Tetaplah Merokok, Meski Harga Rokok Naik

0
247

Karya: Qosim Jamaludin

“Jika harga naik jadi 50 ribu per bungkus, saya akan tetap rokok mas, meskipun harus Nglinting”. (Sumijan, bakul gula keliling, 60 tahun)
“Mau dinaikan berapapun, saya akan tetap merokok, kecut mas”. (Kasdiro, petani, 47 tahun)
“Hahaha..rokok mati, tidak merokok ya mati, tapi mikir-mikir kalau harganya sampai 50 ribu”. (Iwan, anak SMA).
(Beberapa tanggapan masyarakat jika harga rokok naik)

Kenaikan harga rokok yang menjadi isu paling hangat beberapa pekan ini memang cukup menarik untuk dijadikan topik ngerumpi. Diskusi kritis tingkat ahli, akademisi, ekonom, sampai tukang parkir banyak kita jumpai baik di media online, cetak, angkringan, pos ojek, sampai di acara tahlilan. Sebagai barang yang paling banyak diperdagangkan di muka bumi ini, rokok selalu menimbulkan pro dan kontra baik dari segi kesehatan, ekonomi, sampai agama.

Saya tidak akan mebahas rokok dari segi ekonomi, karena otak saya agak alergi urusan hitung menghitung dan tidak juga akan membahas dari sisi hukum halam atau haram, biar menjadi kerjaan MUI saja lah, eh rokok sudah ada sertifikat halal MUI nya belum tho? Masa kalah sama kerudung, kerudung saja sudah ada yang besertifikat MUI lho MUI

Jujur saja sekarang saya bukan perokok, tapi pernah menjadi perokok, jadi sedikit paham bagaimana perasaan kakak-kakak perokok yang sedang terancam eksisteninya sebagai ahli hisab. Dari beberapa kali obrolan ringan dengan orang yang sudah tua, sahabat, bakul angkringan, petani, ada beberapa alternatif agar bibir tidak kecut karena mahalnya harga rokok.

1. Buatlah jadwal merokok, dan komitmen lah

Alternatife pertama ini bisa dijalankan dengan membuat jadwal merokok, misal pagi, siang dan malam, masing-masing satu batang (tentu saja ini bagi yang mampu). Bagi yang dompetnya tipis bisa membuat batasan hisap per batang, satu batang dibagi tiga bagian dengan memberi garis dan diberi tulisan pagi, siang dan malam. Pertama menjalankan memang berat, tapi yakinlah setelah satu bulan pasti akan lebih berat,hahaha

Baca Juga  PESEPEDA & MITOS KAUM BORJUIS BARU

 

2. Rokok elektrik

Rokok elektrik mungkin sudah banyak di kenal di masyarakat Indonesia karena banyak kalangan yang sudah menggunakan, terutama anak muda. Selain mudah dan bisa diisi berbagi rasa, asapnya juga lebih banyak. Sebagai anak muda, mungkin nongkrong dengan pakaian keren ditambah megang rokok elektirk diiringi asap yang kemebul ini akan menambah indeks kekerenan kumulatif si perokok. Tetapi rokok ini tentu kurang menyeluruh karena petani di desa yang lebih menikmati racikan papir cap intan mas ditambah tembakau, cengkeh 555, dan kemenyan tidak akan merasa “Ayem” dengan menghisap rokok elektrik rasa cokklat ataupun vanilla. Dengan rokok elektrik ini kenaikan harga rokok tidak akan terasa membuat pening kepala karena harga isi ulang rokok elektrik tidak ikut naik. Jika harga isi ulang rokok elektrik ikut naik, saran saya ganti isi ulangnya dengan sitrun rasa jeruk.

 

3. “Ngemut” Permen

Somad : “Haduh, bibirnya kecut, tak beli rokok dulu ah”.
Mamak: “Ualah maaad mad, kalau kecut ga usah rokok, mending ngemut permen, lebih sehat dan lebih hemat, ngapain juga rokok”
Percakapan seperti itu pasti pernah kalian dengar kan? Intinya disuruh ngemut permen sebagai pengganti rokok. Sebagai nasihat turun temurun dari Mbah moyang kenapa tidak dicoba? Beli ke warung permen satu bungkus berbagai rasa, syukur-syukur ada rasa Nikotin ya? Satu bungkus isi 30 pcs, nah satu hari ngemut 30 permen dijamin ga kecut tuh (Terima kasih Mbah moyang)

 

4. Ngelinting

Dengan tembakau lokal, dibubuhi cengkeh cap 555, dan kemenyan dibungkus dengan papir cap intan mas, racikan rokok hand made ini sudah cukup membuat semangat lagi dan mulut sudah tidak kecut lagi. Tidak percaya? Tanya sama Mbah petani di sawah atau kebun sana. Cara ini cukup hemat dalam menekan biaya pengeluaran konsumsi rokok. Cinta dengan produk Indonesia kan? Nglinting saja pakai tembakau lokal dan di Indonesia banyak pilihannya seperti Srintil Temanggung, tembakau Madura, sampai Tembakau Virginia dari Lombok Timur. Mulut tidak kecut dan sekaligus ikut membangun Indonesia dengan Nglinting tembakau dalam negeri.

Baca Juga  Alasan Masuk Akal Cowok Bertahan, Walaupun Hubungan Tak Menyenangkan

 

5. Minta rokok atau minta ikut menghisap rokok teman

Sebagai masayarat sosial yang sering berinteraksi tentu akan terasa hambar jika obrolan hanya ditemani segelas kopi dan rengginang sisa lebaran. Rokok bisa menjadi teman obrolan menjadi lebio lama dan membuat betah. Nah..manfaatkanlah situasi ini, sering-seringlah ikut nimbrung lalu masuk dipembicaraan dannnn…mintalah rokok. Jika teman dekatmu adalah perokok gris keras, nahh itu malah lebih mudah, tinggal dekati dan langsung aja “Jall ngeneh dab, tak dondon ngemut”. Haha… cara ini lebih baik ga usah dilaksanakan, sayangi dirimu sendiri agar tidak dipermalukan, tapi kalau mau dilaksanakan ya, selamat berusaha

 

6. Minta di Warung, tanpa ijin.

Cara ini sebaiknya jangan dilaksanakan, penjara sudah berjejal dan orang-orang juga lebih trengginas dan bras-bres pada orang jenis ini.

Beberapa cara di atas tentu sudah ada yang melakukan semua, soal apakah bisa mengganti citarasa rokok, Wallahu a’lam. Jika harga rokok jadi naik dan kalian melakukan cara-cara di atas, pengeluaran sepertinya bisa dikurangi, dan kebetulan juga sampai saat ini harga rokok umumnya belum menyentuh harga Rp, 20.000, jadi merokoklah seperti biasa.

PERINGATAN: ROKOK MEMBUNUHMU, TETAPI MENGAYAKAN NEGARAMU!! HAHAHA

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here