Mengenal Diri Sendiri

2
300

Oleh: Dewi Istika

(Mompreneurship, penulis beberapa buku motivasi & bisnis. Tinggal di Surakarta)

“Manusia yang paling luas pengetahuannya adalah orang yang telah mengenal dirinya” (H.R Bukhari dan Muslim).

Seperti yang dikatakan K.H.M. Rusli Amin, M.A dalam bukunya Kiat-kiat Sukses bahwa mengenal diri adalah langkah awal untuk melakukan pembangunan diri dan kehidupan. Seseorang yang telah mengenal dirinya maka akan mampu menemukan tuhan dalam dirinya, menyadari bahwa ia adalah ciptaan Tuhan. Dan Tuhan teramat dekat dengannya, bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Seseorang yang mampu menyadari hal ini adalah mereka yang luas pengetahuannya dan rendah hatinya serta tawaduk. Seperti peribahasa padi yang berisi maka akan semakin merunduk. Manusia yang semakin luas pengetahuannya, banyak ilmunya, bermanfaat hidupnya mereka akan semakin rendah hati, beretika, bermoral dalam tindakannya.

Imam Ghazali dalam kitab Kimiya’us Sa’adah (kimia kebahagiaan) bahwa tujuan hidup adalah untuk mengenal hakikat diri. Ya, hakikat diri atau disebut juga konsep diri, identitas diri masing-masing manusia harus dipahami terlebih dahulu agar mampu memahami hakikat hidup ini sendiri. Siapa kita? Di mana kita? Dari mana kita? Dan untuk apa kita berada di sini?

Pada dasarnya tanpa kita sadari telah melakukan identitas diri terhadap seseorang sejak mereka bayi. Semua orang tua akan memberikan nama sebagai identitas pada setiap anaknya yang baru lahir. Nama yang mengandung doa dan harapan kelak agar anaknya mampu menjadi seseorang yang seperti ini dan itu. Lalu seberapa penting pengenalan diri ini? Sangat penting ternyata. Seseorang yang tidak mampu mengenal dirinya tidak akan pernah mampu untuk mengenal tuhannya. Akan sulit baginya untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, akan sulit baginya menyadari bahwa semua yang dimilikinya adalah berkah. Akan sulit baginya menemukan. Tuhan yang sejatinya teramat dekat dengannya.

Baca Juga  AKU TAK MAU MENIKAH MUDA, KARENA AKU MEMPUNYAI CITA-CITA

Pengenalan diri yang paling dasar adalah mengetahui bahwa kita adalah mahluk ciptaanNya. Kita sebagai mahluk dan Allah sebagai penciptanya. Kita diciptakan oleh Allah, untuk Allah dan kembali pada Allah. Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelumu agar bertaqwa” (AS Al-Baqarah: 21).

Kita hadir di dunia ini tidak serta merta ada begitu saja. Ada penciptanya yaitu Allah, dan ada perantaranya yaitu kedua orangtua kita yakni ayah dan ibu melalui proses yang luar biasa. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling penting. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat” (Q.S Al-Mukminun :12-16).

Baca Juga  Alunan Suara Dari Surga

Kita diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu kita akan mati dan kelak dibangkitkan kembali dihari kiamat untuk dimintai pertanggungjawaban terhadap segala sesuatu yang dilakukan di dunia. Dunia yang sejatinya tempat untuk menanam segala kebaikan dan kasih sayang dan beribadah sebanyak-banyaknya. Ya benar, tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah. Beribadah yang seperti apa? Ibadah secara luas, yakni segala sesuatu yang kita lakukan diniatkan karena Allah. Bukan sekedar ibadah sholat, puasa, zakat, infak, haji melainkan bekerja, makan, sekolah, mengurus rumah semua diniatkan karena Allah. Maka tak ada satupun lelah yang percuma ketika semua lillah. Semua berpahala dan semua membuahkan kebahagiaan.

Semua manusia diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya. Dan semua manusia juga memiliki energi positif dan negatif dalam dirinya. Keduanya dikendalikan oleh hati, dimana jika hati itu bersih maka akal dan jasmaninya akan mendukung kegiatan yang positip. Sebaliknya jika hati itu kotor maka akal dan jasmaninya akan melakukan hal yang negatip. Kebersihan atau kekotoran hati ini tergantung pada kecerdasan spiritual masing-masing individu. Ya, benar kecerdasan spiritual atau kedekatannya pada tuhan. Hal ini yang akan menentukan seseorang akan sukses atau tidak, selain IQ dan EQ yang mumpuni.

 
Sumber:
Photo: www.kabarharian.net

Comments

SHARE
Previous articlePemimpin Bukan Pemimpi
Next articleNavicula: Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here