THE LAST HUNTERS OF FRITU MAN

0
175

Oleh: Paox Iben

REVIENSMEDIA.COM, HALMAHERA – Beberapa hari ini saya mengunjungi komunitas adat di daerah Fritu, Halmahera Tengah. Karena si Bejo masih sakit saya pun meminjam motor kawan dan sewa motor tukang ojek di Sofifi. Akses jalan dari Sofifi ke Weda, ibu kota kabupaten sepanjang 80 km sudah cukup bagus. Begitu memasuki Kecamatan Weda Utara hingga ke kampung Fritu jalanan masih berupa batu disusun, dan tanah becek melintasi hutan. Sehingga perjalan sepanjang 40 km tersebut harus kami tempuh sekitar 3,5 jam. Anggrek liar tumbuh sepanjang jalan, sesekali burung kakak tua, elang dan ular melintas di jalan.

Menurut cerita, orang-orang Fritu merupakan suku pendatang dari Tobelo Boeng yang konon berprofesi sebagai pembunuh bayaran, perompak atau bajak laut. Suatu ketika mereka dikejar-kejar tentara Belanda sehingga lari, sembunyi, dan diterima oleh suku Sawai yang tinggal di bantaran sungai Sagea. Mereka melanjutkan hidup sebagai pemburu binatang di hutan. Lama-lama komunitas ini semakin berkembang. Orang-orang Sagea yang umumnya sudah menganut agama Islam agak terganggu oleh pola hidup mereka yang suka makan babi. Karena itu mereka diberi area khusus, semacam tanah perdikan di sebelah timur Sagea.

Baca Juga  Naik Dango : Syukuran Ala Masyarakat Dayak

Selama lebih dari 4 generasi mereka melanjutkan hidup sebagai pemburu dan mengembangkan ilmu khusus untuk itu. Dalam tradisi masyarakat Fritu, meskipun mereka kini telah menganut ajaran Kristen, banyak sekali Difongo/ritus adat yang terkait dengan dunia perburuan. Seperti dituturkan oleh Arkhipus Kore (45) yang didaulat menjadi kepala Klan Kore oleh para Tetua, untuk berburu banyak sekali ritual adat yang harus dilaksanakan. Dari tatacara merawat dan menggunakan senjata (tombak, parang, pisau dll) hingga tatacara terkait dengan binatang buruan dst. Begitu juga ketika mereka akan memasuki hutan, ada wilayah-wilayah tertentu yang tidak boleh dilewati. Dibeberapa tempat keramat juga harus membaca mantera-mantera khusus, yang intinya adalah utk memohon izin, juga demi menjaga keselarasan alam tempat mereka bergantung hidup.

Selain dikenal sebagai desa pembuat senjata, khususnya alat berburu terbaik di Halmahera, komunitas ini juga menaruh hormat yang sangat dalam terhadap anjing. Mereka menyebutnya O’ Kaho. Mereka memiliki ramuan dan mantera-mantera khusus agar anjing mereka jadi pemberani, mampu berlari kencang dan lebih peka melacak binatang buruan.

Baca Juga  Lacak Adalah Identitas Bujang Jambi

image

Banyak sekali kepercayaan/ perlakuan khusus terhadap anjing ini, bahkan boleh dibilang anjing adalah binatang suci bagi mereka. “Anjing itu setia. Dorang rela nyawa ilang untuk torang, deng dorang punya kepekaan khusus tara sama deng makhluk laeng.”

Kini keberadaan mereka terancam oleh keberadaan perusahaan-perusahaan tambang-khususnya perusahaan nikel dari Prancis yang seenaknya membabat hutan dan menghancurkan alam. Mereka digusur dari habitat alamiahnya. “Dorang paksa pa torang malaut. Sedang Torang tara tau pegang nilon deng gumala, ” Kata Arkhipus kore.

Hal itu juga dibenarkan para tetua. Selain berburu rusa, babi hutan dan ular besar, mereka juga biasa menokok sagu (bahalo), memetik Pala, Damar, memanen buah langsa hutan dan hasil hutan lainnya. Kini ruang hidup mereka semakin terancam. Di luar persoalan terkait dengan kebutuhan hidup, harkat, martabat dan pandangan hidup batin mereka juga terancam berakhir. Halmahera yang indah, akan segara karam oleh tambang dan sawit.

Comments

SHARE
Previous articleAngsa Emas dan Tugu Belanda (Purworejo)
Next articleMAU BERSAMA MESKI TAK SAMA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here