Sihir Air (Gadis) Sungai Kapuas

0
430
Foto oleh katulistiwapark.com

REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – Pertama kali menginjakkan kaki disini, Pontianak. Aku sering terbayang ucapan dari rekan-rekanku di Jawa Timur “awas hati-hati jangan minum air Kapuas, nanti kamu tidak bisa pulang ke Jawa.” Kalimat itulah yang sering mengiang-ngiang dipikiranku. Dan orang-orang Jawa umumnya masih menganggap daerah Kalimantan itu berhantu, apalagi cerita Sultan Abdurrachman saat mendirikan istana Kadriyah, ketika itu Sultan beserta awak kapalnya diganggu dengan segerombolan makhluk yang berwujud wanita berambut panjang, dengan meriam nya Sultan berhasil mengusir makhluk-makhluk tersebut. Selain itu katanya Pontianak memang berasal dari kata Hantu wanita cantik, berambut panjang lurus dan selalu riang gembira karena suka tertawa.

Saat itu di Bandara Supadio, menjadi saksi ketegangan jiwaku karena takut dengan keangkeran pulau terbesar di Indonesia ini. Akupun pasrah, dan hampir meyakini cerita-cerita mistis dari teman-temanku di Jawa. Tapi tak mengapa, ini adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam.Aku menerima seluruh cerita-cerita tersebut dengan ikhlas dan tanpa balas.

Aku bersama temanku Taqim seorang putra Jepara dijemput seorang lelaki baik, setengah baya bernama Pak Imam asliketurunan Pontianak. Kami masuk mengendarai minibus berwarna putih dengan huruf S dikap depan. Mobil melaju dengan santai tidak kencang dan tidak lambat, sehingga menimbulkan kehangataan dalam bercengkrama mengulik-ulik apa yang ada di Kota Khatulistiwa ini.

“Kami bingung Pak Imam, karena belum dapaat tempat Kost, tapi ada teman saya yang memberikan nomor temannya untuk mencarikan tempat Kost, paling tidak untuk semalam kita bisa tidur dan unuk bekerja pada keesokan harinya.”

“Ohh begitu apa sudah dapat soalnya saya sudah ada gaambaran tempat kos yang baik, dan harganyapun tak cukup mahal, kalaupun nanti tidak dapat kamar bisa kita tidur sementara dirumah saya, terus bagaimana dengan kawan kamu, sudah dapat berita tentang kamar Kost yang kosong/”

“Iya pak terima kasih, insya Allah sudah dapat Pak, katanya sih ada beberapa yang kosong, dan katanya udah dapat makan juga.”

“Wah lumayan itu, ya sudah kita kesana, tapi kita cari makan dulu, belum makan kan?”
Serentak kami bilang dengan senyum lebar kegirangan “belum pak”. Yang pasti harus hati-hati jangan sampai aku sedikitpun mencicipi air sungai Kapuas, itu saja.

Hari pertama aku kerja, disambut hangat dengan orang-orang kantor. Aku ditempatkan di seksi pelayanan, banyak berbincang-bincang tentang kegiatan kantor dan beberapa cerita sejarah Kota ini. Sedikit haus aku mengambil segelas air digalon dan kembali berbincang hangat dengan Bu Nik, seorang Ibu berdarah Melayu.

“Makanan Khas disini apa ya Bu?”
“Ini ye, paling banyak makanan Khas nya Mas, ada Sotong Pangkong, Jorong-Jorong, Lempok, Bingke, bubur pedas.Banyak mas pokoknya, apalagi masakan china tuh ada Cai kwe, Ce Hun Tiau, Bubur Ikan.”

Baca Juga  Ternyata, Si Kucing Bilang Boong

“wah bisa wisata kuliner ya bu?”
“Biselah.”
Beberapa hari menikmati suasana panas menyengat di Kota Pontianak, ada beberapaa hal yang membuatku tertarik, sehingga tamparan sinar matahari tak begitu dihiraukan jika aku melihat mereka. Benar, selain kelezatan kuliner, kelezatan gadis-gadis khatulistiwa juga bikin aku betah berlama-lama tinggal disini. Keindahan tubuhnya yang begitu memanjakan mata laki-laki membuat hasrat ini tak kuasa untuk tidak memalingkan muka menghindari pemandangan lahiriah.Kulitnya bak susu sapi yang baru diperah dari putingnya, wajahnya bak mutiara yang baru dikeluarkan dari rumahnya, rambutnya lurus bak dawai biola dan keindahan tubuhnya bak gitar klasik. Pokoknya yang jelas , ah tak bisa aku menjelaskan ini secara lebih.

Suatu pagi yang berasap, aku sempatkan ngobrol dengan seorang teman, beliau salah seorang senior di kantor tempatku bekerja.

“Pak, saya pernah diberitahu oleh seorang teman saya, katanya kalau pulau ini itu mistik nya sangat kuat?”

“Wah soal apa itu?”
“Salah satunya cerita mistis sungai Kapuas. Apa benar Pak jika kita minum air sungai tersebut kita tak bakal bisa balik ke kampong halaman kita?”

“Ohh, soal itu. Ya saya juga tak tahu soal itu, kata orang inilah itulah, tapi kalau saya sih sebenarnya nggak ada cerita lebih dari mitos itu. Sekarang gini saja, Mas berkerja disini untuk berapa tahun pun tidak diketahui kan, maka jelas Mas kemungkinan balik ke kampong halaman sangat kecil, itu yang pertama. Yang kedua, soal biaya pulang apakah Mas sanggup bayar setiap minggu buat sekedar pulang ke kampong kayaknya akan berat banget diongkos. Nah yang ketige nih, kalau Mas dapat istri orang Melayu, otomatis Mas punya kampong halaman disini juga.”
Aku mengangguk tanda paham.

“Bolehlah kau percaye sebagai cerita mitos, tapi jangan percaye seutuhnya. Saya yakin kau tak usah minum air Kapuas pun sudah pasti kau akan balik kesini, sekarangpun kau sudah betah tinggal disini.”
Aku hanya bisa tertawa dan mengangguk.

“Nah benarkan, apa yang saya bilang. Coba saya beritahu apa yang kau suka dari bumi khatulistiwa ini?”

“Makanannya Pak.”
“Tak percaye saye, oke lah itu yang pertama, apalagi?”

“kerukunan suku bangsa dan agamanya Pak.”

“Maaak, macam sosiolog saje kau nih, munafik. Okelah itu yang kedua apalagi?”

Sambil garuk-garuk kepala aku memikirkan sesuatu yang tak ingin kuucapkan dan supaya kata itu tak terucapkan.

“Ayo apalagi, tak usah kau garuk-garuk kepala macam tu?”

“Tingkat kejahatannya sedikit Pak.” Sambil nyengir

“Maaak, macam polisi jak kau nih. Tak bise, tak percaye, apalagi?”
“Duh apa ya Pak?”

Baca Juga  Begitu Arifnya Orang Purworejo

“hahaha, malah kau balik Tanya, tak usahlah kau sungkan macam tu. Ayolah apalagi?”

“Ehmmm, anu Pak, tempat wisatanya bagus-bagus Pak.” Sambil nyengir
“Hahaha, susah kali anak satu ini. Saya tak percaye kalau Mas belum sebut satu kata itu.”

Nampaknya memang beliau ini sudah bisa menerka apa yang ada dibenak orang-orang baru seperti aku ini, dan kemungkinan setiap orang pendatang pasti berpikiran sama dan selalu berulang-ulang memuji merek.

“Ehm” aku sedikit berpikir lama soal ini.

“Gadisnya Pak.”
“Naaaahh, begitu dong, sulit kali budak ni bilang kata “Gadis”. Hahahaha. Tak usah sungkan Mas, macam saya ini siapa, wajarlah kau seorang lelaki lajang melihat yang tak kau pernah lihat dikampung halamanmu.”

“Tak usahlah kau minum air sungai itu Bang, kaupun betah tinggal disini, apalagi kau sudah minum dan mandi, tak biselah kau balik ke Jawa, ke kampong halaman kau bang.” Salah seorang teman yang lain menimpaliku sambil tertawa terbahak-bahak. Senang sekali rasanya dia mendengar kata itu.

“Looh Man, bukannya Mas ini udah minum dan mandi air Kapuas ya?” beliau bertanya dengan kawan tersebut yang bernama Maman.
“Ahh” aku kaget “Maksudnya Pak.”
“Iya kau itu sudah minum dan mandi air Kapuas.”

“Ahh mana bisa Pak?”
“Biselah, tuh Teh Es yang kau minum tu, hasil sulingan dari Sungai Kapuas, kau mandipun itu air juga dari sungai Kapuas. Kenak lah kau Sihir Air Sungai Kapuas, tak bise balik kau.”
Mereka sambil tertawa Nampak senang betul dengan pucatnya mukaku.

“Mas, tak usah gelisah macam itu, semua orang yang tinggal disini pasti akan merasakan tenteramnya Kota ini. Bukan karena suatu cerita yang mistis atau mitos-mitos yang beredar luas, mereka mungkin belum pernah tinggal lama disini makanya mereka hanya melihat sebuah klise belaka.”
“Mas sudah bisa mendiskripsikan mengapa Mas katanya bisa nyaman tinggal disini, Ya karena kulinernya, toleransi warganya, wisatanya, ketentramannya, bahkan Mas bisa memandang kecantikan gadis-gadis Kapuas yang memanjakan mata. Tapi kalau itu disebut sebuah sihir, saya kembalikan kepada anda, kalau saya tak sepakat itu sebuah sihir.” Lanjutnya.

Aneh rasanya memang, jika kita selalu memikirkan hal-hal yang negative, ujung-ujungnya bukan malah merasa nyaman tapi hati dan pikiran malah tidak tentram sehingga kejadian nyatapun terjadi, hal tersebut sering kali dialami oleh orang yang tidak bisa berpikir tenang. Saat itulah aku mencoba menghilangkan cerita-cerita horror dari pikiranku. Skip dan kubur cerita-cerita mistis tentang pulau bernama Kalimantan ini. Cobalah kau menetap beberapa waktu disini, kau akanmerasakan sensasi hangat di Bumi Khatulistiwa ini.

Comments

SHARE
Previous articleJujur itu Harga Mati
Next articleWarisan Nusantara: Biting dan Bungkus Daun Pisang
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here