Chrisye: Suara Sutra Dari Pegangsaan (Memory of Chrisye)

0
303
Chrisye by surabayanews

Oleh: Petrik Matanasi

(Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Berdarah Bagelen- Purworejo. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Yogyakarta. Kini tinggal Bogor dan mengajar. Bukan penulis handal, hanya saja suka menulis hal-hal yang humanis. Apapun yang saya tulis atau ucap, sulit sekali bagi saya untuk tidak historis)

“Semangat bermusik saya tidak akan pernah mati” Kata itu tertulis pada halaman terakhir autobiografinya. Ketika sakit Chrisye masih menyimpan energi bermusiknya, seperti saat dia mulai bermusik di Pegangsaan bersama Nasution bersaudara.

Laurens Rahadi boleh sedih jika putranya, Chrisye, enggan melanjutkan kuliah teknik Arsitektur seperti harapannya. Meski sang Ayah kecewa, pilihan Chrisye itu mengantarkan dirinya sebagai legenda musik Indonesia. Sang ayah akhirnya menghargai sepenuh hati keputusan Chrisye mengabil jalan sebagai musisi.

Christian Rahadi lebih memilih bermusik bersama anak-anak tetangganya, Nasution Bersaudara—Odink, Keenan, Gauri dan Debby yang dikenal sebagai pentolan Gang Pegangsaan. Pergaulan Chrisye dengan tetangganya itu, memperkenalkan Chrisye dengan instrument bass.

Awalnya, Chrisye yang hanya nongkrong dan sesekali ngejam bareng, tidak masuk dalam formasi band. Suatu hari, Gauri mendatangi Chrisye dan bilang, “Chrisye, pemain bass kami sakit. Lu bisa gantikan? Soalnya kita dapat kerjaan banyak.” Chrisye hanya tercengang. “Lo kan sering nonton kita latihan. Pasti lo bisa ngikutin permainan kita” lanjut Gauri. Chrisye langsung mengiyakan. Sore itu juga mereka latihan. Hari-hari setelahnya, mereka manggung di banyak tempat. Nama band Chrisye adalah Sabda Nada, sebelum akhirnya bernama Gipsy—dimana nama terakhir membawa Chrisye manggung di sebuah restoran Ramayana milik Pertamina di New York. Chrisye juga sempat satu band bersama Broery Marantika dalam The Pro’s dimana Chrisye masih memetik bas. Masa-masa ini, bagi Chrisye adalah masa belajar. Kala itu, awal dekade 1970an, Chrisye belum dikenal sebagai vokalis bersuara khas.

Dari New York, Chrisye pulang kembali ke Indonesia. Bertemulah Chrisye dengan Guruh yang berniat membuat musik idealis yang eksperimental. Bersama Guruh ini, Chrisye mulai bernyanyi solo. Sebelumnya Chrisye hanya menjadi penyanyi pendukung dalam band. Kerjasama Chrisye, Keenan, Odink, Abadi Soesman, Rony Harahap dengan Guruh melahirkan Album Guruh Gipsy yang dicetak 5.000 keping oleh Pramaqua Record.

Baca Juga  Pasar Kenteng: Jejak Perekonomian Pedesaan dari Masa Kolonial

“Ada kalanya kita berkarya untuk uang, ada saatnya karya dibuat untuk memberi makanan bagi Jiwa”. Inilah mengapa Chrisye merasa perlu terlibat dalam proyek eksperimental. Meski uang tidak mengalir deras, proyek ekspreimental sangat menyegarkan rohani bagi seorang Chrisye yang religius. Chrisye terasa menikmati proyeknya bersama Guruh itu. Dimana dia bisa lebih ekspresif dalam bermusik.

Suara Chrisye mulai dikenal masyarakat luas lewat lagu Lilin-lilin Kecil ciptaan James F. Sundah lagu itu adalah lagu yang diikutkan dalam Lomba Cipta lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Jakarta. Menurut Sys N.S, yang kala itu jadi penyiar radio Prambors, lagu itu hanya cocok dinyanyikan Chrisye. Meski lagu itu tidak menang dalam lomba, namun lagu itu paling sering diputar di radio.

Medio 1977, Eross Djarot mengajak Chrisye untuk terlibat dalam membuat Soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” yang disutradarai Teguh Karya. Dengan dibantu beberapa musisi kenamaan seperti Keenan Nasution, Debby Nasution, Yocky Suryoprayogo, Broery Marantika dan penyanyi bersuara tinggi bernama Barlian Hutauruk proyek ini rampung dalam 3 bulan. “Kami mendadak seperti kerasukan spirit yang sama besar”, kata Chrisye. Kesuksesan film “Badai Pasti Berlalu” diikuti dengan sukses album soundtrack-nya. Beberapa lagu seperti Merapih Alam, Matahari, Cintaku, Angin Malam, Pelangi, Semusim dan pastinya Badai Pasti Berlalu masih didengar hingga sekarang.

Lagu-lagu itu bahkan direkam ulang oleh penyanyi muda sekarang seperti Astrid, Ari Lasso dan lainnya. Dikabarkan juga bahwa album Badai Pasti Berlalu dianggap sebagian kalangan sebagai album terbaik dalam blantika musik Indonesia.

Setelah album Badai Pasti Berlalu, Chrisye harus bertaruh hidup dengan album solo yang penjualannya kadang mengecewakan. Selama karir bermusiknya, Chrisye kerap bekerjasama dengan musisi ternama dalam karirnya.
Setelah album Badai Pasti Berlalu, Chrisye banyak mengarap lagu-lagu komersil. Seperti dalam album Sendiri (1984) yang penjualan sangat sukses begi Chrisyenya. Album ini mendapat penghargaan BASF Award. Chrisye bahkan mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Jerman. Chrisye tidak mengambilnya dirinya lebih senang berkutat dengan musik di studio daripada jalan-jalan ke luar negeri.

Baca Juga  DANI HAMDANI : DARI LEBAK UNTUK INDONESIA

Medio dekade 1980-an, lagu-lagu Chrisye banyak yang terkesan ceria. Di cover kaset, Chrisye tampil mesra dengan model cantik. Dimana Chrisye berlagak dansa dengan kostum eyecatching. Terbayang dalam pikiran Chrisye wajah-wajah Gank Pegangsaan tetangganya yang akan menertawakannya.

Suatu kali, Chrisye dituntut untuk berdansa. Dimana Guruh sang koreografer akan mengajar Chrisye berdansa. Lagu ceria yang membuat orang berdansa itu menuntut Chrisye berdansa. Ini bukan hal mudah bagi Chrisye, karena bukan gayanya. Orang banyak mengenal Chrisye dengan gaya menyanyi kaku diatas panggung. Chrisye kerap mencoba permintaan aneh itu, meski tidak seperti harapan orang melihat Chrisye untuk tidak kaku diatas panggung. Hanya suara saja yang menjadi daya magnet bagi Chrisye diatas panggung, selain itu tidak ada..

Jauh sebelum kepergiannya, Chrisye sempat berkolaborasi dengan beberapa musisi muda Seperti Ahmad Dhani, Project Pop, Peterpan, Ricky FM, Naif dan lainnya dalam album Senyawa. Beberapa musisi muda merasa nyaman ketika bekerja sama dengan Chrisye, meski awalnya canggung dengan gaya Chrisye yang pendiam itu.

Di blantika musik Indonesia Chrisye memiliki karakter suara yang khas. “Suaranya seperti suara sutra. Suara Surga” kata Titik Puspa. Suara Chrisye memberi kesejukan bagi pendengarnya. Si anak Pegangsaan ini memberi kedamaian dengan lagu-lagunya. Chrisye harus kembali pada yang kuasa 30 Maret 2007 silam. Yang terekam tak pernah mati. Suara Chrisye akan selalu terdengar di hati penikmat karyanya.

Comments

SHARE
Previous articleBlusukan di Kerkhof Purworejo
Next articleAngsa Emas dan Tugu Belanda (Purworejo)
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here