MISTERI JALUR KEMATIAN DI BALIK INDAHNYA PANTAI BAYAH

0
1093

Oleh: Mas Awan

 
REVIENSMEDIA.COM – “Debur ombak pantai selatan Banten, memecah gugusan karst dan karang endemik, beradu padu menawarkan misteri. Burung kuntul terbang menjauh ke sisi Tenggara arah Australia dan pulau Christmas dengan formasi “V” sebagai bukti migrasi besar-besaran untuk bertahan hidup. Bertahan hidup dari upaya eksploitasi tak bermoral kolonial Nippon.”

Itulah sepenggal kalimat yang dapat mewakili guratan kisah pilu dari seorang warga bernama Ngadiyo, warga asli Purworejo yang pernah menjadi Romusha saat pembangunan jalur kereta Rangkasbitung-Saketi-Bayah. Siapa Ngadiyo ini? Dari manakah dia berasal? Dan untuk apa dia ke sini? Sederetan pertanyaan menarik, mengalir ketika pertama kali aku menyaksikan dan menginjakkan kaki di kawasan pantai barat Banten.

Kawasan pesisir pantai selatan provinsi Banten membentang sepanjang kurang lebih 164 Km dari Ujung Kulon hingga Cikotok perbatasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Daerah ini menyimpan sejarah panjang dan kelam yang tersembunyi oleh keelokan alamnya yang sangat indah. Disinilah praktek perbudakan manusia paling mengerikan pasca Jepang menguasai Indonesia di penghujung tahun 1943. Peristiwa memilukan ini terjadi selang 40 tahun setelah ditemukannya kandungan batu bara yang melimpah di kecamatan Bayah oleh seorang ilmuwan Belanda. Namun karena belum sempat Belanda mengeksploitasinya, kekalahan justru sudah datang menghampiri.

Setelah Belanda menyatakan penyerahan kedaulatan kepada pihak Jepang, semua aset termasuk sarana transportasi di Indonesia mulai dikuasai Jepang, seperti pabrik, dan jalur kereta api. Alhasil pada tahun 1943, Jepang atas prakarsa Kaisarnya mulai membangun jalur kereta api dengan rute Jakarta-Rangkasbitung-Saketi-Malingping-Bayah. Material kereta api seperti bantalan rel, besi, hingga kereta uap didatangkan dari pabrik gula yang mengalami kebangkrutan di Jawa.

Baca Juga  Mengenal Yoke & Tanto: Penjaga Setia Kebudayaan Nusantara

Sedangkan untuk pekerjanya, Jepang mendatangkan langsung dari Purworejo, Kutoarjo, Semarang, Purwodadi, dan juga Solo. Dari sinilah, sejarah kelam sistem kerja paksa atau yang lebih dikenal dengan Romusha dimulai. Warga yang berumur 13 hingga 20 tahun dipaksa untuk bekerja membabat hutan dan membuat jalur kereta api dari Saketi hingga Bayah. Daerah ini terkenal dengan medannya yang sukar dilalui. Hutan yang dilewati juga masih dihuni oleh binatang buas seperti harimau dan macan tutul.

Tidak sedikit dari para pekerja ini tewas mengenaskan menjadi santapan binatang buas.Jalur yang dilalui diantaranya hutan Pulau Manuk yang sekarang menjadi hutan ekologi yang dilindungi karena menyimpan flora dan fauna endemik seperti pohon Rasamala kera Jawa dan harimau. Para pekerja dipaksa bekerja, 15 jam perhari dengan upah yang hanya cukup untuk membeli makan mereka sehari bahkan kurang. Untuk upah seorang mandor yang direkrut dari jaro atau lurah setempat hanya 15 Sen, yang saat itu hanya bisa untuk membeli satu liter beras. Dapat dibayangkan betapa menderitanya para pekerja ini yang bekerja tanpa digaji layak dan istirahat yang kurang.

Anehnya lagi, sistem kerja paksa ini malah didukung oleh Bupati Lebak kala itu, Raden Karta Natanegara.
Menurut literatur sejarah, korban jiwa akibat sistem kerja paksa di Bayah ini mencapai 60 ribu jiwa. Lebih dari 90% meninggal akibat kelelahan yang hebat, selebihnya karena dimangsa binatang buas, kelaparan, hingga terjangkit wabah Cikungunya.

Baca Juga  Prepegan Desa Tridadi, Diadakan Pasar Murah

image

Ngadiyo, pria kelahiran Purworejo yang pernah menjadi pekerja Jepang itu berhasil melarikan diri dan bersembunyi selama 15 tahun di atas perbukitan Cikotok hingga Indonesia merdeka. Ngadiyo yang saat itu tidak bisa pulang kembali ke Purworejo, akhirnya berbaur bersama warga setempat bekerja sebagai petani di kecamatan Bayah. Hingga saaat ini, beliau telah memiliki 7 cucu, dan 1 cicit. Saat kami temui bersama teman sekantor, Kakek ini masih fasih berbahasa Jawa. Beliau bercerita betapa beratnya hidup pada masa itu, bekerja dengan paksaan tanpa rasa perikemanusiaan. Dalam kisahnya beliau juga bercerita begitu sedihnya harus berpisah dari keluarganya di Purworejo. Sampai saat tulisan ini dibuat, beliau belum pernah pulang ke Purworejo, alasannya sederhana, beliau tidak ingin keluarganya di Purworejo menjadi sedih karena kepulangannya. Sungguh sebuah kisah pilu seorang warga pribumi yang dijajah habis-habisan oleh bangsa lain.

Sebagai bukti sejarah, pada tahun 1990 an di Bayah pernah dibangun sebuah monumen untuk mengenang para pekerja Romusha ini. Hanya monumen seadanya seluas 12 meter persegi yang kondisinya tidak terawat. Banyak ditemukan corat coret, lantai keramik yang mengelupas, dan juga rumput ilalang yang tumbuh liar. Sungguh membuat hati ingin menangis.

Kekejaman luar biasa pada era pendudukan Jepang membawa kisah pilu yang terpendam dalam-dalam, tersembunyi rapi, terbungkus halus oleh indahnya pantai Bayah. Pantai Karang Taraje, Pantai Pulau Manuk, Pantai Sawarna, dan Pantai Tanjung Layar.

Comments

SHARE
Previous articleI Love You Papua
Next articleBelajar dari (Pulau) Komodo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here