Mitos atau Fakta : “Kémponan” dalam masyarakat Melayu

0
306

Oleh: Budi Cesar

REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – “Jamahlah, Lok!!” begitu kira-kira orang Melayu khususnya di Kota Pontianak berucap kala kue-kue yang mereka tawarkan ke kita tidak segera kita lahap atau tidak kita makan sama sekali, mengapa demikian?

Pertanyaan itulah yang saya lontarkan kepada mereka, karena bagaimanapun saya sudah terlalu kenyang untuk mencoba mencicipi kue yang mereka hidangkan, begitulah alasan saya untuk menolak sajian mereka.

“Ntar Kemponan Kau, Bang!!” merupakan untaian kata yang keluar, untuk menjawab pertanyaanku. Lalu pertanyaan selanjutnyapun terlontar kepada mereka. Karena ada kata yang asing bagi kaum rantau seperti saya.

Benar, kata Kemponan inilah yang menjadi pertanyaanku selanjutnya. Aku bertanya kepada beberapa orang kawan tentang Kemponan ini, tapi tak ada satupun yang menjawab berbeda. Malahan mereka memberikan sebuah cerita-cerita fakta yang sering terjadi pada keluarganya tentang Kemponan.

Sebelum bercerita tentang cerita Kemponan, saya akan sedikit menjelaskan apa arti Kemponan, menurut hasil wawancara singkat kepada beberapa rekan atau kawan seperjuangan dan beberapa orang Melayu khususnya Kota Pontianak, Kemponan adalah akibat yang diterima bagi mereka yang menolak makanan yang ditawarkan oleh orang lain.

Akibat itu bisa bermacam-macam misalkan seperti kecelakan motor, terjatuh atau beberapa masalah lain dalam hidupnya yang efeknya langsung terasa ketika kita menolak makanan yang ditawarkan, bisa juga ketika saat perjalanan pulang kerumah dari tempat orang yang menawarkan kue atau makanan yang kita tolak lalu mengalami kecelakaan.

Nah, saatnya saya akan bercerita mengenai beberapa pengalaman dari kawan saya, saat mereka menolak tawaran makan dari orang lain. Wiwid adalah sapaan akrab dari gadis kelahiran Pontianak yang bernama Narindra Eka, sekarang berusia 21 tahun, dia menceritakan Ayahandanya yang berprofesi sebagai Polisi, ketika itu sang Ayah berkunjung kerumah kawan di daerah Siantan, Kota Pontianak.

Ayahanda Narindra Eka yang asli dari Jawa Timur ini ditawari oleh kawannya kue-kue legit untuk dicicipi, tapi beliau menolaknya, waktu dalam perjalanan pulang beliau mengalami kecelakaan motor dan orang-orang menyebutnya Kemponan karena Ayah Narindra Eka tidak mencicipi sedikit makanan yang ditawarkan oleh kawan beliau.

“Setidaknya makanan yang ditawarkan oleh kawan, dijamah oleh Ayah Wid” tutur gadis berperawakan tinggi dan berkerudung ini.  Tapi yang jadi pertanyaan adalah Ayahanda Narindra Eka asli orang Jawa, mengapa Kemponan ini bisa terjadi?

Sama halnya dengan Ibu Minik, wanita karir yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri ini menceritakan soal Kemponan, “Kemponan itu Kepercayaan masyarakat Melayu pada umumnya, setidaknya kita pegang sedikit saja makanan yang ditawarkan oleh kawan.”

Ibu Minik menceritakan tentang Kawannya, orang Kubu Kabupaten Kubu Raya, saat menolak makanan yang ditawarkan, alhasil seperti halnya cerita Ayahanda Narindra Eka, Kawan Ibu Minik mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang kerumah.

Ada satu cerita lucu dari Ibu Neni, wanita Japon (Jawa-Pontianak), yang tak lain adalah pemilik tempat Kos yang saya tinngali sekarang, Suaminya pernah menerima panggilan pekerjaan untuk servis jaringan telepon yang error, ketika itu Suaminya ditawari Kopi oleh orang tersebut, karena Pak Bambang, Suami Ibu Neni, tidak suka Kopi dan sangat menghindarinya, karena kepercayaan terhadap Kemponan ini begitu kuat, rasa takutnya muncul untuk memendam rasa ketidak sukaannya terhadap Kopi.

Baca Juga  K E R O K A N

Sampai dirumah bukannya terhindar dari Kemponan, tapi Pak Bambang mengalami keringat dingin dan Maag Kronis, sebab sebenarnya Pak Bambang dilarang keras oleh Dokter untuk tidak lagi mengonsumsi Kopi karena ada sedikit keanehan pada lambungnya ketika berhadapan dengan segelas Kopi hangat.

Cerita-cerita inilah yang kemudian menimbulkan kepercayaan Kemponan di Masyarakat Melayu khsususnya Kota Pontianak. Lalu apakah benar Kemponan itu ada? Bagaimana dengan Ayahanda Narindra Eka yang bukan Asli orang Melayu dan Bagaimana dengan Pak Bambang yang ternyata beliau adalah Keturunan Jawa-Dayak. Hal ini menarik untuk diungkap, Apakah Kemponan ini hanya sekedar Mitos atau Fakta?

Sebenarnya dua orang kawan saya ini menolak bahwa Kemponan itu Fakta, pasalnya Ibu Minik sendiri sebagai orang Asli Melayu menganggap itu hanyalah sebuah Mitos, atau kepercayaan jaman dulu “itu hanya bermain-main di pikiran saja, karena selalu teringat maka hal yang dipikirkan itu kemudian terjadi” imbuh wanita yang sangat kuat logat melayunya ini.

Lain halnya dengan Narindra Eka walau sedikit ragu dengan Kemponan, dampak besar kepercayaan terhadap Kemponan muncul saat hal tersebut menimpa pada Ayahandanya, sedikit ragu tapi Narindra Eka mempercayai kalo Kemponan itu Fakta.

Kali ini kita coba sedikit melihat dari kacamata Agama Islam, karena masyarakat Melayu kebanyakan memeluk Agama Islam dan sayapun Insya Allah juga memeluk Agama Rahmatallil’alamin ini.  Dikutip dari Hadits Riwayat Ahmad bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa mendapatkan kebaikan dari saudaranya yang bukan karena mengharap-harap dan meminta-minta , maka hendaklah dia menerimanya dan tidak menolaknya, karena itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.”

Begitu juga dengan Anas Bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah bersabda :

“Seandainya aku diberi hidangan sepotong kaki (kambing atau sebagainya), tentu aku akan menerimanya. Dan seandainya aku diundang kejamuan yang menghidangkannya, tentu aku akan mengabulkan undangan tersebut.”

Rujukan Hadist : www.jadipintar.com

Jadi sebenarnya ada benang lurus antar Hadist Riwayat dengan Kemponan, pada dasarnya Islam mengajarkan kita tidak boleh menolak pemberian oleh seseorang karena pemberiaan itu merupakan Rejeki yang diberikan oleh Allah kepada HambaNya, asalkan tetap pada kaidah-kaidah Agama yang benar, nggak mungkin juga kita menerima pemberian Ciyu oleh orang karena menganggap itu sebagai rejeki, lalu kita menerima ajakan mendem, itu salah besar karena Ciyu adalah salah satu dari Minuman Keras yang diharamkan oleh Islam, begitu juga tawaran menyantap berbagai olahan Babi dan Wedus Balap.

Rasulullah pun bersabda ada Tiga pemberian yang tidak boleh ditolak, yaitu Bantal, Minyak Wangi dan Susu, terutama minyak wangi Rasullah SAW tidak pernah menolak hadiah berupa wewangian. Nah, setelah kita meninjau beberapa Hadist yang diriwayatkan kita bisa sedikit menarik kesimpulan bahwa tawaran yang diberikan oleh seseorang alangkah baiknya kita menerimanya dan sebisa mungkin tidak menolaknya karena ini adalah Sunnah Rasulullah.

Baca Juga  Night At The Museum di Ultah KHI !

Kemponan disini mengajarkan seseorang agar menerima pemberian yang diberikan oleh seseorang karena pemberian ini merupakan rejeki yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambaNya. Setidaknya kalimat “Jamahlah Lok!!” merupakan peringatan bahwa kita tidak boleh menolak rejeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Namun bagaimana dengan kecelakan yang terjadi pada seseorang karena menolak pemberian dari orang lain. Apakah ini benar sebuah Fakta Kemponan atau memang sebuah Takdir ataukah ini sebuah perwujudan dari pikiran kita?

Coba kita tilik mengenai Self-Fullfing Prophecy, tentunya pembaca pernah mendengar istilah tersebut, Ya benar, Ramalan Swawujud kalau biasa kita artikan. Jika kita mengaitkan Kemponan dengan Ramalan Swawujud kita akan memahami bagaimana kekuatan pikiran akan bekerja. Contohnya kita ambil saja cerita dari kawan kita Narindra Eka  dan Ibu Minik.

Kebetulan kita sedang ada tamu dirumah, dia adalah seorang kawan kerja, berhubung kita sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri, kita menawarkan hidangan berupa Lontong Opor ala Libanon dengan bawang goreng yang ditabur diatasnya, pastinya enak. Akan tetapi, kawan kita menolak hidangan yang lezat tersebut alasannya karena sudah kenyang.

Oke, dari sini kita bisa memberikan opsi kepada diri kita untuk kawan kita, pertama membujuk agar mau makan dan berucap “Kalau Kau tak mau makan, entar Kemponan!!”  dengan harap dia mau makan. Kedua, kita biarkan saja dan menerima alasan tersebut.

Nah, kalimat “Kalau Kau tak mau makan, entar Kemponan!!” ini adalah sebuah Ramalan Swawujud, dimana kita secara langsung meramalkan kawan kita akan mengalami kecelakaan atau celaka jika tidak menyantap hidangan yang kita tawarkan. Kalimat ini yang sangat fatal jika diucapkan, dalam Islam mengajarkan kalau ucapan adalah bagian dari Doa.

Kawan kita pulang kerumah dengan perasaan dan pikiran yang cemas karena tidak mencicip hidangan yang ditawarkan oleh kita, semakin Kemponan dipikirkan dalam pikiran atau alam bawah sadar secara terus menurus, maka Kemponan tersebut akan terjadi.

Ini merupakan sebuah Kebiasaan yang kemudian mengkristal menjadi sebuah Budaya di Masyarakat Melayu khususnya Kota Pontianak, Jadi sering dijumpai setiap menawarkan sebuah hidangan masyarakat Melayu berucap “Jamahlah, Lok!!” sentuh sedikit saja walau seujung jari, karena mereka yakin kalimat itu bisa menghindarkan kita pada Kemponan.

Ada juga sedikit bocoran dari kawan Melayu saya bernama Sabar (21) kalau Kemponan juga berkaitan dengan peliharaan a.k.a makhluk gaib yang dipelihara oleh seseorang yang menawari kita hidangan dan jika menolaknya pasti celaka karena gangguan peliharaan tersebut, seperti pandangan tiba-tiba kabur saat mengendarai kendaraan di jalan sehingga kita terjatuh dan sebagainya.

Mitos atau Fakta?? hanya pembacalah yang bisa menyimpulkan. Pontianak Punye Cerite.

Source Foto : lessurii

Comments

SHARE
Previous articleSI PERAWAN DARI TIMUR PURWOREJO
Next articleWanita Karir? Nyesek
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here