Petuah di Pertigaan Buntu

0
261

Oleh: Muh Khoirudin

Di ujung jalan sana aku terlalu takut pada eksekutor hak atas diriku. Padahal aku tahu itu belum tentu pasti. Masih banyak sebenarnya tentang literatur manusiawi yang sering aku kandaskan. Terlintas sejenak mengenai batu yang keras itu dapat kikis oleh seringnya air yang menetesinya aku pun mulai paham tentang makna.

Proses pahit dan manis kehidupan terlihat gamblang, namun kadang aku terlalu dangkal memahaminya. Bagaimana sebenarnya kata bahagia itu seharusnya aku katakan sejak dulu namun aku selalu menunggu besok yang entah kapan dirasa. Kebahagian itu selalu datang namun entah sering aku abaikan, ia nampak kecil untuk dirasakan karena terlampau jauh aku memandang hak yang diizinkan. Getirnya hidup bahkan sering kali melukai sebuah tawa yang seharusnya terpampang tanpa keragu-raguan. Ada saja mengenai hal tersebut yang menjadikannya lembab oleh proksi sindikat kepemahaman.

Hidup itu seperti melodi yang sebenarnya dapat kita mainkan, hanya saja butuh keahlian untuk menyatu dengannya. Mungkin manajemen waktulah yang kiranya dapat mengubah pola pikir tentang titik kebaikan. Seiring dengan matahari yang semakin panas, maka cairlah isi kepala manusia. Sehingga mungkin akan sedikit mengencerkan pemikiran yang kadang terabaikan. Cermatilah tentang bagaimana Tuhan menjadikan makhluk sekecil bakteripun ada gunanya. Lalu kenapa kita seringkali abaikan kebaikan dalam kerucut lingkar yang tampak seakan bahagia itu dalam sudut pandang berlimpah.

Persepsi sepasang mata dengan hati ditambah pikiran acapkali membuat pilu di tengah jalan. Mata untuk melihat, sedang hati ia lebih unggul dalam rasa, melihat fungsi tersebut sesungguhnya apa yang ada dalam pikiran kita dapat disinkronkan dan dikaji lagi. Mata seharusnya dapat mawas diri karena ia tahu mempunyai hati yang lembut. Begitu juga pikiran yang harus lebih jeli berfikir terhadap sebuah pemahaman.

Sudilah kiranya memandang hal yang kecil agar tampak sedikit besar. Agar kita tahu bahwa apa yang disebut kecil itu tidaklah lemah. Dan hal yang disebut besar itu tak selamanya kuat dan akan dipuji.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaVirus Indo-Rock Van Nusantara
Berita berikutnyaKok Rangga dan Cinta Tak Mampir di Purworejo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here