PUNAN DULAU

0
317

Oleh: Paox Iben

REVIENSMEDIA.COM, MAGONG – Cerita tentang masyarakat adat yang tersingkir atau sengaja disingkirkan tentu sudah bukan rahasia umum lagi. Apalagi di Kalimantan, di daratan terbesar di Republik ini yang memiliki sumber daya alam melimpah ruah. Sejak Orde baru dahulu banyak sekali masyarakat adat, terutama komunitas Dayak yang dipaksa meninggalkan wilayah adat mereka. Alasannya, konon agar kualitas hidup mereka bisa diperbaiki. Istilah kerennya di Respensasi.

Seperti komunitas Punan Dulau yang tinggal disepanjang hulu sungai Magong Kalimantan Utara. Sebelum direspen, umumnya orang-orang Punan Dulau hidup dari berburu dan membuat ladang berpindah. Biasanya mereka tinggal dirumah panjang atau Lamin yang terdiri dari beberapa keluarga. Sekitar tahun 1971-1972 mereka dipaksa pindah oleh Aparat negara ke daerah bawah dan dibuatkan rumah hunian seperti warga transmigran dimana setiap KK menempati satu petak rumah kecil.

PUNAN DULAU

“Susah Bang, tiba-tiba kami harus merubah pola hidup. Sudah begitu menempati tanah orang yg bukan milik suku kami. Rasanya sangat tersiksa dan kehilangan harga diri,” kata Aki Iwang (60) yang sambil mengenang masa lalu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pak Bungei (60),”Di Hulu kami punya segalanya. Disini cuma rumah sepetak. Kebun punya orang Sakatak. Sayur saja kami harus beli. Sedang kami tidak punya uang. Tidak ada pekerjaan. Tidak bisa berkebun. Status kami membingungkan. Karena itu kami menuntut hutan kami kembali,” tegasnya.

Baca Juga  Sihir Air (Gadis) Sungai Kapuas

Sejak tahun 2009-2011, satu dua dari warga Punan Dulau mulai kembali ke wilayah asal untuk berladang. Selain Leppo atau rumah kebun, mereka juga membuat Lamin. Tetapi hutan mereka sudah terlanjur habis dibabat oleh perusahaan-perusahaan logging, isi bumi mereka diacak-acak & dikeruk oleh perusahaan tambang, dan kini sebagian besarnya sudah ditanami sawit entah oleh perusahaan siapa.

Demikianlah, beberapa hari ini saya mencoba menelusuri perkampungan awal Dayak Punan Dulau. Lokasinya jauh dipedalaman. Dari Tarakan menuju Sakatak menggunakan speedboat 3 jam disambung dengan Katinting (perahu) ke arah hulu sungai Megong sekitar 7 jam pada hari berikutnya. Jika air surut jarak tempuhnya bisa lebih lama lagi. Jalurnya cukup ekstrim juga.
Banyak sekali jeram-jeram bebatuan yang sangat deras, beberapa kali kami harus turun dari Katinting dan menyusuri bebatuan. Dibagian air yang tenang, bahaya lain mengintai. Sebab disitulah terdapat buaya-buaya yang sewaktu-waktu bisa saja menyerang jika tidur mereka terganggu.

PUNAN DULAU

Sesampai di Dulau Hulu saya memang tidak lagi menemukan pohon-pohon raksasa seperti yang diceritakan para warga di daerah respen. Beruntung, sementara kami bercerita dengan para tetua, beberapa warga yang pergi berburu masih mendapatkan tangkapan seekor landak, kancil dan beberapa ikan sejenis Arwana untuk santap sahur. Cukup cepat juga, hanya sekitar 3-4 jam mereka sudah berhasil mendapat buruan. Pesta besarlah kami.

Baca Juga  Apakah Toleransi Itu?

Ya, suku Punan (yang artinya kira2 Ibu/Ruh Tanah), sesuai namanya, mereka hidup di hutan dan gunung, bukan diperairan. Bahkan awalnya mereka membangun rumah di atas tebing untuk menghindari suku-suku penjarah atau pengayau. umumnya senjata utama mereka adalah sumpit. Baru kira-kira 6 generasi dari sekarang atau sekitar tahun 1830an mereka turun menempati wilayah sepanjang sungai dan terbagi dalam beberapa komunitas hingga ke Serawak dan Brunei. Sebagian besar dari komunitas-komunitas tersebut akhirnya berbaur, melakukan kawin campur atau bergabung dengan suku lain dan tidak jelas lagi identitasnya.

Setelah respensasi th 1970an itu, komunitas Dayak Punan memang benar-benar diambang punah. Kini hanya sedikit yang tersisa. Dan mereka terus berjuang menuntut hutan mereka dikembalikan. Meskipun tak seperti dulu lagi setidaknya mereka masih memiliki harapan, untuk kembali membangun kehidupan tradisi warisan leluhur, serta memperbaiki hutan mereka yang telah dijarah & dirusak atas nama pembangunan.

Paox Iben – Budayawan, Raider & Pecinta Kopi. Buku-bukunya sarat dengan petualangan dan keindahan alam dan semesta harmoni seperti Tambora 1815, Gadis Gurun, Medulla Sinculassis. Tidak hanya novel, riset community, solusi dan problem suku-suku se Indonesia, pemberdayaan ekonomi dan travelling dengan motor besarnya ia lakukan. Oman, Bahrain, Qatar atau negeri se Jazirah Arab sudah disambanginya dan sekarang perjalanan se Nusantara dengan mogenya ini.

Comments

SHARE
Previous articleSebait Doa Untuk Bunga
Next articleDIPANGKONG CARE BIKINNYE
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here