SURAT BUDAYA DARI DELTA INDONESIA FOUNDATION

0
409

Oleh: George Soedarsono Esthu
( Budayawan, Filsuf, Dalang Rennaisance. Tinggal di Jakarta Selatan)

Abad 21 disebut abad kegelapan, dimana ditandai oleh “desentralisasi manusia” ”kematian manusia sebagai subyek”. Dengan kata lain, apakah “keagungan manusia” telah tereduksi atas kekhilafannya sendiri, ataukah karena manusia modern telah kehilangan kemampuan abstraksinya, karena manusia telah kembali sebagai viator mundi, orang yang berziarah di dunia ini, bukan lagi sebagai faber mundi, orang yang menciptakan dunianya.


Sartre, mengungkapkannya dengan sangat indah:
”Makna hidup didasarkan pada dua rasa: rasa klasik atau rasa moderen. Rasa klasik bersumber pada masalah moral, sedangkan rasa moderen bersumber pada masalah metafisik. Maknanya, ialah, yang dituntut manusia dari dirinya sendiri adalah hidup semata-mata dengan apa yang ia ketahui, mencukupi diri sendiri dengan apa yang ada dan tidak memasukkan unsur apapun yang tidak pasti.”

Sebelumnya, kita perlu mengetahui apakah hidup harus mempunyai arti untuk dijalani? Sekarang tampak sebaliknya, yaitu, bahwa hidup dijalani dengan lebih baik bila tidak mempunyai arti. Ini adalah bunuh diri pedagogis. Keterbatasan ini membawa kita sendiri ke tempat di mana kita tak lagi mundur ke balik sudut pandang obyektif, dimana kita sendiri maupun kehadiran orang lain tak dapat menjadi sekadar obyek bagi kita. Itu adalah tempat-tempat lengang dan tandus dimana pemikiran sampai pada batas-batasnya.
Konsekuensinya adalah: ada suatu kenyataan yang tampak sepenuhnya bersifat moral, yaitu bahwa manusia selalu menjadi mangsa dari kebenaran-kebenaran yang dianutnya. Ini adalah bentuk bunuh diri filosofis.”

Baca Juga  Bunga Budaya dan Buruk Persepsi

Kita semua mengalami invalid manakala tak pernah merenungkan kedudukan kita di dalam sejarah. Kita cenderung larut pada hidup yang mekanis, yang ditentukan oleh serba mewabahnya pandangan-pandangan statis tentang kekinian yang melulu diukur dengan serba kepentingan. Ketika panggung apresiasi publik telah tertutup oleh hegemoni kepentingan kapitalisme dan juga oleh budaya modern pinggiran yang disebut konsumerisme, maka kedaulatan akal pikiran tak lagi mampu mengubah benda-benda alam menjadi benda-benda budaya.
Dalam perspektif sejarah, kelumpuhan budi nurani manusia akibat ketakmapuannya mentransendir diri, telah melucuti seluruh kepribadiannya dan melarut ke dalam kepribadian massa. Corak-corak ini sangat nampak pada semakin tumbuhnya primordialisme baik dalam skala kecil, maupun dalam skala besar dalam rupa nasionalitas.

Ketika manusia modern secara sosiologis mengalami kemandegan, dan ketika manusia tak lagi dilihat sebagai subyek pemikiran, subyek tindakan, dan pusat sejarah, maka sejatinya manusia tengah berada di dalam pusaran “anti-humanisme”. Lalu jika kita melihat bahwa “humanisme” ternyata juga masih memiliki eksistensi yang kuat pada abad ini, dan masih merupakan sebuah pandangan yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas manusia, maka, sesungguhnya kita masih memiliki ruang-ruang diskursus untuk menyemaikan karya-karya, nilai-nilai, atau gagasan-gagasan yang memampukan manusia berdialog, berdebat, dan berkreativitas dengan membebaskan diri dari belenggu nilai-nilai patriarkhis.

Baca Juga  Jero Wacik, “Dijebak” Kasus dalam Ketidaktahuan

Semangat inilah yang mendasari atau yang menjadi sumber inspirasi kami, untuk mengagas sebuah upaya menyemaikan gagasan-gagasan yang belum diungkap untuk kepentingan apapun.
Cita-cita kami tak terlalu muluk. Kami hanya ingin menyumbangkan secercah gagasan dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan media layanan komunikasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Alasan yang lebih masuk akal adalah, bahwa kekayaan ide dan perspektif di sektor ‘natural” yang sebagian besar mungkin telah berantakan atau terkoyak-koyak, mestilah diusung memasuki arus utama wacana di sektor moderen. Dan kami menyediakan diri sebagai struktur perantara [intermediary structure], “mak comblang” atau komunikator untuk: mengenali, menggali, merekonstruksi, menganalisis, menulis, menceritakan, memberitakan, mengartikulasikan, mengkritik, mengapresiasi, mengemas, dan memediakannya.

Kami ingin mengajak Pembaca yang Budiman untuk merajut kolaborasi dengan kami. Kolaborasi ini sangat menjanjikan. Banjirilah sektor moderen dengan fakta dan realitas Indonesia. Di sana ada pesona, merangsang orang beranjak dari Indonesia-norma ke Indonesia-Nyata, MENJADI INDONESIA.

Comments

SHARE
Previous articleKali Jali dan Tradisi Sabanan
Next articlePenyesalan Lalu
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here