Ayam Pansoh, Menu Adat Suku Dayak

0
316

REVIENSMEDIA.COM, KABUPATEN SANGGAU – Sabtu pagi, saya dijemput oleh seorang Sahabat dari Komunitas SALAM di daerah Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, Rahmat panggilan akrabnya. Kala itu saya beserta rombongan ingin memberikan sedikit donasi yang telah terkumpul untuk disalurkan ke SDN 24 Masa Selangai, Kabupaten Sanggau. Bang Rahmat, Bang Cing dan Bang Nuzul inilah yang membantu kami untuk pendampingan barang yang akan didonasikan ke siswa-siswi SDN tersebut. Sebelum dalam perjalanan ke tempat tujuan, Bang Rahmat membisikan sedikit pesan atau bahkan sebuah saran.

“Bang, sepertinya warga Dusun Masa Selangai nggak bisa ninggalin kebiasaan Adatnya.”

“Maksudnya?”
“Iya, mereka pengen nyediain Pansoh. Tapi, saya rasa mereka nggak sempat beli ayam nya. Lebih baik kita beli dari sini, beberapa potong saja yang penting secukupnya buat kawan-kawan kita saja.”

Sayapun mengiyakan ajakan Bang Rahmat membeli sepotong Ayam di Pasar Balai Karangan, karena menurut saya, adat tidak bisa dipermainkan, kita sebaiknya lebih bisa menghargai Adat kebiasaan suatu warga masyarakat karena bukan semata-mata karena ritual, tapi bagaimana adab untuk menyambut tamu, dengan dasar itulah kita bisa saling menghormati antar sesama manusia.

Oke, Akhirnya saya tiba di Pasar Balai Karangan, seperti halnya kaum lelaki pada umumnya, saya dan Bang Rahmat tak bisa memilih ayam mana yang segar dan tidak, pokoknya kami beli satu kilo an lebih dikit, dihargai dengan Rp. 45.000,- jenis ayam putih atau ayam potong,

Baca Juga  Citarasa Olahan Ikan Wader

“Bang, dipotong Pansoh ya.”

Begitulah kira-kira Bang Rahmat berpesan pada penjual daging ayam potong, saya cuma bisa memandang ayam utuh itu dibagi dalam beberapa potongan oleh sang penjagal dengan pisau atau kurang lebih goloknya.

Setelah membeli daging ayam kami mencari bumbu-bumbu yang akan digunakan untuk meracik Pansoh, diantaranya ada 1 (satu) Daun Sereh, 3 (tiga) Kunyit, beberapa helai daun kedondong, 1 (satu) ons cabe rawit, 5 (lima) siung bawang putih, 3 (tiga) suing bawang merah dan bumbu racik instan. Dan kitapun melenggang ke Dusun Masa Selangai dengan membawa bahan-bahan yang akan dibuat Pansoh.

image

“Seingat saya, Pansoh itu seperti Lemang ya?” tanyaku
“Betul, lalu?”

“Berarti kita butuh bambu dong? Lalu bambunya bagaimana?”

“Nanti disediakan warga Bang.” Ujar Bang Rahmat, dan akupun tenang.

Kedatangan kami disambut dengan keramah tamahan mereka, disebuah bangunan Sekolah Dasar terbuat dari kayu dengan hanya 3 (tiga) ruang kelas didalamnya, memaksa mereka bergantian menggunakan ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan kegiatan pemberian donasi berjalan dengan rapi, saya tertarik dengan keberadaan Pansoh yang sedang dalam proses peracikan dan penyatuan bumbu dengan potongan daging ayam, kecekatan tangan para warga Dusun Masa Selangai dalam membuat Pansoh sangat memukau, bahan yang saya dan Bang Rahmat beli tadi pagi di pasar ditumbuknya hingga halus, padahal mereka semua laki-laki.

Baca Juga  Pisang Epe, Kuliner di Tepian Losari

Salah satu dari warga dusun membawa dua potong bambu, pria tersebut tak lain adalah Kepala Dusun berukuran panjang kira-kira hampir mencapai satu meter, dari kedua potongan bambu tersebut dimasukkan bahan-bahan yang telah disatukan, tuang air secukupnya lalu ujung bambu ditutup dengan daun pisang. Disisi lain beberapa warga membuat tungku tradisional berupa potongan kayu bakar yang ditumpuk sedemikian rupa menjadi susunan segitiga lalu dibakar. Tak hanya Pansoh warga juga menanak nasi satu kuali tepat disebelah tungku Pansoh.

image

Sambil menunggu Pansoh dan nasi matang, sekitar setengah jam atau 30 menit, kita mulai mengobrol panjang lebar mulai dari keadaan sekolah, pendidikan, suasana dusun yang tanpa listrik dan hanya mengandalkan lampu solar sell sampai masalah kesenjangan warga perbatasan. Nah model obrolan menunggu Pansoh matang seperti ini disebut dengan Mansoh.

Keakraban mulai terjalin, dalam Mansoh saya sebagai warga pendatang atau tamu disambut dengan sangat baik disini. Saat menikmati santapan Ayam Pansoh tak ada batasan antara saya, dia dan mereka tapi sekarang menyebutnya dengan kata kita. Ya, kita warga Negara Indonesia yang bertahan hidup di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia

Comments

SHARE
Previous article11 Alasan Purworejo disebut Pesonanya Indonesia
Next articleCitarasa Makanan yang Bernama Klemet
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here