Sejarah di Era Millenia & Hari Jadi Kotaku

3
270

Oleh: Ilhan Erda Sidiq

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO Sejarah di Era Millenia & Hari Jadi Kotaku – Sejarah masih menjadi satu bagian yang terpinggirkan. Tak terkecuali di satu sistem kurikulum, para pengajar dan berdampak ke anak didik. Bahkan kredibilitas dari para pamong dan sejahrawan-sejahrawan di Republik ini yang tentu saja boleh untuk dikritisi, dipelajari dan dibedah. Dimana hal ini bukankah kita artinya mencintai dan memahami secara mendasar arti dari sejarah itu sendiri?

Baik secara bertutur, pelajaran PSPB dikala itu dan pengalaman langsung atau minat akan dinamika dari perkembangan Ilmu Sejarah di Indonesia. Terkhusus di Purworejo telah membentuk di diri saya ber authentiks dan pola berfikir yang kuat, khas dan semoga saja tidak menyimpang jauh dari metodologi, dari formulasi Ilmu Sejarah yang diajarkan di bangku perguruan tinggi.

2 tahunan lalu, sempat angan ini dan jiwa ini berontak. Kenapa tanah agung yang melahirkan banyak sosok pahlawan dan pembentuk dari Indonesia sekarang ini keadaannya demikian terbalik dengan komposisi dan peranan daripada para tokoh bangsa yang terlahir di sini.

Alhamdulillah. Sebuah Ensiklopedia yang memuat 350 an lebih sosok-sosok pahlawan dari berbagai dimensi dan segi keilmuan bisa saya susun. Sengaja saja saya campur, untuk membuat isme Purworejo bangkit. Dan sadar, bahwa mereka adalah gen unggul. Ini saya gelorakan dan saya kemukakan dimanapun, kepada siapapun. Tiada henti.

Di depan para saudara Purworejo dari Bali, Pendeta, Ulama, Guruh Sukarno Putra, Ganjar Pranowo, Eyang BJ Habibie dan banyak lainnya. Ini adalah salah satu bentuk pengejawantahan dari anak muda, Generasi Z yang ingin membuat sejarah dan mencintai sejarah dengan caranya sendiri.

“Jadilah orang yang jujur dan berani berkata tidak, belum bisa dll”. Pesan sederhana dari Bapak, Simbah yang notabene bukanlah seorang Pegawai Praja, pejabat pemegang pembuat kebijakan ini begitu saya pegang. Bapak yang saya kenal, sedari kecil hanya sebagai buruh peloper koran dan meneruskan estafet dari Simbah sebagai peloper pertama di Kota Purworejo tahun 1940 an. Di tarik ke atas, Kakek saya dan nenek pun sama. Tidak ada darah seorang Amtenaar atau pejabat dan terkemuka di saat itu.

Hanya sebuah kebetulan jika ada leluhur saya yang seorang Ulama, seorang Lurah Pertama di kelurahan yang sampai sekarang pasarnya pun tepat 3 tahun belum dibangun-bangun.

Tahun 1994. Tepat saat itu saya baru saja kelas 1-2 SD dan tentu saja belum mengenal nama-nama yang sekarang menjadi Guru saya semua. Para Cendekia, para pejabat dan para budayawan yang begitu saya hormati. Dan tentu saja ada atau saya rangkum di buku Ensiklopedia Mutiara dari Bagelen ini. Semisal ada Bapak Soekoso DM, Oteng Suherman, Ahmad Fauzi, Atas Danusubroto, Radix Penadi, Sumanang Tirtasujana dan masih banyak lainnya.

Baca Juga  Tradisi Baritan: Festival Selamatan Kemakmuran Ternak Asli Mirit yang Telah Punah

Baru tahu saya ternyata di tahun itu sebuh palu kebijakan diketok mengenai Hari Jadi dari Kabupaten tercinta ini. Yakni berdasarkan ketetapan 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo di mana menetapkan tanggal 5 Oktober 901 M sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo. Lantas saya baca, ada beberapa alternatif dan hipotesa yang muncul dari beragam saran tokoh, para pemerhati sejarah dll. Yakni umpama berdasar pelantikan Bupati Tjokronagoro pada 27 Februari 1831 atau Jumenengan sebagai Bupati Pertama, lalu tahun 1933 dari dasar penggabungan Kutoarjo dan Purworejo, ada lagi data tanggal 17 November 1838. Silahkan berpendapat dan menawarkan beragam opsi dan peluang tentu saja harus mensyarati beberapa persayaratan.

Tanggalkan beragam kepentingan ego atau sedikitpun dari niat menguntungkan diri sendiri, ego pribadi dll. Bening hati harus selalu di jaga dan tentu saja bisa memandang semua masalah secara sylical atau semua sisi, terbuka terhadap kritik dan mengupayakan terbaik buat kota.
Sebagaimana saat saya datang, melihat dari ide Bapak Bupati yang akan meremajakan beberapa monumen dan patung di sekitaran Kota Purworejo.

Ide dari saya. Sebagai paling muda dan tidak tahu apa-apa ini. Monumen sebisa mungkin harus mampu menangkap atau ada 2 tujuan yaitu sebagai Gloria, kenangan kejayaaan dan menimbulkan rasa bangga atau heroisme akan suatu peristiwa, peninggalan, symbolika di masa lalu. Yang ke dua bisa membidik sebuah peluang atau tantangan serta menciptakan satu harapan misal Monumen Kejuangan di sekitar SMA 7 dan Yon Raider 412. Pun masih banyak lainnya.

Hari jadi yang saya tangkap bukan di tanggal dan penetapannya tapi di titik balik mau dikemanakan daerah ini? Misal acara di Peringatan 5 Oktober di pelataran Arahiwang Boro syukur-syukur bisa menjadi event budaya besar tingkat Jawa Tengah. Tapi apa daya? Monumen yang tak terawat, dan ajang budaya yang tingkat Kedu saja daya saing belum bisa. Pun Jumenengan Bupati Cokronegoro yang bisa juga dikonsepsi menjadi satu ajang wisata budaya dan acara unggulan bertaraf Jawa Tengah di kota sepi ini.

image
Secara sarkasme ada idiom ” Orang miskin tidak membutuhkan Hari Jadi.” Apa itu hari jadi? Yang dibutuhkan adalah bisa tercipta distributif ekonomi. Dari para pedagang kecil yang antusias dari berjualan di event budaya berskala nasional, para rakyat dan pelajar serta semuanya ikut larut dan ada rasa di daerahnya. Entah dengan nama helatan parade budaya, festifal budaya dan banyak nama lainnya.

Baca Juga  Blusukan di Kerkhof Purworejo

Selamat kepada Magelang akan adanya kegiatan budaya berdikari bernama Festival Lima Gunung, Wonosobo ada Dieng Culture Festival, Kota Magelang ada Tidar Heritage yang menciptakan sejarah agung baru nan wangi untuk kotanya.
Respek dan penghormatan setinggi-tingginya kepada Bapak saya, Prof Peter Carrey yang beberapa kali mengajak saya ketemu, berdialektika dan berikan naskah Babad Cokronegoro dari perpustakaanya di Irlandia, para keluarga Gagak Handoko, Jenderal Ahmad Yani, Jend Pranoto Reksasamudera dan masih banyak lainnya.

Mimpi dan tindakan yang bermartabat dan bervisi jauh kedepan untuk daerah ini masih banyak. Ratusan tokoh bisa dijadikan sebagai pemantik. Selain daripada mengupayakan sebagai Pahlawan Nasional. Ada perintis UGM Jogjakarta, Boedi Oetomo, Akademi Militer dll. Tentu, seorang pemimpin yang bijak bisa untuk menangkap dan menjadikan ini sebagai peluang kemaslahatan daerahnya.

Universitas Indonesia yang telaten mempelajari epigraf di Museum Nasional Jakarta, dimana ada huruf-huruf dari Prasasti Arahiwang, Prof Peter Carrey dengan telaten selama 40 tahun mempelajari seluk beluk Perang Jawa. Dan tentu saja Pangeran Diponegoro dan Cokronegoro. Ayah saya Pak Ketut yang menulis buku tentang Dalem Bagelen Klungkung di Bali dan riset sendiri, lantas buku di bagi gratis ke saudaranya. Haji Zul dan Haji Saihan yang coba susun silsilah dan kumpulkan silsilah Purworejo dari Singapura, Australia dan Malaysia serta masih banyak lainnya.
Buatlah sesuatu yang berarti. Maka sejarah dan kesuksesan akan mengikuti. Beranilah jujur pada nuranimu. Alam punya caranya sendiri untuk menjawab dan tunjukkna hakikat kebenaran. Upayakan semua perjalanan atau kegiatan hidup kita untuk niat belajar. Mozaik waktu pun tidak kan berlalu sia-sia. Tentu saja, pasti ada sebuah kesalahan. Dan itu wajar adanya.
Kesampingkan dari kepentingan ego, jabatan dll nya. Buka cara pandang luas, wawasan kita. Di luar sana saudara-saudara Purworejo kita dengan telaten bangga memberikan nama baik, nama harum untuk Purworejo. Apa yang kita sumbangsihkan untuk kota kita sendiri dari dalam? Para pemangku kebijakan dan para pengendali kekuasaan?

Belajarlah dari yang ahli. Jangan malu untuk bertanya. Keran ilmu dijaman millenia ini terbuka lebar. Feodalistik, senioritas, pemerintahan tertutup sudah tidak jamannya lagi.
Sejarah adalah kegembiraan. Sejarah adalah antusiasme. Berbagai macam metodologi, macam rujukan dan opsional daripada khazanah ilmu sejarah pun akan mengikuti sendiri. Jika kita punyai itu. Satu lagi: “Beranilah jujur dan lapang dada.” Itu yang saya sampaikan ke Prof Peter Carrey dan Beliau setuju.
Walahualam.

 

Sumber Photo:
Agung Pranoto
Poerworedjo Djaman Doleoe
Maxmanroe.com

Comments

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here