Di Atas Batu Menghitam

0
522

Karya: aiNadari

Di suatu senja, pada kemarau kali ini yang kelewat panjang.

Baru kemarin senja aku melihatnya sumringah menatap matahari lembayung. Berbeda dengan hari-hari yang telah lalu. Meski hari mulai berakhir di ujung jembatan senja. Dan senyum indahnya masih tertempel rapi di setiap ruas helai sinar mentari yang mulai terlelap. Aku melihatnya terduduk sambil menekuk lutut di atas batu besar yang menghitam. Di ujung bibirnya tergambar senyum simpul yang timbul tenggelam indah.

Tumben, gadis itu datang di alur alir sungai yang terlewat indah untuk diceritakan. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Hari-hari yang telah lalu, tak sekalipun aku menjumpai gadis dengan senyum seindah itu. Senyum indah dengan tatapan berporos mentari senja di musim kemarau ini. Duduk sendirian di tengah angin yang masih bingung menentukan arah pulang. Dengan juntai baju anggunnya yang basah tersapu air kardus.
Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Dari tangkai terjauh dari lambaian mentari yang mulai menghilang di persimpangan malam. Dari kaca mata kagum yang enggan untuk berkedip saat menatapnya semakin menyalakan obor sumringah menjemput gelap yang semakin pekat.

Namun, meski senja telah naik kelas menjadi malam, masih kurasa harum tubuhnya tertempel di ujung batu legam yang mulai tak terlihat.

Ia masih tetap sendiri di tengah sunyi yang kian menyepi. Masihku berdiri di sini, di tempat yang sangat nyaman untuk menatapnya tersenyum. Sesaat setelah garis cakrawala benar-benar menghitam, menumbangkan raja siang, dengan gontai aku berayun dalam sulur-sulur bulan dan suara malam yang mulai datang. Aku harus meninggalkan dirinya yang mengindah dalam lubang senyumnya.

Tak tega memang meninggalkannya seorang diri di batas hari seperti ini. Sendiri ditemani senyum yang mengapung di udara. Sendiri di antara ramai alur alir yang membisu. Sendiri bersama kelap-kelip kunang yang mengambang. Dalam remang cahaya bulan yang mengintip malu di antara dedaunan dalam warna yang warni tembaga, inginku berlari kembali ke tempat senyum itu terlukis indah. Menemaninya tersenyum sambil menggoda bulan yang tengah malu di balik awan gemawan yang merayap pelan.

Dalam jejak langkah kecil-kecil, semakin terlihat jelas lekuk senyumnya dalam bayangan di hari yang hampir melewati batas malam. Dalam keremangan malam yang mendekati ambang kelam, sebuah suara menggetarkan udara, saat angin membisu membiarkan alam kosong tanpa hymne kegelapan.

“Aku tak mau meninggalkan hari ini, hari yang teramat indah untuk membiarkan senyumnya sendiri di gerbang sunyi.”

“Tenanglah, kau pasti akan berjumpa lagi di esok hari.”

“Namun aku tak percaya dengan janji-janji di batas malam yang akan kembali di lain hari.”

“Percayalah, selama sentuhan-sentuhan bulan masih menyejukkan di kemarau ini, semuanya akan baik-baik saja.”

Aku hanya bisa berdehem seringan udara malam yang mulai mengelus bulan. Kulihat, Dewi Malam mulai menarik selimut hangatnya. Kurasa, aspal mulai mendingin biru dan khayalku tentang senyumnya semakin melampaui ambang batas. Angin malam yang berlatar an-nisaa berhasil mengosongkan pikiranku yang sempat kalut. Layaknya siput ngantuk yang termakan semut ribut di atas lumut yang semrawut.
***

Sore ini, kuawali dengan sedikit kata dan suara. Setelah puas berkubang dalam lumpur dan sabit. Bersiap untuk pulang dan bertemu dengan senyum yang berhasil mencuri fitrahku sebagai seorang laki-laki. Berusaha untuk menghemat kata dan suara guna bertemu dengan senyumnya yang mengindah.

Hampir sampai, kuperlebar langkah kakiku agar cepat bersua dengan senyum indah itu. Rasa tak sabar ini sudah sedari tadi menghentak hebat.

Sekali lagi, di persimpangan terakhir menuju ujung batu menghitam tempat senyum itu kutemukan indah di senja yang telah lalu. Di ujung batu menghitam saat kulihat dirinya tengah merona semerah mentari saat dia mulai tergelincir di akhir hari. Di ujung batu menghitam itu, saat fitrahku direngkuhnya lalu disimpannya dalam saku baju yang menjuntai anggun. Di ujung batu menghitam itu kusampaikan salam serupa rekahan mawar di atas singgasananya.

Dengan sangat hati-hati aku mendekati senyum itu. Berusaha untuk tidak menggores tinta hitam di lukisan senyum ayu yang mengindah di setiap lekuknya. Mulai menyapanya dengan sapaan salam yang kubingkai manis. Kulihat dia mengganti posisi arah pandang ke sudut wajahku yang memias jingga.

Dengan tatapan matanya yang menerawang epidermisku dan senyumnya yang mengganggu respirasiku, aku bersumpah bahwa dia memang gadis manis dengan senyum yang menawan.

Sejenak aku tergagap. Tak kuasa menahan kagum atas apa yang kulihat di depan mata. Berpikir bahwa kuasa Sang Mahacipta yang telah menggores lukisan cantik yang sekarang tengah duduk di depanku. Dan percakapan kami masih kupilin dengan sangat hati-hati.

Dari pergumulanku melawan senyum indah itu, kini aku tahu alasannya ada di sini, di atas batu menghitam di setiap senja. Cerita pertama yang aku dengar dari senyum indah itu adalah kesenangannya menanti mentari tenggelam indah di batas cakrawala.

“Mentari itu selalu terlihat cantik di ujung senja. Tak seperti pada awal hari yang selalu pongah dengan kilau sinarnya. Mentari senja sangatlah ramah dan baik hati. Dirinya selalu berbagi kisah tentang pengalamannya di pagi dan tengah hari. Sinarnya yang lembut ‘kan mengelus tengkukmu dengan kasihnya. Takkan menyilaukan matamu di ujung jilatan lidahnya.”

“Namun, mentari senja hanya menyapamu dengan sekejap mata. Tak seperti mentari pagi yang sinarnya masih bisa kau jumpai di tengah hari.”

“Itulah yang kusuka di klasifikasi selanjutnya. Mentari senja selalu indah meski ia hanya sebentar. Dengan waktunya yang singkat, ia mampu mewarnai hati setiap manusia di setiap sudutnya.”
***

Sejak senja menyapaku untuk yang kesekian kalinya, di tempat yang sama, di ujung batu yang menghitam, aku masih di sini. Menunggu senyum itu kembali datang dan mendengar kembali kisah-kisahnya. Sambil merasakan debur jantung yang beradu pelan. Dan rasa nyaman saat dielus sinar syahdu senja di pertengahan musim basah.

Namun setelah sekian lama aku menunggu, senyum indah itu tak jua datang. Apakah dia sudah lelah bercerita? Apakah ceritanya sudah selesai dan tak ada cerita lagi yang senyum indah itu bisa berikan padaku? Atau senyum indah itu sudah menemukan batu baru untuk melihat senja yang terlalu indah untuk dirasakan?

Sebuah akhir yang indah untuk diceritakan. Aku akan tetap di sini. Menunggu lambaian mentari di esok senja yang lebih rupawan. Aku terduduk sambil menekuk lutut. Dan senyumku ‘kan semakin indah, seindah pelangi di akhir hujan. Saat senja mulai berbisik pelan, “Sampai jumpa lagi, kawan.”

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaThe Dead Class- Tadeusz Kantor Instalasi Pertunjukan Kolaborasi Hanafi & Lab Teater DKJ Jakarta
Berita berikutnyaAlasan Masuk Akal Cowok Bertahan, Walaupun Hubungan Tak Menyenangkan
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here