KELAHIRAN KEMBALI ZAMAN BAHARI

0
208
Foto: Kaskus

Oleh: Fanada Sholihah

(Mahasiswi Jurusan Sejarah-Universitas Diponegoro, Suka menulis essay sejarah, puisi dan telah banyak memenangkan lomba penulisan tingkat Universitas)

Tiba-tiba sejenak aku berjumpa pada sebuah negeri yang haus, setelah dilepaskannya ‘Zaman Bahari’ itu. Sebuah zaman yang telah patah atau dipatahkan oleh kekuatan kolonial yang dilengkapi kepentingan ekonomi dan perdagangan. Dengan segera penduduk suatu negeri itu lumpuh dan porak-poranda kejayaannya, tidak ada lagi armada laut yang merangkai beribu pulau. Sebuah rangkaian yang diistilahkan sebagai Interregional Shipping and Trade sejak kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai, Gowa, Bone, Makassar, Kalimantan Timur, Ternate, Tidore, dan kemudian melesat ke pusat-pusat kekuasaan pesisir Rembang dan Jepara.

Tidak ada lagi arsitek-arsitek Jawa yang tersohor di Asia Tenggara, atau orang-orang Inggris, Denmark dan Portugis yang menitipkan uang dan modalnya kepada nakhoda-nakhoda kapal Makassar dan Bugis untuk membeli cengkeh dan pala ke Maluku dengan sistem bagi hasil. Semua cerita kegemilangan itu adalah titipan dari sejarah, pada abad VII sesaat setelah kapal-kapal Sriwijaya membedah lautan sampai ke Madagaskar dan Afrika Selatan. Kemudian menjadi usai ketika terjadi pemaksaan legalisasi pemonopolian pembuatan kapal (ship building) disepanjang pantai utara Jawa (kecuali perahu ukuran kecil diperbolehkan diproduksi oleh orang-orang pribumi), dan kebijakan monopoli pembuatan perahu itu ditekan kembali dengan pembatasan ruang pelayaran nelayan-nelayan pribumi sebatas 3 mil dari pantai pada tahun 1939 melalui sebuah ordinansi ‘Territoriale Ze een Maritieme Ordinantie’. “Melumpuhkan bangsa Indonesia adalah melumpuhkan budaya kebahariannya”, demikian kata Sri Edi Swasono dalam artikel “Kelengahan Ideologis: Kelengahan Kultural”.

Baca Juga  MENGENANG SYAHRIR

Oleh sebab itu, kita tidak menjumpai kejayaan maritim masa kini di berita-berita Nasional. Digantikan dengan Breaking News pelanggaran batas wilayah oleh nelayan Tingkok di perairan Natuna, atau jika tidak tentang Anak Buah Kapal (ABK) nelayan tradisional Indonesia yang disandera perompak bermarkas di Filipina.

Sejarah menjadi demikian mahir mendemostrasikan ulang jatidiri bangsa yang coba dikembalikan oleh ‘Kabinet Kerja’ sejak satu setengah tahun lalu, 2014. Jargon yang disimpulkan dalam sebuah istilah “Poros Maritim Dunia” menjadi wacana baru untuk melahirkan kembali bangsa Indonesia dengan ciri air di samping tanahnya. Tapi betapa pun, rekonstruksi terhadap upaya membangun kembali negara maritim akan selalu sambung-menyabung pada elemen budaya, oleh apa yang disebut oleh Taliziduhu Ndraha sebagai Kepemimpinan Bahari. Jenis kepemimpinan yang diilhami dari watak hukum dan kekuatan yang objektif dari laut. Di tengah laut, sebuah kapal harus benar-benar mandiri. Lain halnya dengan orang darat yang masih bisa menghindar atau menyembunyikan diri, menunda atau mengulur. Orang laut tidak dapat bertingkah demikian, mereka harus menghadapi dan menakhlukannya sekuat tenaga, hidup atau mati, timbul atau pun tenggelam. Orang laut harus pandai membaca tanda-tanda dan arif membaca bisikan-bisikan di sela-sela deru badai.

Baca Juga  SURAT BUDAYA DARI DELTA INDONESIA FOUNDATION

Hari ini, membangun kejayaan maritim tidak bermakna tanpa memperhatikan sisi sosio-kultural. Membangun kembali kedekatan dengan laut, serta mempelajari dan menerapkan pesan yang disampaikan laut. Sebagaimana kedekatan nelayan yang mengikuti suara ikan berenang.

Pada suatu saat yang tidak terlalu panjang dan berlarut, kita akan mampu mengenali kembali, mengusahakan dan merangkul sepenuhnya, dan mendayagunakan sumberdaya kelautan sebuah negeri yang bernama Indonesia. Bukan dari tangan siapa pun asing, tapi tangan nelayan-nelayan Indonesia.

Photo: Kaskus.com

Comments

SHARE
Previous articlePurworejo Menangis
Next articleWonderful Indonesia Hadir di Ajang Euro 2016 Paris
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here