Mengulik Cahaya Surga dari Dasar Luweng

0
250

REVIENSMEDIA.COM, YOGYAKARTA – Tegak lurus di tengah hutan dan ladang jati, luweng yang dalam bahasa jawa berarti lubang ini membisu dalam balutan hawa dingin pegunungan Gunungkidul, Yogyakarta. Berlokasi di Kecamatan Semanu, 45 menit perjalanan dari pusat Kota Wonosari. Kalau boleh mengutip cerita masa lalu, lubang ini dulunya adalah tempat pembuangan mayat-mayat ‘korban’ G30S/PKI atau petrus (penembakan misterius) di rezim orde baru. Tak ayal apabila di sekitar hamparan ilalang dan dedaunan jati, aura mistisnya menyeruak.

Sebelum memasuki lokasi wisata, terlebih dahulu pengunjung diwajibkan untuk memakai perlengkapan, antara lain sepatu khusus mirip boots, topi pengaman, dan tali. Tak usah khawatir, seluruh perlengkapan sudah disediakan langsung oleh penyedia. Usahakan untuk mendapatkan topi dan sepatu yang sesuai agar nyaman dipakai saat perjalanan.

gunung kidul 1

Trip lalu dimulai dari ajang ‘turun gunung’ menggunakan tali dan katrol. Sekitar 60-80 meter, hingga ke dasar lubang, pengunjung langsung disambut dengan hutan purba yang eksotis. Kumpulan pepohonan rindang yang tak dijumpai di ‘dunia atas’, begitupun dengan beberapa spesies hewan kecil dan tumbuhan paku yang menciptakan ekosistem baru.

Diantar oleh tour guide menambah warna dalam warni perjalanan menyusuri Goa Jomblang ini. Jadi, sedikit banyak kami bisa kepo dengan asal usulnya. Setelah menyusuri jalan setapak untuk melintasi hutan purba, selanjutnya pengunjung akan disuguhi mulut goa. Tak jarang semakin ke dasar, kabut akan menyapa. Karena perbedaan suhu, menyebabkan kabut-kabut ini menyelimuti dan seolah-olah menutupi jalan masuk.

Beberapa jengkal, tetaplah berhati-hati karena jalan menujunya semakin berlumpur dan sedikit basah karena embun, mulut goa makin terlihat. Di sekelilingnya terhampar tanah lapang dengan beberapa tunas pohon. Saya rasa, mereka sengaja ditanam bukan tumbuh secara alami. Karena sejak kami masuk ke mulut goa, tak satupun pohon yang tampak. Hanya hamparan tanah, seolah-olah tempat ini adalah tanah lapang. Di pojokan, terdapat beberapa batu yang sengaja disusun untuk alas tempat duduk.

Baca Juga  KELIMUTU

gunung kidul 2

Kembali menapaki jalan setapak, berdasarkan penuturan tour guide yang ternyata merupakan warga lokal dan masih berusia 21 tahun, Goa Jomblang sendiri terbagi menjadi tiga zona; zona terang, yang ada di hutan purba, lalu zona remang-remang yang terdapat di mulut goa ini, lalu zona gelap, lokasinya masih di dalam.
Di zona terang, sinar matahari masih bisa masuk, sedangkan di zona remang-remang, intensitas matahari sudah agak berkurang. Layaknya di mulut goa ini, sinar matahari sudah meredup, begitu pula dengan kadar oksigen yang ada. Jalanan mulai menanjak lalu menurun, masih berbalut tanah berlumpur padat.

Beberapa jengkal ke depan, mulai memasuki zona gelap. Di zona ini, sinar matahari benar-benar tidak berbekas. Perjalanan mulai tak berarah, harus memaksa indera pendengaran untuk bekerja sama lebih maksimal. Tapi tenang saja, hal ini tidak berlangsung lama, ternyata mas Aan, tour guide kita, iseng. Tepat di tikungan sudah disiapkan lampu dengan tenaga genset untuk membantu penglihatan pengunjung.

Lebih masuk, jalanan sudah didesain untuk memudahkan perjalanan. Namun tetap harus berhati-hati, karena jalanan masih saja berlumpur.

Ciptaan Tuhan memang tiada duanya, bahkan jika dilukiskan dengan sketsa maupun tangkapan kamera. Kolaborasi antara ekosistem di dalam goa, aroma sisa kelelawar yang bertengger, gemericik air dari sungai bawah tanahnya, belum lagi adanya ‘cahaya surga’ bagi pengunjung yang beruntung mendapatkannya. Setelah melewati lorong dan bergelap-gelapan, mulai ada secercah cahaya yang menyeruak. Curahan cahaya yang memantul stalagmite, kemudian berpendar menghasilkan kilauan cahaya cantik.

Cahaya yang dijuluki ‘cahaya surga’ oleh para pengunjung ini memang benar-benar indah (setidaknya begitu juga yang saya rasakan). Tidak begitu menyilaukan mata dan menenangkan. Ditambah lagi dengan alunan debit air di bawah. Stalagmite yang terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu ini menjadi primadona. Berduyun-duyun pengunjung antri untuk berfoto di atas batu yang konon kabarnya menjadi petilasan untuk mencari wangsit.

Waktu yang paling pas berkunjung adalah sekitar pukul 10 pagi, ketika sinar matahari sudah agak tinggi sehingga cahayanya bisa menerobos masuk ke celah-celah dinding goa. Tetap perhatikan cuaca juga, apabila hujan, tanah akan menjadi lebih becek dan semakin berlumpur. Begitu pula dengan cahayanya, apabila tengah mendung apalagi hujan, maka sinarnya redup dan tak terlalu kemilau.

Baca Juga  Bukit Termenong

gunung kidul 4

Sungai bawah tanahnya juga membuat pengunjung berdecak kagum, entah dari mana suara air terjun yang menggema, namun riak airnya terdengar deras. Dilansir sungai ini bermuara di Pantai Baron, Laut Selatan. Apabila ingin menyusuri sungainya, dianjurkan untuk membawa perlengkapan lengkap, termasuk oksigen. Karena kadar oksigen di sana sangat tipis.

Banyak ‘katanya’ yang beredar seputar goa dan sungainya. Karena dulunya sebagai tempat ‘pembuangan’ mayat dan petilasan, maka tak heran jika pengunjung diharapkan untuk berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan. Misalnya saja tidak boleh menginjak stalagmite dengan memakai sepatu, apabila ingin berfoto di atas, maka alas kaki harus dilepas. Jangan sombong juga, sudah ada beberapa pengunjung yang ‘kerasukan’ roh halus. Dan sungainya, warga local pun bahkan tidak tahu bahaya apa yang akan menghadang jika rasa penasaran sudah menyeruak. Berawal dari hewan buas yang tak terhitung hingga ‘godaan’ makhluk halus.

Tips untuk berkunjung ke Goa Jomblang-Goa Grubug, antara lain;
1. Melakukan reservasi sebelum trip, karena pengunjung objek wisata ini sangat terbatas. Hal ini sehubungan dengan kadar oksigen yang tipis di bawah.
2. Diusahakan untuk sampai di lokasi wisata sebelum pukul 9 pagi, karena trip hanya sekali dalam sehari. Dan ketika sudah pukul 11 siang, pengunjung sudah harus naik karena suhu dan cahaya di bawah sudah menurun.
3. Pilih sepatu dan topi yang nyaman untuk dipakai.
4. Pilih trip ketika musim kemarau.

Selamat bertamasya, Guys. Jangan lupa untuk searching objek wisata sebelum bertandang ke sana. Karena informasi sekecil apapun akan sangat bermanfaat ketika di perjalanan.

Comments

SHARE
Previous articleBorobudur Writers and Cultural Festival 2016 Lebih Semarak
Next articleTetaplah Merokok, Meski Harga Rokok Naik
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Penulis yang bernama asli Miladani Iing Nadari ini tengah menikmati tugas barunya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Bumi Khatulistiwa. Sudah ada 14 karya yang lahir dari tarian jemarinya, antara lain Bintaro Spring Tide (Metamind, 2014), Padamu, dengan Sepenuh Hati (Mazaya Publishing, 2015), Sweet Pain of Horoscope (Pustaka Jingga, 2014), dll. Sangat senang bila disapa di FB, Instagram, atau Path dengan akun Miladani I. Nadari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here