Menakar Nalar Perilaku Mengemis Bangsa Sendiri

0
371

Oleh: Kang Awan

 

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk dengan perilaku sosial terlengkap di dunia. Bagaimana tidak? Indonesia memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa yang tersebar di 17.644 pulau dari Sabang sampai Merauke. Mengalahkan Rusia dan China yang mempunyai luas negara terbesar di dunia. Bagi penulis dan mungkin bagi warga Indonesia, hal ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri hidup di antara jutaan manusia yang berbeda beda pola perilaku sosialnya. Indonesia menjadi istimewa di mata dunia, dan banyak menjadi bahan perbincangan lebih dari seribu tahun yang lalu.

Namun siapa sangka, dari semua hal yang menjadikan Indonesia patut berbangga itu, terselip pola kehidupan masyarakatnya yang memalukan dan dianggap oleh mayoritas warganya sebagai perilaku hina. Ya, mengemis. Perilaku sosial masyarakat yang identik dengan kebiasaan bermalas malasan dan tidak mau berusaha, tapi pelakunya ingin hidup enak dan sejahtera. Di luar batasan itu, mengemis tidak dianjurkan, bahkan beberapa kelompok dan sekte agama mengharamkan perilaku tersebut karena dianggap sebagai tindakan berdosa dan menghianati jati diri manusia yang diciptakan Tuhan sebagai Rahmatan Lil’alamin.

Di beberapa daerah di Indonesia yang perekonomiannya masih rendah, dapat dengan mudah kita temukan perilaku sosial tersebut. Hal ini dapat disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya kontrol sosial dari pemerintah, kurangnya lapangan pekerjaan, hingga buruknya tatanan moral lingkungan tersebut. Beberapa waktu lalu, di sebuah kota kecil di pesisir Banten. secara tidak sengaja penulis menjumpai seorang anak muda, dengan perkiraan umur antara 12 – 15 tahun. Kondisi fisik sehat, lengkap dengan 2 kaki, 2 tangan, dan 1 kepala. Namun, melakukan tindakan tidak bermartabat itu, mengemis di depan salah satu mini market, dengan modus membukakan pintu masuk dan keluar bagi pelanggan. Dengan membawa botol air mineral yang dipotong menjadi dua, anak muda tersebut menadahkan, meminta belas kasihan orang yang lalu lalang di depan mini market. Bukan rasa iba atau kasihan, pertama kali melihat kondisi semacam ini, justru rasa jengkel dan emosi berkepanjangan yang timbul.

Muncul sebuah pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan bangsa ini? Hingga perilaku mengemis sebagian masyarakat kita ini, selalu ada turun temurun, mengakar dan beranak pinak. Siapakah yang harus bertanggung jawab? Apa jadinya negara ini seratus, tiga ratus tahun kemudian, jika perilaku hina ini masih tetap ada? Jelas hanya waktu yang akan menjawabnya, seiring semakin musnahnya budaya dan adat istiadat bangsa yang besar ini.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaIdola Baru Itu Telah Datang: Single Lagu “Jerawat” Bayu Cuaca
Berita berikutnyaTIDORE, SOASIO, DAN KISAH SEMBILAN NAGA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here