Meriam “Karbit” Sultan Abdurrachman

2
286

REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – Yap kali ini kita akan coba sedikit mengintip moment khas perayaan Hari Raya Idul Fitri di Kota Pontianak, salah satu yang khas dari perayaan di Kota Pontianak ini adalah Meriam Karbit yang terbuat dari Kayu Belian. Menurut Dede Alpiansyah (23) pemuda asli Pontianak “Kayunya tidak harus berjenis Belian tapi yang penting balok kayunya gede sesuai dengan ukuran meriam karbit pada umumnya”.

Saat kita berkunjung ke desa ditepian Sungai Kapuas seperti di Desa Serasan Kecamatan Pontianak Timur, kita akan disajikan pemandangan yang elok. Meriam Karbit ini bukan sekedar Meriam Karbit yang terbuat dari Pring Petung seperti di daerah Jawa yang pada umumnya berdiameter 10-20 cm, tapi Meriam Karbit ini berdiameter 50-60 cm dan berjajar 3 sampai 5 meriam dalam satu panggung yang dibuat diatas air ditepian sungai Kapuas, yang kemudian dihias warna warni agar terlihat menarik. Keren.

meriam pontianak 3

Cara pembuatannyapun sangat unik, satu batang Kayu Belian dibelah menjadi 2 bagian sama rata kemudian tengahnya dibuat cekungan seperti halnya meriam pada umumnya guna jalur peluncuran pelor saat ditembakkan, nah setelah dibuat cekungan satu sama lain, kedua belahan tersebut disatukan kembali dan dirapatkan menggunakan tali rotan yang diikat kuat guna tidak ada cela angin yang keluar. Untuk memasukkan karbit, meriam tersebut dibuat lubang diujungnya dan meriam siap diuji coba.

Baca Juga  The Dead Class- Tadeusz Kantor Instalasi Pertunjukan Kolaborasi Hanafi & Lab Teater DKJ Jakarta

H min 3 dan H plus 3 lebaran, kemeriahan suara dentuman meriam ini dapat kita rasakan. Pengunjung dari berbagai Kota tumpah ruah di tepian Sungai Kapuas untuk menyaksikan festival meriam karbit ini. Tapi apakah kita pernah bertanya bagaimana kenikmatan yang kita terima oleh panca indera kita bisa terjadi, sebenarnya ada sisi lain dibalik kemeriahan festival meriam karbit ini. Saat kita berkunjung di Warung Serasan tepatnya di Desa Serasan, saat itu saya tepatnya tanggal 25 Juni 2016 pukul 7 malam melihat masyarakat tepian sungai Kapuas sedang membuat meriam tak hanya satu atau dua orang saat membuatnya tapi hampir satu Desa tumpah ruah bergotong royong untuk membuatnya, mulai dari membuat meriamnya, panggungnya, sampai cara menarik meriam yang awalnya direndam kedalam air sungai keatas panggung-panggung yang telah dibuat. Cara menariknyapun sangat sulit dan rawan kecelakaan jika para warga tidak berhati-hati, pasalnya saat penarikan dilakukan kayu penyangga dan tuasnya patah karena tidak kuat menahan bobot meriam yang bobotnya mencapai ribuan kilogram. Dan ada beberapa warga saat menarik meriam terpeleset hingga terpelanting masuk kedalam air sungai. Yang pasti beratnya meriam ini tidak main-main.

Gotong Royong, itulah salah satu kearifan lokal yang bisa kita saksikan dari pembuatan, penarikan hingga persiapan peluncuran meriam karbit ini.

Baca Juga  Stasiun Maguwo Lama, Satu-satunya Stasiun di Yogyakarta yang Terbuat dari Kayu

meriam pontianak 2

Nah tapi sebenarnya apa yang melatar belakangi terciptanya festival meriam karbit ini, menurut Dede pemuda asli Pontianak, meriam Karbit ini untuk mengusir hantu Kuntilanak di pulau dan tidak lepas dari sejarah berdirinya Kota Pontianak.

Hal inipun diperkuat oleh keterangan Agung Trihatmodjo, meriam karbit ini tak lepas dari pendirian Kota Pontianak tahun 1771 saat itu Sultan Abdurrachman menembakkan meriam dari kapalnya untuk mengusir hantu Kuntilanak tepat dimana jatuhnya pelor meriam itu jadilah sebuah istana yang akrab disebut Istana Kadriyah.

“Meriam karbit dulunya sebagai sebuah alat yang digunakan masyarakat pontianak untuk mengetahui waktu sahur dan berbuka puasa di bulan ramadhan. Sblm adanya tekhnologi jam digital”. Tambah Agung pemuda yang sukses menyutradarai Film Pontien Untold Story .

Jadi sedikit banyak kita sudah mengetahui apa dan bagaimana Meriam Karbit ini dihadirkan setiap tahunnya, tak ada larangan dari Pemkot Pontianak, karena ini adalah Budaya Masyarakat yang wajib kita lestarikan.

Rugi deh kalau kalian singgah di Kota Pontianak saat bulan Ramadhan, terutama tepat saat hari Raya Idul Fitri tidak menyaksikan kemeriahan festival meriam karbit ini. Rugi banget pokoknya.

 

Foto oleh: A. Mustaqim

Comments

SHARE
Previous articleFoto: Surga Bawah Laut Buton
Next articleAH POONG SENSASI THAILAND DI PINGGIRAN CIKEAS
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here