Pemimpin Bukan Pemimpi

0
407
Illustrasi koleksi Google

Jika sekilas dilihat dari headline tulisan ini, akan terlihat jelas betapa tipisnya perbedaan antara kata pemimpin dan pemimpi dari segi penulisan. Hanya satu huruf yang membedakan. Namun, demikian jika dilihat dari sudut pandang arti kata pemimpin dan pemimpi, kita akan melihat bahwa ada perbedaan arti yang begitu besar dari kedua kata tersebut. Pemimpin adalah orang yang memimpin, sedangkan pemimpi adalah orang yang suka bermimpi.

Sesuai dengan arti kata pemimpin, maka seorang pemimpin haruslah seorang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Seorang pemimpin tidak hanya berpikir tentang kondisi hari ini atau esok pagi. Ia tidak hanya berkutat dengan permasalahan yang itu-itu saja. Ia akan berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Seorang pemimpin akan bermimpi jauh dari realita yang ada tentang sebuah masa depan yang ia inginkan. Karena ia menyadari bahwa membentuk dan mengarahkan sebuah masa depan adalah tugasnya. Namun demikian seorang pemimpin tidak hanya sekedar bermimpi. Ia akan berusaha keras memvisualisasikan mimpinya tersebut menjadi sebuah realita.

Baca Juga  Aku dan Riuh Gambir: Sebuah Memoar Darman Prasetyo

Sangatlah tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk mewujudkan sebuah pemikiran menjadi realita. Oleh karena itu, adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin untuk memiliki kemauan, tekad dan mental yang kuat yang membuatnya mampu untuk menghadapi bahkan memenangkan sebuah kondisi yang penuh dengan tekanan. Ia akan menemukan cara untuk menghadapi berbagai macam perubahan dan menjadikan organisasinya maju. Tidak hanya sekedar selamat, namun mampu untuk melompat lebih tinggi lagi.

Jika diibaratkan sebuah organisasi itu adalah tubuh manusia, maka seorang pemimpin adalah kepala dari tubuh tersebut. Kepala itulah pusat dari ide, pemikiran dan solusi dari berbagai permasalahan. Namun demikian perlu di sadari bahwa kepala tidak akan lengkap tanpa tangan dan kaki. Dalam hal ini, tangan dan kaki bagi seorang pemimpin adalah team yang dipimpinnya.

Mari kita lihat mekanisme tubuh manusia.Tubuh manusia terdiri dari bermacam-macam organ dengan fungsinya masing-masing. Jika salah satu organ tubuh tersebut tidak berfungsi, maka akan berpengaruh bagi organ-organ yang lain. Semua organ dalam tubuh manusia penting, tidak ada satu organ yang menjadi paling penting. Begitu juga dengan organisasi. Semua bagian dari sebuah organisasi, dari yang kecil sampai yang terbesar, dari yang rendah sampai yang tertinggi adalah penting dan saling mendukung.

Baca Juga  Menariknya Menikah Sama Cewek Kebumen

Hubungan antara pemimpin dan team juga akan berlaku demikian. Tanpa team maka semua ide, gagasan, visi maupun misi dari seorang pemimpin tidak akan terwujud. Dan sebaliknya, jika sebuah team tanpa seorang pemimpin maka akan tampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya, tanpa arah dan tujuan.

Oleh karena itu, harus ada komunikasi yang baik antara pemimpin dan teamnya. Tidak hanya sekedar perintah dan larangan. Seorang pemimpin harus mampu memberikan solusi bagi teamnya, mengevaluasi tapi juga menyemangati, menjadi tutor sekaligus panutan bagi teamnya. Seorang pemimpin harus mampu membimbing dan mengayomi. Ia akan menarik teamnya untuk maju, bukan mendorong supaya teamnya maju. Ada perbedaan besar antara menarik dan mendorong. Yang menarik akan jadi yang pertama jatuh, dalam hal ini pemimpin yang menarik. Sedangkan yang didorong akan menjadi yang pertama jatuh, dalam hal ini team yang didorong.
Untuk menjadi semua itu maka seorang pemimpin haruslah seorang pendengar yang baik. Tidak hanya mendengar dari telinga tapi juga mendengar dari hati.
“Berhentilah mendengarkan teammu, maka mereka akan diam. Kemudian akan bertahan dalam kemarahan atau menyelamatkan diri dengan pergi”
Itulah yang akan terjadi jika seorang pemimpin mulai menutup telinga dari semua keluhan ataupun masukan dari teamnya. Jalinlah komunikasi yang baik dengan team, maka team tersebut akan menjadi tangan dan kaki yang hebat bagi seorang pemimpin.

Baca Juga  Jangan Lewatkan Indonesia Aquaculture Summit 2018

Manakah yang anda pilih?
Menjadi pemimpin yang bermimpi atau menjadi pemimpi yang bermimpi sebagai seorang pemimpin?
Pilihan ada di tangan Anda. Semoga bermanfaat.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaApakah Toleransi Itu?
Berita berikutnyaMengenal Diri Sendiri
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Akrab disapa Shewe. Selain menulis, wanita kelahiran Purworejo ini suka memasak. Ia juga suka sekali membaca novel. Cita cita terpendamnya adalah menjadi seorang dokter. Namun, saat ini ia hanya ingin mewujudkan mimpinya untuk bisa menerbitkan tulisan karyanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here