dalam hidup seseorang tentu punya prinsip yang dipegang. Sampai kapanpun itu. Begitu pula dengan Jero Wacik. Pria kelahiran Singaraja, Bali 67 tahun silam ini punya filsafat hidup, tentunya filsafat orang Bali yang dipegang erat olehnya. Begini bunyinya, “Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin. Gaginane buka nyampat, Anak sai tumbuh luhu. Ilang luhu ebuk katah. Yadin ririh, Enu liyu pelajahin. Bunyi artinya kira-kira begini, “Jangan merasa diri bisa, biar orang lain yang menilai. Pekerjaan kita seperti tukang sapu, hilang sampahnya debunya masih banyak. Biarpun pintar, masih banyak hal yang harus dipelajari”.

Sama halnya dengan “Di atas langit masih ada langit”. Masih banyak yang perlu digali dari filsafat hidup beliau tersebut untuk ditularkan kepada seluruh orang. Secara tidak langsung, ketika saya membaca artinya, sempat tercenung. Saya memikirkan dan mencerna kalimat itu dalam-dalam. Jero Wacik dapat menjadi inspirasi secara pribadi untuk saya.dan bahkan semua orang. Kalimat dengan arti yang kurang lebih sama sempat saya dapatkan dalam bahasa Jawa, seperti ini, Ojo rumongso pinter, meh pinter rumongso. Artinya kira-kira begini, “Jangan merasa pintar, tetapi pintarlah merasakan”. Ada makna terdalam yang sampai hari ini melekat dalam diri saya, seperti halnya Jero Wacik.

Filsafat hidup tersebut beliau tanamkan dan jalankan hingga hari ini. Tak ingin menilai diri sendiri, Jero Wacik membiarkan sahabat-sahabat yang menilai. Dari sahabat-sahabatnya itulah dia tahu bagaimana cara menempatkan diri, berlaku, berpikir, membuat keputusan, karena beliau menganggap sahabat itu sebagai pencerah kehidupan untuk berlaku lebih baik ke depannya. Di mata para sahabat, Jero Wacik dikenal sebagai pribadi yang lugas dan bicara tegas. Mungkin, jika ada orang yang belum mengenal dirinya, terkesan temperamental. Sebenarnya, itu cara beliau menunjukkan semangat.

Mereka Berucap
Penuturan Prof. Akhmaloka, Ph.D, yang saat itu menjabat sabagai Rektor ITB, bahwa Jero Wacik selalu ingat almamaternya. Hal yang paling mengesankan Akhmaloka, dia satu-satunya menteri yang bisa hadir saat pelantikan dirinya menjadi Rektor ITB sekitar 2010. Setelah kejadian itu, hubungan Pak Akhmaloka dan Jero Wacik semakin erat.

Mereka banyak berdiskusi tentang beragam hal, juga memiliki kerjaan bersama. Mereka pun sering bertemu di Bandung juga di Jakarta, baik suasana formal maupun informal. Bahkan, saat Jero Wacik masih menjabat sebagai Menbudpar, sering datang ke kampus ITB untuk berbagi kepada yang muda-muda. Ditambah lagi, Jero Wacik sebagai pendiri Maha Gotra Ganesha (MGG), unit kesenian mahasiswa ITB.

“Jero Wacik sebagai pembimbing MGG. Jadi, dirinya masih sering hadir. Jero Wacik salah satu alumni yang masih rajin datang ke almamaternya”, ucap Prof. Akhmaloka.

Menurut Akhmaloka juga, beliau orang yang mudah bergaul, sederhana, bawaannya tidak formal, serta enak diajak bicara. Kalau ada apa-apa, Pak Jero tidak sungkan-sungkan menelepon Pak Akhmaloka. Begitupun sebaliknya. Di sinilah kita dapat memahami Jero Wacik. Meski sudah menyelesaikan studi lama berselang, tetapi dengan almamater dan teman-teman yang pernah seperjuangan tidak dilupakan. Beliau sangat memaknai sebuah persahabatan.
Lain Prof. Akhmaloka, lain pula Prof. Dr. Ganjar Kurnia, yang pernah menduduki kursi Rektor Universitas Padjajaran. Prof.Ganjar mengenal Jero Wacik saat masih menjadi mahasiswa. Ketika itu, Jero Wacik kos di tempat Pak Ketut Patra. Rumah Pak Patra dekat dengan rumah Pak Ganjar, di kawasan Cisitu. Baik Pak Ganjar dan Jero Wacik sering bermain pingpong, ngobrol, dan lainnya.

Saat mahasiswa, Jero Wacik dikenal sebagai aktivis. Banyak kegiatan yang diikutinya, selain di kampus, Jero Wacik juga aktif di Bimbingan Belajar. Akan tetapi, menurut Pak Ganjar meski banyak aktivitas, adaptasi Jero Wacik dengan masyarakat setempat sangat bagus.

“Oleh karenanya, wajar saja kalau beliau menjadi politisi yang bisa beradaptasi dengan beragam kalangan, juga dapat beradaptasi di berbagai bidang”, tutur Pak Ganjar yang mengenal Jero sejak masih menjadi mahasiswa.

Suatu ketika dalam sebuah acara di Paris, Pak Ganjar sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Perancis bertemu Jero Wacik, yang saat itu datang sebagai Kemenbudpar. Pak Ganjar mendekati beliau, tetapi Jero Wacik sama sekali sudah tidak mengenali dirinya. Saat berdekatan, Jero Wacik menanyakan asal Pak Ganjar. Dijawab oleh Pak Ganjar dari Kampung Cisitu. Jawaban Jero Wacik, “Oh, pantas, dari tadi perasaan saya pernah kenal wajah seperti ini”, katanya sambil terbahak.

Di mana tempat, orang baik dan benar itu berlaku, tetaplah menjadi baik dan benar. Berlian sekalipun, jika jatuh ke lumpur tetaplah masih menjadi berlian. Begitu pula dengan Jero Wacik. Orang baik dan benar, tetap akan dikenang sebagai orang baik dan benar.

Baca Juga  Kenapa Hari Kartini Diistimewakan?

Kita dapat melihat, betapa mudahnya Jero Wacik bergaul. Dengan siapa saja dia bersua sapa, tak perlu waktu lama, langsung dapat merangkul orang yang diajak bicara. Artinya, ada charisma tersendiri dalam diri Jero Wacik ketika bertutur kepada lawan bicara. Hal ini yang jarang dimiliki sebagian orang.
Sebagai orang Bali, seluruh warga Bali pun bangga ada putra daerah yang mampu berkiprah di kancah nasional dan internasional, tanpa meninggalkan akar-akar Balinya. Jero Wacik, sebagai orang Bali yang tetap berpegang teguh pada kebudayaan Bali, agama Hindu, dan tradisi setempat.

Beliau selalu berpikir positif tanpa pernah mencurigai orang lain. Dengan cara berpikir seperti itu, prestasi beliau sangat banyak. Di Bali, dirinya dikenal oleh masyarakat sebagai pemimpin yang ramah dan mudah berkomunikasi juga termasuk orang yang multi talenta. Talentanya sangat bervariasi. Mulanya sebagai pebisnis, menjadi birokrat, hingga capaian tertinggi birokrasi menjadi seorang menteri, politisi, juga pengurus partai. Hal itu jarang dimiliki orang, sehingga pantaslah masyarakat Bali berbangga.

Ekonomi Sumber Daya Mineral dikembangkan Jero Wacik, dari tingkat daerah (Bali) hingga nasional. Ucapan Jero Wacik kepada Rektor Udayana yang sempat mengobrol lebih dari dua jam bahwa perguruan tinggi punya peran penting. SDM yang berkualitaslah yang menjadi sumber daya untuk pengembangan nasional, baik di tingkat nasional maupun Bali.

Kemampuan Jero Wacik dalam menuliskan hal-hal yang menjadi pengalaman, apa yang sudah beliau lakukan sehingga orang lain dapat membaca dan memberikan inspirasi kepada orang Bali. Dirinya, melalui perjuangan keras untuk dapat masuk ke ITB. Sebagai tokoh Bali yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional tanpa malu menyatakan kebaliannya atau khasnya tentang Bali. Beliau menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Inilah tuturan panjang lebar Prof. I Made Bakta, yang pernah menjadi Rektor Universitas Udayana dan sedikit banyak tahu tentang Jero Wacik.
Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, sebagai Rektor Universitas Pendidikan Ganeca, Bali mengenal Jero Wacik sejak SMEA. Kala itu Jero Wacik banyak menulis buku-buku pelajaran SMA. Pak Nyoman memang tidak menggunakan buku-bukunya, beliau baru mengenalnya secara dekat sejak menjadi Dosen di Universitas Pendidikan Ganeca.

Secara pribadi, Pak Nyoman sering mendatangi beliau kala di Bali, bahkan mendampinginya. Beliau terkesan dengan cara Jero Wacik, mengutamakan kesederhanan. Sementara pemikirannya cemerlang dan visioner untuk kemajuan bangsa Indonesia. Pak Nyoman, diceritakan langsung oleh Jero Wacik, semasa SMA, beliau menjadi yang terbaik dan juara. Untuk pertama kalinya, kepalanya dielus-elus oleh Presiden RI pertama, Soekarno. Jero Wacik menjadi siswa teladan kala itu.

Di mata Pak Nyoman, Jero Wacik luar biasa. Kepemimpinannya sudah diakui, terutama dalam melakukan tugas untuk bangsa dan negara. Konsisten dengan pemikiran dan terobosannya. Beberapa waktu, Jero Wacik membagi-bagikan bukunya ke masyarakat. Hal itu sangat membantu masyarakat Bali agar tidak asing dengan sosoknya. Pak Nyoman berharap, Jero Wacik dapat berkiprah lebih tinggi lagi untuk Indonesia.

The Right Man on the Right Place
Dulu, pariwisata Indonesia tidak dikelola dengan disiplin ilmu khusus. Bagaimana akhirnya muncul disiplin ilmu itu di perguruan tinggi? Jero Waciklah yang meng-golkannya di tingkat universitas, saat menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Tak salah SBY mengangkatnya dua kali rentang jabatan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Dia berhasil dan mampu menaikkan pendapatan di sektor pariwisata dengan mendatangkan lebih dari 50% kunjungan. Ini bukti kerja nyata beliau.

Sekitar 84 Triliun rupiah masuk sebagai devisa negara. Pendapatan sektor pariwisata yang sungguh fantastis di tengah negara yang sedang “oleng” keuangan. Dari sini pula, beliau mengantarkan Indonesia masuk kedalam catatan MURI dengan capaian kunjungan Turis Asing tertinggi dalam sejarah kepariwisataan negeri ini.

Lagi-lagi, berkat kegigihannya memperjuangkan hal-hal yang menjadi ciri negara ini, akhirnya, Batik, Keris, Wayang, Angklung, Subak, Geo Park Batur, Tari Saman, dan Tari Bali, diakui oleh Lembaga Dunia UNESCO-Paris. Keberhasilan yang juga tercatat dalam sejarah Kementerian Sumber Daya Mineral. Mr. Wang bertekuk lutut di hadapannya manakala renegosiasi LNG TANGGUH berhasil digolkannya. Tak mudah untuk melobi Mr. Wang. Orang yang sangat sulit diyakinkan, kaku, dingin, dan sukar dicairkan. Tetapi, Jero Wacik punya trik pintar tersendiri, dia pakai cara melalui pendekatan sejarah hubungan antara Tiongkok dan Indonesia, well done!

Baca Juga  Bunga Budaya dan Buruk Persepsi

Jero Wacik dengan semangat Sregep, Satia, & Wirang (Bali = cerdas, setia, & membela) atau mau pasang badan. Pasang badan untuk kepentingan masyarakat banyak. Prinsip-prinsip ini yang beliau jaga untuk kemajuan Indonesia.

Dijebak Kasus dalam Ketidaktahuan
KPK, menetapkan Jero Wacik sebagai tersangka kasus korupsi ketika menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Tuduhan yang tak berdasar “sengaja” dilayangkan KPK sepertinya untuk menjegal karier politik Jero Wacik ditingkat yang lebih tinggi lagi.

Apakah ada ketakutan terselubung KPK dengan sepak terjang Jero Wacik selama ini? Atau KPK memang menargetkan orang-orang Demokrat sebagai pesakitan korupsi di negeri ini? Atau KPK ingin “cuci tangan” dari gejolak politik yang ada di dalam tubuh KPK sendiri? Tuduhan yang paling menyakitkan dan sangat tidak mengenakkan tentunya untuk diri Jero Wacik dan keluarga.

Bagaimana seorang Jero Wacik melakukan korupsi Dana Operasional Menteri, sementara dirinya belum lagi diangkat sebagai menteri di Kementerian ESDM kala itu? Waryono Karno yang saat itu menjabat sebagai SekJen ESDM, apakah sudah tahu dan mengenal secara intens Jero Wacik? Hal ini seperti rekayasa pembunuhan karakter anak bangsa yang tidak ingin maju pesat untuk mengembangkan kepentingan negara.

Jelas-jelas Jusuf Kalla katakan dalam kesaksiannya, karena dikembalikan prinsip dasar bahwa DOM itu harus fleksibel dan itulah yang sangat penting bersifat lumpsum. Jadi, tidak diharuskan untuk memberikan bukti-bukti. Kurang jelas apalagi JPU dan KPK mendengarkan kesaksian orang nomor dua negeri ini? Apakah sengaja tidak menggubris kesaksian Pak Jusuf Kalla untuk menyusun bukti-bukti baru lainnya? Pun dikatakan Jusuf Kalla, bahwa penggunaan Dana Operasional Menteri (DOM) tidak harus dipertanggungjawabkan dengan administrasi lengakap seperti halnya nota pembayaran.

Seakan Jero Wacik dianggap batu kerikil yang meski kecil tapi mampu melukai orang-orang yang memiliki kepentingan. Artinya, Jero Wacik dapat dianggap sebagai penghalang untuk memuluskan jalan KPK yang punya kepentingan di luar kepentingan sebagai yang disebut-sebut Lembaga Bebas Korupsi. Di mana kejelian KPK mengusut hingga bukti-bukti nyata itu ada di hadapan majelis hakim dan jelas?

Sementara, orang nomor satu negeri ini pun mengirimkan testimoni yang ditulis di secarik kertas langsung oleh SBY. Penjelasan SBY tersebut langsung diberikan oleh Jero Wacik ke Majelis Hakim yang mengadilinya. Bagaimana hakim melihat testimoni langsung dari SBY tersebut? Adakah tanggapan yang dilontarkan atau dibacakan hakim mengenai hal itu? Apakah KPK membaca testimoni tersebut dan seperti apa reaksi KPK?

Hal ini patut dipertanyakan. Bagaimana tidak, banyak saksi yang dihadirkan dalam kasus ini. Semua bicara, bahwa Pak Jero Wacik tidak pernah menerima uang dari manapun sepersepun! JPU dan Hakim Tipikor, sangat perlu memerhatikan dengan saksama:
1. Melihat dan mengetahui reputasi Jero Wacik selama menjabat menteri
2. Prestasi-prestasi yang telah ditorehkan untuk dan atas nama bangsa.
3. Testimoni SBY yang kala itu sebagai Presiden RI
4. Kesaksian orang nomor dua negeri ini, Jusuf Kalla, dan
5. Kesaksian para saksi yang dihadirkan yang semuanya mengatakan, “Pak Jero Wacik tidak pernah menerima uang dari siapapun”,baik terkait gratifikasi maupun PEMERASAN yang dituduhkan.

Kasus ini sangat unik dan menarik untuk ditelaah. Banyak unsur-unsur politis bermain. Rekaan politik kasus dalam ketidaktahuan Jero Wacik “dimanfaatkan” segelintir orang untuk mencoreng nama. Membunuh karakater seseorang secara perlahan-lahan, apakah melihat efek atau tidak. Berujung bui itu capaian yang diinginkan KPK kepada target hukumnya.

Tuduhan pemerasan dari Kementerian Ekonomi dan Sumber Daya Mineral kepadanya dirinya, itu artinya sama saja Jero Wacik memeras untuk kepentingan diri pribadi atau orang lain. Sementara, hal itu melanggar hukum dan menyalahgunakan kekuasaan untuk memaksa seseorang atau bawahan. Ini tidak tercermin sama sekali dari seorang Jero Wacik. Tuduhan pemerasan itu dengan total nilai yang sangat fantastis Rp10.370.000.000 (Sepuluh miliar tiga ratus tujuh puluh juta).

Logika berpikir kita pasti bertanya-tanya jika tahu perjalanan Jero Wacik untuk menjadi menteri. Lha… Jero Wacik baru diangkat jadi menteri sekitar Oktober 2011, sementara dana kickback ini berjalan sejak tahun 2010. Artinya, memang ingin ada orang yang dikorbankan dalam percaturan politik hukum di negeri ini. Sangat disayangkan, ini tindakan seseorang yang tak mau mengakui kesalahan demi menyelamatkan diri sendiri.

Kita akan lihat, sejauh mana peran penegak hukum untuk melihat kasus ini lebih detail dengan bukti-bukti konkret? Apakah kebobrokan penegak hukum serta politisasi hukum yang tidak etis akan terus diamini hingga Jero Wacik tetap berada dalam hotel prodeo?

Comments

SHARE
Previous articleNyanyian Air: Potensi wisata di Hargorojo
Next articleAku dan Riuh Gambir: Sebuah Memoar Darman Prasetyo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here