Kok Rangga dan Cinta Tak Mampir di Purworejo

7
805

Oleh: Setiyo Bardono

 

Rangga dan Cinta bertemu di kota Yogyakarta, setelah terpisah sekian ratus purnama. Pertemuan ini menjadi jawaban akan tanda tanya besar yang ada di benak para penggemar film “Ada Apa dengan Cinta”. Namun ada satu hal yang saya sesalkan dari pertemuan mereka. Kok Rangga dan Cinta tak mampir di Purworejo.

Presiden Joko Widodo saja berkenan mampir ke Purworejo untuk meresmikan Pasar Krendetan beberapa waktu lalu. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kota pensiunan itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sebenarnya, kalau Rangga dan Cinta mau datang ke Purworejo, mereka akan menemukan banyak hal menarik. Salah satunya menyangkut masa lalu Rangga. Wah!

Untuk mencapai Purworejo, Rangga dan Cinta bisa naik kereta Pramex dari Stasiun Tugu menuju Stasiun Kutoarjo. Harga tiketnya sangat terjangkau, cuma delapan ribu rupiah, tidak sampai satu Dolar Amrik. Di atas derak roda kereta, perjalanan Rangga dan Cinta saat menyusuri kenangan akan lebih bergemuruh.

Sesampainya di Kutoarjo, jangan lupa mampir ke warung kupat tahu di selatan pasar Kutoarjo. Sambil menikmati kuliner khas Purworejo yang mantap surantap itu, Rangga yang puitis bisa modusin Cinta tentang filosofi ketupat. Bagaimana bungkus ketupat terjalin serumit hubungan mereka berdua. Tapi pada saatnya pisau tajam akan menguak putih cinta. Halah.

Baca Juga  Mudik ke Sukabumi? Ini dia 10 Destinasi Favorit yang Wajib Dikunjungi

Selepas makan kupat tahu, Rangga dan Cinta bisa keliling mencari jajanan khas Purworejo di Pasar Kutoarjo. Salah satunya tentu saja lanting, dari yang original hingga aneka rasa. Begitulah, lanting juga berbenah diri dan rasa mengikuti perkembangan dunia. Jajanan khas lainnya yang menantang untuk dicoba adalah binggel, clorot, gatot, tiwul, ciwel, cenil, dan lain-lain. Sementara minuman fenomenal yang patut dicoba adalah Dawet Ireng (Dawir).

Dawet ireng ini mewakili sikap Rangga yang misterius, tapi rasanya ngangenin terus. Konon, warna hitam dawet itu berasal dari bahan alami serbuk arang batang padi. Jika ada waktu, Rangga dan Cinta bisa ke arah barat menuju Jembatan Butuh. Di sebelah timur Jembatan Butuh inilah cikal bakal dawet ireng. Risikonya, ya harus sabar mengantri, karena pengunjungnya selalu membludak tak henti-henti.

Tapi jangan khawatir, di sepanjang jalan raya banyak lapak dawet ireng. Jaraknya persis seperti minimarket di kota besar, hanya sepelemparan kolor sudah ada dawet ireng. Semuanya mengaku asli Butuh. Rasanya pun sebelas dua belas. Tanpa perlu repot membuat tugu dawet ireng di alun-alun, minuman segar itu sudah menjadi ciri khas Purworejo. Jadi begitulah Pak Bupati, yang penting ketersediaan produk unggulan bukan keberadaan tugu-nya. Lho, kok curcol.

O iya, jangan lupa Rangga harus mengajak Cinta menuju alun-alun Kutoarjo untuk melihat wajan raksasa di Museum Tosan Aji. Penggorengan yang belum lama ditemukan warga yang sedang menggali pondasi rumah itu, masih diselidiki asal-usulnya. Konon, wajan tersebut adalah tameng Captain America yang terlempar saat tawuran dalam Civil War. Melihat wajan segede gaban, pasti Neng Cinta akan antusias untuk memboyong ke galeri miliknya.

Baca Juga  Berlibur Sekaligus Belajar Beternak di Kampung Domba Pandeglang

Dari Kutoarjo, Rangga dan Cinta bisa naik angkot atau becak motor menuju alun-alun Purworejo. Di Masjid Agung yang berada di barat alun-alun, mereka bisa melihat bedug raksasa. Selain melihat, ya jangan lupa salat. Di alun-alun Purworejo ini ada banyak juga aneka kuliner yang bisa dinikmati sambil lesehan dan leyeh-leyeh. Manteplah.

Di Purworejo inilah, Rangga harus menemui Ilhan Erda, sejarawan magang yang lagi naik daun, setelah menerbitkan buku Mutiara dari Bagelen. Sebab Ilhan Erda tahu benar bahwa Rangga sebenarnya adalah salah satu dari sekian banyak mutiara bagelen yang terserak di seluruh penjuru dunia. Sejarawan muda yang lebih senang disebut penggelana ini akan membeberkan akar silsilah Rangga yang belum terungkap. Menurut sahibul hikayat, kakek dan nenek Rangga berasal dari Purworejo. Takon Ilhan kalau gak percoyo (tanya Ilhan kalau tak percaya).

Memang Purworejo banyak melahirkan anak-anak bangsa yang kemudian menyebar dan berkiprah di kancah nasional maupun internasional. Istilahnya dari Purworejo untuk Indonesia dan Dunia. Tak heran jika ketebalan buku Mutiara dari Bagelen, yang berisi profil tokoh-tokoh asal Purworejo semakin bertambah. Jika terus di-update buku itu ketebalannya bisa lebih dari satu meter.

Baca Juga  SITUS PURBAKALA TAPURARANG

Cinta yang punya galeri pasti akan tertarik saat Ilhan Erda menceritakan bagaimana di Purworejo banyak sekali seniman dengan karya fenomenal seperti pelukis Hanafi, H. Widayat, dan Basuki Resobowo. Purworejo juga merupakan kota kelahiran dalang kondang Ki Timbul Hadiprayitno dan Sutarko Hadiwacono. Cinta bisa juga sowan ke novelis Atas Danusubroto maupun Junaedi Setiyono. Atau penyair Soekoso DM, Sumanang Tirtasujana, dan lain-lain. Kalau mau telepon dulu, pasti penyair Budhi Setyawan juga akan rela pulang kampung demi menemui Cinta.

Jika masih ada waktu luang, Rangga dan Cinta bisa blusukan untuk menikmati keindahan tempat pariwisata di Purworejo yang eksotik. Mulai dari Curug Silangit, Pantai Ketawang, Pantai Jatimalang, Gua Seplawan, Geger Menjangan yang tak kalah menarik dari Puncak Bogor, Curug Muncar, dan lain-lain. Kalau nggak percaya coba tanya aja Mbah Google. Kalau diterangkan semua nggak habis-habis cerita keindahannya.

Nah, babak Rangga dan Cinta mampir di Purworejo bisa menjadi sekuel film Ada Apa dengan Purworejo eh Ada Apa dengan Cinta Bagian ke 3. Ditunggu lho kehadiran Rangga dan Cinta di Purworejo.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaPetuah di Pertigaan Buntu
Berita berikutnyaArfian Fuadi, Lulusan SMK Kalahkan Insinyur Oxford
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Setiyo Bardono: Penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

7 KOMENTAR

  1. dawet ireng jembatan butuh siseh wetan (jembut setan) bukan sebelah kulon jembatan..
    musium tosan aji sudah tidak berada do kutiarjo Pak, sudah pindah di sebelah selatan alun alun purworejo

    • iyo salah ketik iki. nulis nang krl, sambil jaga keseimbangan. Tapi plang Museum Tosan Aji kok isih ada di Kutoarjo yo. Monggo nulis ttg Purworejo Mas.

  2. wow,,keren pak..mungkin bapak bisa menceritakan atau bahkan memotivasi temen-temen CPP(Cah Purworejo Perantauan) untuk memajukan kota tercinta pak.

    Salam Kenal dari loano.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here