Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Lebih Semarak

0
379

Oleh: Ilhan Erda

 

REVIENSMEDIA.COM, MAGELANG  – Helatan festival seni budaya terbesar di Indonesia di tahun 2016 ini adalah perayaan ke 5 nya dan akan lebih semarak Tentu saja dengan tema-tema dan pembicara yang telah dipersiapkan oleh panitia, dalam hal ini Samana Foundation, dan fihak-fihak yang mensupportnya akan memberikan sebuah persembahan, sajian yang berkesan dan apik.

Tema Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 ini adalah “ Setelah 200 Tahun Serat Centhini.” Erotisisme, Religiusitas Dalam Kitab-Kitab Nusantara.

Para pembicara dan pengisi yang hadir ialah Happy Salma, KH Rng. Agus Sunyoto, Arswendo Atmowiloto, Elizabeth D Inandiak, Karsono W Saputro, Prof Umar Faruk dan masih banyak nama-nama yang berkualitas di bidangnya. Tentu saja adanya konsistensi dan persembahan dari Borobudur Writers and Cultural Festival tidak lepas dari para saudara dari Samana Foundation yang bekerja keras agar bisa tetap mengawal dan menjadikan budaya Indonesia menjadi “tuan di negeri sendiri”.

Baca Juga  Ekspedisi Arnawa 1.0

Figur-figur seperti Prof Dr Mudji Sutrisno ST, Yoke Darmawan, Seno Joko Suyono, Dotrothea Rossa Herlianny Wicaksono Adi serta Imam Muhtarom. Beliau-beliau ini adalah figur seorang yang berdedikasi tinggi dan menjadi panglima utama dalam menjaga marwah atau gelora Writers and Cultural Festival agar tetap menggelora.

Sebagaimana disinggung dari info portal BWCF, acara yang dijadwalkan dari tanggal 5-8 Oktober 2016 ini akan ada dibeberapa tempat seperti di Hotel Inna Garuda Malioboro Jogjakarta, Hotel Manohara Borobudur, Desa Mantran Wetan, Gunung Andong, dan di komunitas Pesantren di sekitar Borobudur, Magelang, Jawa tengah. Pendopo Manohara dll. Serta para komunitas pengisi budaya ada dari seni pertunjukan Bissu dari Bugis Makassar, Komunitas Lima Gunung Magelang, Gandrung Banyuwangi, Cerita Tutur dari Aceh, Teater Boneka, Monolog, Reyog dari Blitar, Joget Bumbung dari Bali, Hiphop Jawa, Tayuban dari Jawa Tengah, dan pembacaan puisi oleh para Penyair terpilih.

Baca Juga  Launching dan Bedah Buku “ Perjuangan Pangeran Diponegoro”

Serat Centhini adalah karya besar kesusastraan Jawa yang disusun pada awal abad ke-19, dengan genre puisi panjang yang digubah dalam bentuk lagu. Serat Centhini digagas oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III yang kemudian menduduki tahta dengan gelar Sunan Paku Buwana V. Setelah menjadi Raja, Sunan Paku Buwana V meminta tiga Pujangga keraton, yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II dan Sastradipura untuk meneruskan penulisan cerita mengenai segala hal tentang kehidupan dalam bentuk tembang macapat. Serat Centhini ditulis selama kurang lebih 9 tahun, dari tahun 1814 hingga 1823 Masehi.

Baca Juga  Jazz Terindah di Senggigi Jazz World Festival

Dalam kurun 10 tahun terakhir, Serat Centhini muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dengan versi lebih singkat, pelbagai novelisasi, seni tari, teater, fotografi , ziarah perjalanan tempat-tempat dan rekontruksi kuliner yang tercantum di dalamnya. Segala kegiatan tersebut menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap Serat Centhini sebagai kitab klasik budaya Jawa.

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2016 kembali memberikan apresiasi yang baik kepada karya-karya sastra klasik tersebut. Pada 2016 ini BWCF telah memasuki tahun ke-5. Festival ini konsisten mengangkat tema-tema budaya klasik Nusantara.

Perayaan Serat Centhini dan I La Galigo adalah suatu upaya untuk menggali khazanah klasik guna memahami dan membentuk kebudayaan Nusantara dalam konteks kekinian dan masa depan.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaMakna Mainan Dakon
Berita berikutnyaMengulik Cahaya Surga dari Dasar Luweng
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here